Oleh: Iverdixon Tinungki
“Ijinkan aku merindukan-Mu
Karena hanya dalam
dekapan-Mu aku rasakan kehangatan
Hanya dalam genggaman-Mu aku temukan kekuatan
Hanya dalam cahaya-Mu aku melihat harapan
hanya dalam hadirat-Mu aku menari dalam kemenangan” –Ijinkan Aku Merindukanmu—Donald Toloh.
Membaca puisi “Ijinkan Aku MerindukanMu” karya Donald Toloh, menghanyutkan saya pada sebuah refleksi teologis yang sublim dan adem. Saya dihelanya ke ruang gumul dari apa yang disebut Erich Fromm sebagai ‘revolusi Pengharapan’.
Dalam buku yang judul aslinya: “The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology”, sekilas pintas kita dijumpakan pada sebuah realitas kehidupan modern nan sumpek dan sesak di mana manusia masa kini terperosok dalam keadaan termesinkan ketika menghadapi urusan tuntutan kebutuhan hidup. Dan karenanya, kata Fromm, menusia terjebak dalam putus asa, kesepian, rasa letih yang amat sangat.
Di sanalah, iman, harapan dan kasih menjadi tesis pilihan untuk melawan keresahan besar dari apa yang disebut sebagai gempuran era mega machine itu.
Lewat puisinya, Donald Toloh menghadirkan semacam Ignatian Spirituality (Dimensi Spiritualitas) dengan upaya menghadirkan Tuhan dalam keseharian.
Puisi “Ijinkan Aku Merindukanmu” karya Donald Toloh adalah skesa religiusitas Kristiani yang mengekspresikan hubungan mendalam antara manusia dan Tuhan, berfokus pada penghayatan iman, pengabdian, dan pengalaman spiritual.
Sebagai sebuah karya sastra religius, puisi “Ijinkan Aku Merindukanmu” bagi saya, tidak hanya bernilai estetis, namun juga mendaraskan seutuhnya harapan hanya kepada Tuhan. Puisi ini mengajak pembaca untuk menghayati hidup melampaui hal-hal lahiriah.
Sebagaimana umumnya puisi bertema Kristiani, “Ijinkan Aku Merindukanmu” menjadi bentuk doa atau kontemplasi yang menggambarkan ketaatan, rasa takut akan Tuhan, serta syukur atas ciptaan-Nya.
Melalui struktur batin puisinya, penyair Donald Toloh mengomunikasikan nilai-nilai iman secara intens, yang memungkinkan pembaca menyelami aspek-aspek terdalam dari pengalaman keagamaan Kristiani.
Secara denotatif, puisi ini menggambarkan permohonan seorang subjek (“Aku”) untuk merasakan kerinduan. Namun, secara konotatif, kerinduan di sini bukanlah sekadar emosi romantis, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial.
Puisi ini adalah penanda bagi kondisi keterpurukan atau krisis spiritual. Ketiadaan batas fisik (atap/pintu) dalam sebuah “penjara” menandakan keterasingan yang tak berujung—sebuah ruang hampa yang memutus koneksi horizontal dan vertikal.
Penggunaan huruf kapital pada “Mu” secara semiotis menunjuk pada entitas Transenden (Tuhan). Maka, “rindu” di sini adalah tanda bagi pertobatan atau pencarian perlindungan ilahi.
Puisi ini sangat kaya akan penggunaan ikon dan indeks untuk memperkuat makna kerinduan tersebut. Penyair menggunakan serangkaian metafora alam sebagai ikon untuk menggambarkan sifat alami dari sebuah kerinduan.
Ombak dan bibir pantai, melambangkan gerak yang terus-menerus dan tak terhindarkan. Nelayan tua dan pagi, menggambarkan harapan akan keberlangsungan hidup dan sumber rezeki. Kumbang dan kembang adalah ikon bagi simbiosis mutualisme yang bersifat kodrati.
Tanah gersang rindu hujan, adalah indeks dari kekurangan spiritual, sehingga “hujan” menjadi tanda bagi rahmat atau kesuburan jiwa. Musafir rindu mata air, menandakan perjalanan hidup yang melelahkan di mana subjek membutuhkan “mata air” (sumber hidup/iman) agar tidak binasa.
Lewat puisi ini saya menemukan semacam struktur simbolis dan oposisi biner yang menghadirkan pertentangan dua kutub emosi yang tajam yaitu gelap yang merupakan kodisi hidup manusia yang lemah, dan terang merupakan kekuatan pengharapan dalam perlindungan Tuhan.
Secara Sintagmatik puisi karya Donald Toloh ini bergerak dari kegelapan (bait 1-2) menuju analogi keinginan (bait 3-4), dan berpuncak pada penemuan solusi di dalam hadirat Ilahi (bait 5).
Secara semiotis, pengulangan kalimat “Ijinkan aku merindukan-Mu” merupakan sebuah tanda kerendahhatian. Subjek merasa begitu berdosa atau “hina” (terjebak dalam kekelaman) sehingga untuk merindu pun ia merasa perlu “ijin”. Ini menunjukkan jarak ontologis yang jauh antara manusia dan Sang Pencipta, yang hanya bisa dijembatani melalui perasaan rindu yang tulus.
Melalui kacamata semiotika, puisi ini adalah sistem tanda yang mengonstruksi perjalanan jiwa dari titik nadir (kekelaman) menuju titik puncak kesadaran (kemenangan).
Kerinduan diposisikan bukan sebagai beban, melainkan sebagai satu-satunya alat navigasi bagi manusia untuk keluar dari penjara kehampaan.(*)
INJINKAN AKU MERINDUKAN-MU
Dari lorong kekelaman
tempat segala kekalutan dan kegelisahan bersanding
Ijinkan aku merindukan-Mu
Aku tak berdaya pada awan gelap yang menyelimuti aku
Sungguh aku tak berdaya pada tangan-tangan yang menghimpit aku
Oh sungguh aku tak berdaya
Aku terpenjara dalam kehampaan tanpa pintu
tanpa jendela
tanpa atap
Aku tak bisa menatap langit-Mu
Ijinkan aku merindukan-Mu
Seperti ombak sepi merindukan bibir pantai
Seperti nelayan tua merindukan pagi
Ijinkan aku merindukan-Mu
Seperti kumbang terbang merindukan kembang
Seperti pujangga muda merindukan kata
Tanah gersang selalu rindu hujan
musafir selalu rindu mata air
perempuan selalu rindu kekasih
Dan bumi selalu rindu matahari
Ijinkan aku merindukan-Mu
Karena hanya dalam
dekapan-Mu aku rasakan kehangatan
Hanya dalam genggaman-Mu aku temukan kekuatan
Hanya dalam cahaya-Mu aku melihat harapan
hanya dalam hadirat-Mu aku menari dalam kemenangan
Ijinkan aku merindukan-Mu
(Donald Toloh, Columbus Ohio Amerika Serikat, 11 Januari 2026)
Barta1.Com

Discussion about this post