• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Kamis, Juni 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Menyelam di Kedalaman Semiotika Keheningan Dua Puisi Penyair Nurila Lasene

by Iverdixon Tinungki
26 Januari 2026
in Sastra
0
Penyair Nurila Lasene

Penyair Nurila Lasene

0
SHARES
31
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

“Setiap rumah adalah ruang percakapan dari tubuh ke tubuh.
Melihat peristiwa dengan pandangan mata yang tidak pernah utuh.

Di situ ada ibumu.
Bertelut merapalkan mantra dan menangis tanpa air mata”—( Hari ke-4 di rumah, Nurila Lasene).

Saya harus memulai dengan apa yang disebut Charles Sanders Peirce, sebagai “Semiotic of Silence” untuk merasakan keheningan puitik puisi berjudul “Hari ke-4 di rumah” dan juga sebundel puisi karya penyair Nurila Lasene.

Itu, pekan pertama Januari 2026, penyair yang juga aktivis Gusdurian ini memperkenalkan puisi-puisinya kepada saya saat bertandang ke “Beranda Salak”—sebutan untuk rumah saya— dalam sebuah diskusi sastra yang mengasyikan.

Nela, –sapaan akrab penyair kelahiran Kotamobagu, 18 Juni 1998– ini termasuk perempuan yang jarang tersenyum, tapi bukan berarti ia tak pernah riang, meski hari-harinya dikesankannya dalam puisi sebagai semacam kesedihan yang bernyanyi.

Dalam beberapa perjumpaan di Padepokan Puisi Amato Assagaf, tempat ia belajar menulis puisi, di tahun-tahun yang lampau, dugaan sekilas saya ia adalah penyair yang mampu menangis tanpa air mata.

Bisa jadi itu adalah gambaran paling puitis dari dunia verbal perempuan, dan karena itu, lewat visual gestik mimik ini pula ia menjadi pribadi yang menawan.

Puisi-puisinya secara semiotis menggambarkan fragmentasi kenyataan. Penyair ini ingin menyampaikan bahwa di dalam rumah (ruang privat), manusia seringkali menghadapi tragedi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata atau dilihat secara jernih.

Kesedihan “tanpa air mata” dan doa “mantra” menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi yang digantikan oleh ritualitas tubuh. Ada kontras tajam antara keterbatasan indra (mata tak utuh) dengan kedalaman spiritual (mantra dan doa).

Dalam puisi “Hari ke-4 di rumah” kita digiring ke sebuah dunia impresif tentang bagaimana manusia memproses trauma atau peristiwa besar dalam ruang yang sempit, di mana kehadiran fisik menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa.

Puisinya bergerak menjauh dari bahasa verbal menuju bahasa ritual.

Puisi ini menyimpulkan bahwa pada hari ke-4, rumah bukan lagi sekadar bangunan, melainkan sebuah ruang tempat manusia meratapi keterbatasannya dengan cara-cara yang paling sunyi.

—

“Aku memberikan gambar bapak kepada seorang peramal. Dengan matanya dia menuturkan padaku tiga bentuk garis wajah bapak yang mulai berkerut.

Bentuk pertama; pertemuan antara garis takdir dan kesedihan. Dengan itu dia mengumpulkan air mata anak-anak dan diletakkan pada pundaknya.

Bentuk kedua; pertemuan antara garis takdir dan kesunyian. Dengan itu dia menyimpan segala hal, termasuk rahasia yang tidak dia inginkan.

Pada bentuk ketiga peramal itu gemetar. Dia hanya menemukan satu garis. Pada garis itulah aku akan bertemu bapak dengan senyum yang panjang dan kematian yang akan berakhir di atas meja makan.” –( Bapak, Nurila Lasene).

Dalam diskusi dengan saya, Nurila Lasene memandang puisi sebagai mantra. Kata-kata selalu punya ikatan dengan sisi terdalam manusia, dia bisa datang, hadir atau berbisik, semacam wahyu yang diberikan Tuhan kepada para nabi.

Puisi baginya bisa menjelma apa saja, bisa dalam bentuk rasa, ruang, atau dalam bentuk tubuh manusia.

Itu sebabnya, dalam puisi kedua berjudul “Bapak” ini, saya meminjam analisis strukturalisme Ferdinand de Saussure untuk menyelami relasi oposisi dan sintagmatik. Karena puisi pada akhirnya adalah sebuah sistem yang utuh, di mana makna setiap unsur (kata, baris, citraan) ditentukan oleh hubungannya dengan unsur lain dalam struktur tersebut.

Bapak, adalah puisi yang dibangun dengan struktur naratif yang progresif, bergerak dari pengenalan (peramal) menuju tiga tahap pengungkapan tiga garis wajah, dan berakhir pada resolusi pertemuan dan kematian.

Penyerahan “Gambar Bapak” kepada “Peramal”, menujukan bangunan struktur otoritas; kebenaran tentang tokoh Bapak tidak diceritakan oleh “Aku”, melainkan melalui perantara pihak ketiga yang objektif mistis.

Di sana ada inti trinitas garis, saat penyair menggunakan pengulangan struktur (paralelisme) “Bentuk pertama… kedua… ketiga…” dalam menciptakan ritme yang stabil dan menekankan kedalaman karakter Bapak.

Pada epilognya, puisi ini menampilkan resolusi yang kontras, berpindah dari wajah ke meja makan. Lewat strukstur oposisi biner puisi ini mempertemukan gambaran kehidupan versus kematian.

Di situ saya menangkap kesan kematian tidak hadir sebagai akhir yang mengerikan, melainkan bagian dari siklus domestik.

Puisi ini menunjukkan bahwa sosok “Bapak” dalam struktur keluarga adalah sebuah titik temu antara takdir dan penderitaan. Makna kebapakan didefinisikan bukan melalui suara atau kata-katanya, melainkan melalui kerutan wajah yang menjadi teks bagi si peramal.

Kematian bapak bukan sebuah kehilangan, melainkan penyelesaian tugas yang ditutup dengan senyuman dan kebersamaan di meja makan.

Akhirnya bagi saya, membaca puisi-puisi Nurilah Lasene adalah menyelam di kedalaman semiotika kesunyian, tempat di mana kehidupan menemukan maknanya yang indah bahkan mengharukan. (*)

Manado, 25 Januari 2026.
Iverdixon Tinungki

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Green Press Community SIEJ 7 Februari di Minahasa Utara, Menteri KKP dan Gubernur Sulut Bakal Hadir

Green Press Community SIEJ 7 Februari di Minahasa Utara, Menteri KKP dan Gubernur Sulut Bakal Hadir

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Bupati Michael Thungari Promosikan Potensi Sangihe di Penutupan PENAS XVII 25 Juni 2026
  • Listrik Tanpa Kedip Kawal Kunjungan Presiden di PENAS XVII Gorontalo 25 Juni 2026
  • Mengapa Sulawesi Utara Harus Berani Bersuara Stop Perkawinan Anak? 24 Juni 2026
  • Bakar Semangat Pemuda Sinode GMPU, Tatuhas: Jadikan Medsos Sebagai Saluran Berkat 24 Juni 2026
  • Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas Temui Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri 24 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In