Sangihe, Barta1.com – Di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina, suara tawa anak-anak kembali terdengar di sela deretan tenda pengungsian. Siang itu, Kamis, (11/6/2026), suasana di Kecamatan Kepulauan Marore tak lagi sepenuhnya dipenuhi kecemasan akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe beberapa hari sebelumnya.
Anak-anak yang selama beberapa hari hidup dalam ketidakpastian tampak berlarian, tertawa, dan mengikuti berbagai permainan. Di tengah lokasi pengungsian, mereka membentuk lingkaran, mengikuti instruksi permainan sederhana yang dipandu tim kreatif Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sesekali gelak tawa pecah, memecah suasana yang sebelumnya diliputi trauma dan kekhawatiran.
Momen itu terjadi saat Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengunjungi wilayah terdampak gempa di Kepulauan Marore. Kunjungan tersebut bukan hanya untuk menyalurkan bantuan logistik, tetapi juga memastikan kondisi psikologis warga, terutama anak-anak yang masih bertahan di pengungsian.
Michael tampak membaur dengan warga. Ia mendengarkan cerita para pengungsi, menyapa satu per satu masyarakat yang ditemuinya, dan ikut berinteraksi dengan anak-anak dalam berbagai permainan. Kehadiran pemerintah daerah di tengah pengungsian memberi pesan sederhana bahwa masyarakat tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.
Bagi anak-anak, permainan menjadi ruang sementara untuk melupakan ketakutan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah permainan dengan iringan gerakan viral “Kicau Mania”. Anak-anak mengikuti setiap gerakan dengan antusias. Tawa mereka bersahut-sahutan, bahkan mengundang orang tua dan aparat yang hadir untuk ikut bergabung.
Di sudut lain lokasi pengungsian, sejumlah warga dewasa tampak tersenyum menyaksikan anak-anak mereka kembali ceria. Setelah berhari-hari dihantui gempa susulan dan kekhawatiran terhadap kondisi rumah yang rusak, pemandangan itu menjadi penghiburan tersendiri.
Michael mengatakan pemerintah daerah akan terus mendampingi masyarakat selama masa pemulihan pascabencana berlangsung. Menurut dia, pemulihan tidak hanya menyangkut kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan bantuan logistik, tetapi juga kesehatan mental warga yang terdampak.
“Kami berharap kehadiran kami bersama Wakil Bupati dan Forkopimda dapat memberikan kekuatan serta semangat bagi masyarakat yang terdampak. Kami ingin memastikan pemerintah selalu hadir bersama rakyat, terutama saat menghadapi situasi sulit seperti ini,” kata Michael.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Sangihe, Veronika Maya Budiman, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang untuk menghadirkan suasana yang lebih ringan bagi masyarakat di pengungsian. Menurut dia, dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Tak hanya anak-anak yang terlibat. Sejumlah orang dewasa ikut larut dalam suasana. Bahkan para pimpinan daerah, termasuk unsur TNI dan Polri yang hadir, turut berpartisipasi dalam permainan bersama warga.
Di tengah keterbatasan yang masih dirasakan masyarakat Marore, tawa anak-anak siang itu menjadi penanda bahwa proses pemulihan sedang berjalan. Trauma memang belum sepenuhnya hilang. Namun, dari pulau perbatasan Indonesia-Filipina itu, harapan mulai tumbuh kembali, perlahan-lahan, bersama suara tawa yang kembali terdengar.
Peliput: Rendy Saselah

Discussion about this post