Oleh: Iverdixon Tinungki
“Setiap rumah adalah ruang percakapan dari tubuh ke tubuh.
Melihat peristiwa dengan pandangan mata yang tidak pernah utuh.
Di situ ada ibumu.
Bertelut merapalkan mantra dan menangis tanpa air mata”—( Hari ke-4 di rumah, Nurila Lasene).
Saya harus memulai dengan apa yang disebut Charles Sanders Peirce, sebagai “Semiotic of Silence” untuk merasakan keheningan puitik puisi berjudul “Hari ke-4 di rumah” dan juga sebundel puisi karya penyair Nurila Lasene.
Itu, pekan pertama Januari 2026, penyair yang juga aktivis Gusdurian ini memperkenalkan puisi-puisinya kepada saya saat bertandang ke “Beranda Salak”—sebutan untuk rumah saya— dalam sebuah diskusi sastra yang mengasyikan.
Nela, –sapaan akrab penyair kelahiran Kotamobagu, 18 Juni 1998– ini termasuk perempuan yang jarang tersenyum, tapi bukan berarti ia tak pernah riang, meski hari-harinya dikesankannya dalam puisi sebagai semacam kesedihan yang bernyanyi.
Dalam beberapa perjumpaan di Padepokan Puisi Amato Assagaf, tempat ia belajar menulis puisi, di tahun-tahun yang lampau, dugaan sekilas saya ia adalah penyair yang mampu menangis tanpa air mata.
Bisa jadi itu adalah gambaran paling puitis dari dunia verbal perempuan, dan karena itu, lewat visual gestik mimik ini pula ia menjadi pribadi yang menawan.
Puisi-puisinya secara semiotis menggambarkan fragmentasi kenyataan. Penyair ini ingin menyampaikan bahwa di dalam rumah (ruang privat), manusia seringkali menghadapi tragedi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata atau dilihat secara jernih.
Kesedihan “tanpa air mata” dan doa “mantra” menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi yang digantikan oleh ritualitas tubuh. Ada kontras tajam antara keterbatasan indra (mata tak utuh) dengan kedalaman spiritual (mantra dan doa).
Dalam puisi “Hari ke-4 di rumah” kita digiring ke sebuah dunia impresif tentang bagaimana manusia memproses trauma atau peristiwa besar dalam ruang yang sempit, di mana kehadiran fisik menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa.
Puisinya bergerak menjauh dari bahasa verbal menuju bahasa ritual.
Puisi ini menyimpulkan bahwa pada hari ke-4, rumah bukan lagi sekadar bangunan, melainkan sebuah ruang tempat manusia meratapi keterbatasannya dengan cara-cara yang paling sunyi.
—
“Aku memberikan gambar bapak kepada seorang peramal. Dengan matanya dia menuturkan padaku tiga bentuk garis wajah bapak yang mulai berkerut.
Bentuk pertama; pertemuan antara garis takdir dan kesedihan. Dengan itu dia mengumpulkan air mata anak-anak dan diletakkan pada pundaknya.
Bentuk kedua; pertemuan antara garis takdir dan kesunyian. Dengan itu dia menyimpan segala hal, termasuk rahasia yang tidak dia inginkan.
Pada bentuk ketiga peramal itu gemetar. Dia hanya menemukan satu garis. Pada garis itulah aku akan bertemu bapak dengan senyum yang panjang dan kematian yang akan berakhir di atas meja makan.” –( Bapak, Nurila Lasene).
Dalam diskusi dengan saya, Nurila Lasene memandang puisi sebagai mantra. Kata-kata selalu punya ikatan dengan sisi terdalam manusia, dia bisa datang, hadir atau berbisik, semacam wahyu yang diberikan Tuhan kepada para nabi.
Puisi baginya bisa menjelma apa saja, bisa dalam bentuk rasa, ruang, atau dalam bentuk tubuh manusia.
Itu sebabnya, dalam puisi kedua berjudul “Bapak” ini, saya meminjam analisis strukturalisme Ferdinand de Saussure untuk menyelami relasi oposisi dan sintagmatik. Karena puisi pada akhirnya adalah sebuah sistem yang utuh, di mana makna setiap unsur (kata, baris, citraan) ditentukan oleh hubungannya dengan unsur lain dalam struktur tersebut.
Bapak, adalah puisi yang dibangun dengan struktur naratif yang progresif, bergerak dari pengenalan (peramal) menuju tiga tahap pengungkapan tiga garis wajah, dan berakhir pada resolusi pertemuan dan kematian.
Penyerahan “Gambar Bapak” kepada “Peramal”, menujukan bangunan struktur otoritas; kebenaran tentang tokoh Bapak tidak diceritakan oleh “Aku”, melainkan melalui perantara pihak ketiga yang objektif mistis.
Di sana ada inti trinitas garis, saat penyair menggunakan pengulangan struktur (paralelisme) “Bentuk pertama… kedua… ketiga…” dalam menciptakan ritme yang stabil dan menekankan kedalaman karakter Bapak.
Pada epilognya, puisi ini menampilkan resolusi yang kontras, berpindah dari wajah ke meja makan. Lewat strukstur oposisi biner puisi ini mempertemukan gambaran kehidupan versus kematian.
Di situ saya menangkap kesan kematian tidak hadir sebagai akhir yang mengerikan, melainkan bagian dari siklus domestik.
Puisi ini menunjukkan bahwa sosok “Bapak” dalam struktur keluarga adalah sebuah titik temu antara takdir dan penderitaan. Makna kebapakan didefinisikan bukan melalui suara atau kata-katanya, melainkan melalui kerutan wajah yang menjadi teks bagi si peramal.
Kematian bapak bukan sebuah kehilangan, melainkan penyelesaian tugas yang ditutup dengan senyuman dan kebersamaan di meja makan.
Akhirnya bagi saya, membaca puisi-puisi Nurilah Lasene adalah menyelam di kedalaman semiotika kesunyian, tempat di mana kehidupan menemukan maknanya yang indah bahkan mengharukan. (*)
Manado, 25 Januari 2026.
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post