Jembrana, Barta1.com — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan peluncuran Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. Acara tersebut diisi dengan pelaksanaan groundbreaking proyek akselerator energi baru terbarukan (EBT) nasional.
Pelaksanaan tahap awal program ini mencakup 14 proyek PLTS berkapasitas total 5.300 megawatt peak (MWp) di pelbagai kawasan Indonesia. Pengadaan infrastruktur energi bersih ini menjadi langkah implementasi agenda Asta Cita pemerintah untuk mewujudkan swasembada energi dan hilirisasi nasional.
Kepala Negara menyatakan pengembangan energi surya menjadi langkah strategis demi menjamin kemandirian energi nasional. Pemanfaatan potensi energi terbarukan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan daya dalam negeri dari sumber daya domestik sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dalam fase awal ini, Pemerintah meresmikan proyek PLTS Gilimanuk sebagai pusat peluncuran program nasional. Selain di Bali, infrastruktur PLTS Pulau Rengit di Provinsi Bangka Belitung tercatat telah rampung dikerjakan dan memulai masa operasionalnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pengembangan PLTS 100 GWp merupakan arahan langsung Presiden untuk mencapai kedaulatan energi. Pemerintah memanfaatkan potensi alam melalui beragam skenario instalasi, mulai dari skala besar, sistem terapung, model atap, hingga kawasan industri.
Skema pengembangan program mencakup delapan fokus utama, termasuk eliminasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 12,48 GWp. Pemerintah juga menetapkan target PLTS skala besar dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 30,97 GWp.
Skenario lainnya meliputi pembangunan PLTS terapung sebesar 10,72 GWp, PLTS atap 9,35 GWp, dan fasilitas PLTS kawasan 3T sebesar 0,50 GWp. Program ini melingkupi instalasi off-grid sebesar 4,36 GWp, lokasi nonatap kawasan industri 7,49 GWp, serta penciptaan permintaan melalui hilirisasi dan kendaraan listrik sebesar 24,13 GWp.
Dari sisi lingkungan, operasional penuh dari seluruh skenario tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon sebesar 140 juta ton CO2 per tahun. Penurunan emisi ini mencatatkan potensi nilai ekonomi karbon mencapai Rp6,31 triliun.
Pengembangan proyek energi surya ini mendatangkan manfaat ketenagakerjaan bagi masyarakat. Program ini berpotensi membuka 5,5 juta lapangan kerja, yang terbagi atas 3,465 juta tenaga kerja konstruksi dan 2,053 juta tenaga kerja sektor manufaktur.
Nilai investasi total untuk keseluruhan proyek EBT ini diperkirakan mencapai 71,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun. Realisasi program ini diproyeksikan menghasilkan efisiensi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) senilai Rp73,9 triliun per tahun.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan kesiapan jajarannya untuk mendukung penuh program swasembada energi pemerintah. PLN berkomitmen mengintegrasikan pasokan energi surya ke dalam sistem kelistrikan nasional secara aman, andal, dan berkelanjutan.
Manajemen PLN menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah dan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Pelaksanaan Program PLTS 100 GWp membutuhkan kerja sama antara pemerintah, PLN, pelaku usaha, industri, hingga elemen masyarakat.
Khusus wilayah Bali, PLN bersama Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan pembangunan 5 Klaster PLTS berkapasitas total 1.000 MWp. Proyek ini dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 3.300 MWh, termasuk alokasi 300 MWp di Klaster Gilimanuk.
Transformasi energi surya ini dirancang sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan sarana pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Infrastruktur listrik bersih diharapkan dapat mendukung penciptaan lapangan kerja serta program pengentasan kemiskinan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post