Bolmong, Barta1.com – Desa Mengkang, merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Lolayan. Dikenal sebagai desa terpencil di Kabupaten Bolaang Mongondow Induk.
Dan siapa sangka desa ini menyimpan banyak keindahan alam, dan memiliki ragam adat dan budaya yang masih terjaga, sehingga sering dikunjungi tamu mancanegara.
Memiliki penduduk yang hanya 50 kepala keluarga, dengan seorang kepala desa atau disebut Sangadi yang pernah diundang ke Istana Negara pada tahun 2012. Kader konservasi alam adalah predikat yang disandang Sangadi tersebut sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dulu memanggil beliau untuk hadir di Istana Negara.
Desa ini menjadi penting karena letaknya berada di tengah-tengah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Taman Nasional yang berada di dua provinsi tersebut, yakni Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki luas wilayah 287.115 hektar, dengan 62,32% berada di wilayah Bolaang Mongondow. Desa Mengkang dapat diakses dari Manado dengan berkendara lebih kurang 4 jam.
Selain itu, desa ini juga dikenal sebagai Desa Adat Monibi karena memang budaya dan adat suku Mongondow masih sangat kental di sini. Hal itu ditandai dengan adanya bangunan berupa rumah adat khas Mongondow yang dijadikan museum untuk menyimpan ratusan alat-alat kuno, adat dan budaya Bolaang Mongondow.
Monibi sendiri berasal dari bahasa Mongondow Tua yang berarti pengobatan. Kebetulan sewaktu kunjungan Barta1.com, bersama perwakilan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Manado April lalu di Desa Mengkang sudah selesai melakukan ritual adat Monibi.
Ritual adat Monibi ini biasanya dilaksanakan pada awal tahun. Dalam ritual itu sendiri masyarakat akan berkumpul di rumah Sangadi dengan dipimpin pemuka adat yang akan memanjatkan doa kepada pencipta agar terhindar dari segala macam penyakit dan hama tanaman yang mengganggu hasil panen warga.
Acara adat itu biasanya diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut lengkap dengan sajian kuliner khas Mongondow.
Kunjungan BPNB ke Desa Mengkang ini merupakan kali kedua guna menginventarisasi atau mendokumentasikan data Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari kebudayaan Bolaang Mongondow yang hasilnya akan disusun menjadi database.
“Database ini juga menjadi materi di tingkat pusat dan secara bertahap akan diajukan untuk mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia,” kata Rahman Mantu, peneliti mitra BPNB, kala itu.
Tak hanya itu, Desa Mengkang menyimpan objek destinasi bagi wisatawan pecinta alam sekaligus pecinta tantangan trekking. Sebab, ada objek wisata air terjun yang terdiri dari 5 tingkat yang harus ditempuh lewat jalan kaki sejauh 6 KM. Waktu yang tepat untuk trekking biasanya pada pukul 5 pagi, mengingat saat itu wisatawan dapat menikmati kabut yang tersisa dari semalam serta akan disuguhkan keanekaragaman hayati yang hanya ada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini.
Desa ini juga rupanya cukup sering dikunjungi tamu-tamu mancanegara. Tercatat 20 wisatawan asing, dari Amerika, Australia, dan Rusia pernah berkunjung ke Kampung Adat Monibi ini.
Rahman Mantu yang juga dosen tak henti-hentinya kagum akan desa tersebut. “Desa Mengkang juga dikenal sebagai desa mandiri energi, karena kearifan penduduknya yang memanfaatkan kelimpahan air menjadi sumber pembangkit listrik. Sehingga mereka tak tergantung sama sekali pada pasokan listrik dari PLN,” katanya.
Juga merupakan desa percontohan bagi kecamatan-kecamatan lain, walaupun Desa Mengkang ini desa terpencil namun telah menasional bahkan dikenal sampai dunia internasional. “Kami sangat senang karena ternyata di desa terpencil seperti ini sudah sangat mandiri dan kreatif masyarakatnya. Di samping tetap terus menjaga nilai-nilai budaya lokal yang merupakan warisan dari para leluhur yang ada,” kata Maman.
Pada 2 Februari 2012 lalu, melalui Sangadi Marsidi Kadengkang, desa ini mendapat penghargaan CIDA Award di Hotel Aryaduta Makassar. Penghargaan ini diberikan langsung Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Mackenzie Clugston. Penghargaan diberikan karena pemerintah Desa Mengkang berhasil mengelola sumber daya alam dan pemanfaatan energi air dengan kincir air.
Meski memiliki seabrek prestasi, ternyata Desa Mengkang juga menyimpan kisah pilu. Dimana tahun 2018 lalu pada ajang pameran di Manado, desa ini turut ambil bagian lewat pemerintah Kabupaten Bolmong yang meminjam hampir seluruh koleksi benda peninggalan yang tersimpan di museum untuk dipamerkan pada acara tersebut.
Namun pada saat pengembalian ke museum ditemukan koleksi benda yang rusak bahkan hilang dikarenakan kelalaian dari pihak pemerintah dalam menjaga benda-benda tersebut.
Lam Makalalag, Sangadi pengganti Marsidi Kadengkang juga menyesali kejadian tersebut. “Sangat disayangkan karena ada beberapa koleksi saat pengembalian sudah tidak seperti sediakala mereka membawanya,” tuturnya.
Penulis : Rifai Tongkasi




Discussion about this post