Manado, Barta1.com — Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Utara (Sulut) , Febry H. J. Dien, menjelaskan bahwa pemerintah telah menganggarkan sekitar Rp12 triliun untuk program revitalisasi sekolah di berbagai daerah di Indonesia.
“Saya mendengar langsung dari Bapak Dirjen tadi pagi, penganggaran untuk revitalisasi mencapai Rp12 triliun. Namun, dari total anggaran tersebut, sekitar Rp2,5 triliun telah digunakan untuk daerah terdampak bencana seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Program itu bahkan sudah berjalan hingga tahap kedua. Saat ini, beberapa rekan kami di tiga provinsi juga diminta langsung oleh Bapak Dirjen untuk memonitor finalisasi program tersebut,” ungkap Febry sat ditemui awak media di BPMP Sulut, Selasa (12/05/2026).
Sementara itu, revitalisasi sekolah secara umum dijadwalkan mulai berjalan dalam dua bulan ke depan.
“Program revitalisasi yang sering didengar masyarakat akan mulai dijalankan pada Juli ini. Saat ini kami terus mengawal proses tersebut. Program revitalisasi sekolah dikawal langsung oleh BPMP di 34 provinsi, karena anggaran ini berada dalam tanggung jawab direktorat kami,” terangnya.
Menurut Febry, media memiliki peran penting sebagai bagian dari pilar pendidikan. Karena itu, pihaknya akan melibatkan media dalam proses monitoring dan evaluasi program revitalisasi sekolah.
“Revitalisasi ini akan berlangsung hingga 31 Desember 2026. Di Sulut sendiri, tahun lalu terdapat 197 sekolah yang direvitalisasi. Jika digabung dengan SMK dan pendidikan kesetaraan, totalnya mencapai 256 sekolah pada tahun 2025,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 dari seluruh 15 kabupaten/kota di Sulut telah masuk dalam tahap pengusulan revitalisasi sekolah.
“Tahun ini kami mengusulkan sebanyak 1.255 sekolah untuk direvitalisasi. Ini masih tahap usulan. Jika tahun lalu hanya 256 sekolah, kami berharap tahun depan bisa mencapai 300 sekolah, bahkan kalau bisa capai 500 sekolah, tentu ini akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Dalam penentuan sekolah penerima program revitalisasi, kata Febry, pemerintah pusat tetap melakukan proses verifikasi secara ketat.
“Penentuan sekolah penerima revitalisasi dilakukan berdasarkan pemetaan dari pusat. Sebelumnya, BPMP melihat data awal, lalu dilakukan verifikasi untuk menentukan sekolah mana yang benar-benar layak maupun tidak. Jadi, BPMP melakukan verifikasi awal bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulut,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa program revitalisasi bukan berarti mengesampingkan peran dinas pendidikan daerah.
“Pembangunan memang dilakukan oleh kementerian, sementara anggarannya diberikan melalui sistem swakelola kepada kepala sekolah. Namun, bukan berarti dinas pendidikan tidak terlibat. Justru dinas pendidikan yang mengusulkan sekolah-sekolah tersebut ke pusat. Jadi, kalau ada yang mengatakan dinas pendidikan tidak mengetahui program ini, itu keliru besar, karena sejak awal mereka terlibat dalam perencanaan, pengumpulan data sekolah, hingga proses verifikasi,” tuturnya.
Menurutnya, sinergi antara Dinas Pendidikan, BPMP, dan media akan membuat pelaksanaan revitalisasi sekolah pada tahun 2026 menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saat ini masih banyak yang meragukan sistem swakelola. Memang benar, tidak semua kepala sekolah memahami proses pembangunan atau pengadaan material. Karena itu, kepala sekolah wajib membentuk P2SP atau Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan. Ketua panitia bisa kepala sekolah sendiri atau melibatkan unsur masyarakat sekitar, orang tua murid pun bisa, salama dia mengetahui hitungan pembangunan yang ada,” tambahnya.
Febry juga mengungkapkan bahwa di beberapa sekolah, nilai anggaran pembangunan bahkan bertambah karena adanya dukungan dari orang tua siswa maupun yayasan.
“Sekali lagi, sistem swakelola ini bukan hal baru. Beberapa tahun lalu kementerian juga pernah menerapkannya. Dari sekitar 250 – an sekolah yang kami dampingi, sebagian besar berhasil menjalankan program dengan baik, dan hanya sedikit yang gagal. Artinya, keraguan terhadap sistem swakelola perlahan mulai terbantahkan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post