• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, Mei 11, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Kecerdasan Emosional: Kunci Mengurangi Stres di Tempat Kerja

by Meikel Eki Pontolondo
7 Juli 2025
in Edukasi
0
Kecerdasan Emosional: Kunci Mengurangi Stres di Tempat Kerja

Emotional intelligence (EI) or emotional quotient (EQ), framework diagram chart infographic banner with icon vector has empathy, motivation, social skills, self regulation and self awareness. Emotion.

0
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Christien A. Karambut

ABSTRAK

Stres kerja merupakan permasalahan global yang memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor. Kecerdasan emosional telah diidentifikasi sebagai faktor protektif yang dapat membantu seseorang mengelola tekanan di tempat kerja. Artikel ini menyajikan kajian pustaka sistematis mengenai hubungan antara kecerdasan emosional dan stres kerja berdasarkan penelitian-penelitian terkini dalam satu dekade terakhir.

Hasil sintesis menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan stres kerja, di mana individu dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung mengalami tingkat stres kerja yang lebih rendah. Mekanisme pengaruh tersebut melibatkan kemampuan regulasi emosi, pengenalan emosi diri dan orang lain, serta keterampilan dalam mengelola hubungan interpersonal. Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya pengembangan program pelatihan kecerdasan emosional di tempat kerja sebagai strategi pencegahan dan penanganan stres kerja.

Kata Kunci: kecerdasan emosional, stres kerja, kesejahteraan pekerja, manajemen emosi, kesehatan mental organisasi

PENDAHULUAN

Dunia kerja modern menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi para pekerja. Tuntutan produktivitas yang tinggi, persaingan yang ketat, serta perubahan teknologi yang cepat telah menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan. Stres kerja telah menjadi fenomena global yang memengaruhi jutaan pekerja di berbagai sektor industri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi stres kerja sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan dan kesejahteraan pekerja di abad ke-21.

Stres kerja yang tidak tertangani dengan baik dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif, baik bagi individu maupun organisasi. Pada tingkat individu, stres kerja dapat menyebabkan kelelahan emosional, burnout, penurunan kesehatan fisik dan mental, serta gangguan keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi. Pada tingkat organisasi, stres kerja berkorelasi dengan penurunan produktivitas, peningkatan ketidakhadiran, tingginya tingkat turnover, dan menurunnya kualitas layanan atau produk yang dihasilkan (1).

Dalam konteks ini, kecerdasan emosional (emotional intelligence) telah muncul sebagai konsep yang menjanjikan dalam upaya memahami dan mengelola stres kerja. Konsep kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan oleh Peter Salovey dan John Mayer pada tahun 1990, kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman melalui bukunya pada tahun 1995. Kecerdasan emosional didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola emosi diri sendiri, serta kemampuan untuk mengenali dan memengaruhi emosi orang lain (2).

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam menentukan keberhasilan seseorang di tempat kerja, tidak hanya dalam hal kinerja tetapi juga dalam mengelola tekanan dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Karyawan dengan kecerdasan emosional yang tinggi dilaporkan lebih mampu mengidentifikasi perasaan frustrasi dan stres, serta lebih efektif dalam meregulasi emosi tersebut untuk mengurangi dampak negatifnya (3).

Artikel ini bertujuan untuk menyajikan kajian pustaka sistematis mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap stres kerja berdasarkan penelitian-penelitian yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir (2015-2025). Melalui sintesis literatur ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai mekanisme hubungan kedua variabel tersebut serta implikasinya bagi praktik manajemen sumber daya manusia.

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan konstruk multidimensional yang telah dikonseptualisasikan dalam beberapa model teoretis. Model yang paling berpengaruh adalah model kemampuan (ability model) dari Mayer dan Salovey, model sifat (trait model) dari Petrides, dan model campuran (mixed model) dari Goleman dan Bar-On. Model kemampuan memandang kecerdasan emosional sebagai kemampuan kognitif dalam memproses informasi emosional, sementara model sifat melihatnya sebagai kecenderungan perilaku dan persepsi diri terhadap kemampuan emosional (4).

Menurut model Bar-On, kecerdasan emosional mencakup lima domain utama: keterampilan intrapersonal, keterampilan interpersonal, kemampuan adaptasi, manajemen stres, dan suasana hati umum. Seseorang dengan kecerdasan emosional tinggi umumnya bersifat optimis, adaptif, realistis, dan efektif dalam menyelesaikan masalah serta menghadapi situasi yang menekan tanpa kehilangan kendali (5).

Konsep Stres Kerja

Stres kerja didefinisikan sebagai respons fisik, mental, dan kimiawi tubuh terhadap peristiwa yang menyebabkan perasaan takut, cemas, bahaya, atau marah. Dalam konteks pekerjaan, stres kerja terjadi ketika tuntutan pekerjaan melebihi kapasitas individu untuk mengatasinya. Menurut Karambut dan Noormijati, stres kerja merupakan suatu perasaan tertekan yang dialami seseorang dalam menghadapi pekerjaannya (6). Stres kerja dapat bersumber dari berbagai faktor, termasuk beban kerja yang berlebihan, ambiguitas peran, konflik interpersonal, kurangnya dukungan sosial, ketidakamanan kerja, dan ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (7).
Teori Conservation of Resources (COR) dari Hobfoll memberikan kerangka teoretis yang relevan untuk memahami hubungan antara kecerdasan emosional dan stres kerja. Menurut teori ini, seseorang berupaya untuk memperoleh, mempertahankan, dan melindungi sumber daya yang bernilai bagi mereka. Ketika sumber daya tersebut terancam atau hilang, seseorang akan mengalami stres. Kecerdasan emosional dapat dipandang sebagai sumber daya personal yang membantu seseorang dalam meregulasi tekanan kerja, sehingga mengurangi kelelahan emosional dan burnout (8).

PEMBAHASAN

Hubungan Negatif antara Kecerdasan Emosional dan Stres Kerja

Meta-analisis yang dilakukan oleh Miao dan rekan pada tahun 2022 terhadap penelitian-penelitian dari tahun 1990 hingga 2020 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan ketiga alirannya (ability, trait, dan mixed) memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan stres kerja. Hasil serupa juga ditemukan dalam berbagai konteks pekerjaan, mulai dari sektor kesehatan hingga sektor korporasi (9).

Penelitian terbaru oleh Alsufyani dan kolega pada tahun 2022 terhadap 391 perawat di Arab Saudi mengonfirmasi hubungan tersebut. Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan positif antara kecerdasan emosional perawat dengan kinerja kerja (β = 0,69, p < 0,001), serta hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan persepsi stres kerja (β = -0,54, p < 0,001). Stres kerja juga berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara kecerdasan emosional dan kinerja kerja (10).

Studi cross-sectional oleh Martinez-Calderon dan kolega pada tahun 2024 terhadap karyawan di Spanyol menggunakan model mediasi serial untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional, iklim kerja, stres kerja, dan kepuasan kerja. Hasilnya menunjukkan bahwa kecerdasan emosional yang lebih tinggi berkaitan dengan iklim kerja yang lebih positif, kepuasan kerja yang lebih tinggi, dan persepsi stres kerja yang lebih rendah. Iklim kerja dan stres kerja memediasi hubungan antara kecerdasan emosional dan kepuasan kerja (11).

Kecerdasan Emosional sebagai Buffer Stres

Tinjauan sistematis oleh Lea dan rekan pada tahun 2019 meneliti fungsi kecerdasan emosional sebagai penyangga (buffer) terhadap efek stres akut. Secara teoretis, ketika menghadapi situasi yang menekan, individu dengan kecerdasan emosional tinggi seharusnya menunjukkan respons yang lebih adaptif dibandingkan individu dengan kecerdasan emosional rendah, seperti berkurangnya reaktivitas (lebih sedikit penurunan suasana hati, lebih sedikit gairah fisiologis) dan pemulihan yang lebih cepat setelah ancaman berlalu (12).

Penelitian oleh Szczygiel dan Mikolajczak tahun 2018 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berfungsi sebagai penyangga efek emosi negatif terhadap burnout pada perawat. Emosi negatif dapat menyebabkan burnout pada perawat dengan kecerdasan emosional rendah, namun perawat dengan kecerdasan emosional tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami burnout meskipun terpapar emosi negatif yang sama (13).

Mekanisme Pengaruh Kecerdasan Emosional

Penelitian oleh Gong dan kolega tahun 2019 menjelaskan mekanisme bagaimana kecerdasan emosional memengaruhi stres kerja dan kinerja melalui modal psikologis (psychological capital). Karyawan dapat mengelola emosi dengan menyesuaikan persepsi mereka terhadap lingkungan kerja dan stimulus emosional dari lingkungan; mereka dapat mencapai apa yang ingin dicapai dengan memperkuat, melemahkan, memperpanjang, atau memperpendek pengalaman emosional tertentu. Semua ini secara efektif dapat mengurangi rasa kelelahan karyawan di tempat kerja (14).

Studi lain oleh Choi dan rekan tahun 2019 terhadap karyawan garis depan hotel menemukan bahwa pemahaman mengenai kecerdasan emosional, kerja emosional (emotional labor), stres kerja, strategi coping, dan burnout saling berkaitan. Karyawan dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu menerapkan strategi pengelolaan emosi yang sesuai dengan status emosional mereka melalui deep acting, yang memungkinkan mereka mengatasi tekanan kerja dengan lebih efektif (15).

Temuan dalam Konteks Indonesia

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hasil yang konsisten. Selain penelitian Karambut dkk yang telah disebutkan sebelumnya, studi oleh Khoirurrahman dkk tahun 2023 menemukan pengaruh negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan stres kerja pada karyawan perusahaan. Pengaruh kecerdasan emosional terhadap stres kerja juga dimediasi oleh dukungan sosial, menunjukkan bahwa individu dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu membangun dan memanfaatkan jaringan dukungan sosial untuk mengatasi tekanan kerja (18).

Penelitian lain di Bali oleh Pucangan dan Indrawati tahun 2020 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan stres kerja secara bersama-sama berkontribusi efektif sebesar 72,8% terhadap motivasi kerja pada perempuan pekerja (19). Temuan-temuan dari konteks Indonesia ini memperkuat bukti empiris bahwa hubungan negatif antara kecerdasan emosional dan stres kerja bersifat universal dan dapat ditemukan di berbagai budaya dan konteks organisasi.

IMPLIKASI PRAKTIS

Hasil penelitian dari berbagai penelitian yang dikaji memiliki implikasi penting bagi praktik manajemen sumber daya manusia. Pertama, organisasi perlu mempertimbangkan kecerdasan emosional sebagai salah satu kriteria dalam proses rekrutmen dan seleksi, khususnya untuk posisi-posisi yang memiliki tuntutan emosional tinggi seperti di sektor kesehatan, pelayanan pelanggan, dan pendidikan.
Kedua, pengembangan program pelatihan kecerdasan emosional dapat menjadi strategi yang efektif dalam mencegah dan menangani stres kerja. Karena kecerdasan emosional merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan melalui program pelatihan, integrasi program tersebut baik di tingkat pendidikan formal maupun dalam program pengembangan profesional di tempat kerja sangat direkomendasikan (17).

Ketiga, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung sangat penting dalam mengoptimalkan peran kecerdasan emosional. Dukungan dari supervisor, penghargaan, dan umpan balik positif, khususnya bagi karyawan dengan kecenderungan yang lebih rendah dalam mengelola stres, akan meningkatkan kecerdasan emosional, efikasi diri, dan kinerja kerja. Pertimbangan kesejahteraan seperti mengalokasikan waktu istirahat bagi staf selama bekerja, menentukan hari rekreasi khusus untuk staf dan keluarga mereka, serta menyediakan dukungan psikologis dapat menciptakan motivasi dan kepuasan kerja (20).
Keempat, sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian Karambut dkk, perhatian terhadap kepuasan kerja sebagai variabel mediasi juga penting. Organisasi perlu memastikan bahwa selain mengembangkan kecerdasan emosional karyawan, mereka juga menciptakan kondisi yang mendukung kepuasan kerja, karena hal ini akan berdampak positif pada komitmen organisasional dan secara tidak langsung menurunkan dampak negatif stres kerja (6).

KESIMPULAN

Kajian pustaka ini mengonfirmasi bahwa kecerdasan emosional memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan stres kerja. seseorang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosi mereka sendiri serta emosi orang lain, yang pada gilirannya membantu mereka dalam menghadapi tekanan dan tantangan di tempat kerja dengan lebih efektif. Kecerdasan emosional berfungsi sebagai faktor protektif atau penyangga yang dapat mengurangi dampak negatif dari stressor di lingkungan kerja.

Mekanisme pengaruh kecerdasan emosional terhadap stres kerja melibatkan beberapa jalur, termasuk kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, strategi coping yang lebih adaptif, kemampuan membangun hubungan sosial yang mendukung, dan kapasitas untuk mempertahankan perspektif positif dalam menghadapi kesulitan. Penelitian Karambut dkk juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja berperan sebagai mediator penting dalam hubungan antara kecerdasan emosional dan berbagai outcome organisasional. Pemahaman akan mekanisme ini penting bagi pengembangan intervensi yang efektif dalam mengelola stres kerja.

Mengingat kecerdasan emosional merupakan keterampilan yang dapat dikembangkan, investasi dalam program pelatihan kecerdasan emosional di tempat kerja dapat menjadi strategi yang berharga untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan efektivitas organisasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi efektivitas berbagai jenis intervensi pelatihan kecerdasan emosional serta faktor-faktor kontekstual yang dapat memoderasi hubungan antara kecerdasan emosional dan stres kerja.

Acknowledgement
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Politeknik Negeri Manado sebagai institusi tempat penulis mengabdi atas dukungan yang telah diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Miao C, Humphrey RH, Qian S. A Meta-Analysis of Emotional Intelligence and Work Attitudes. Journal of Occupational and Organizational Psychology. 2017;90(2):177-202. https://doi.org/10.1111/joop.12167
2. Salovey P, Mayer JD. Emotional intelligence. Imagin Cogn Pers. 1990;9(3):185-211.
3. Sy T, Tram S, O’Hara LA. Relation of Employee and Manager Emotional Intelligence to Job Satisfaction and Performance. Journal of Vocational Behavior. 2006;68(3):461-473. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2005.10.003
4. Fernández-Abascal EG, Martín-Díaz MD. Fernández-Abascal EG, Martín-Díaz MD. Emotional Intelligence Measures: A Systematic Review. Frontiers in psychology. 2015; 6:137 https://doi.org/10.3389/fpsyg.2015.00317
5. Suleman Q, Syed MA, Mahmood Z, Hussain I. Correlating Emotional Intelligence with Job Satisfaction: Evidence from A Cross-Sectional Study Among Secondary School Heads in Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Frontiers in psychology. 2020; 11:240. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00240
6. Karambut CA, Eka Afnan T, Noormijati. Analisis pengaruh kecerdasan emosional, stres kerja dan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional (studi pada perawat unit rawat inap RS Panti Waluya Malang). Jurnal Aplikasi Management. 2012;10(3):655-668.
7. Karimi L, Leggat SG, Donohue L, Farrell G, Couper GE. Emotional Rescue: The Role of Emotional Intelligence and Emotional Labour on Well-Being and Job-Stress among Community Nurses. Journal of advanced nursing. 2014;70(1):176-186. https://doi.org/10.1111/jan.12185
8. Hobfoll SE, Shirom A. Conservation of Resources Theory: Applications to Stress and Management in the Workplace. in: Golembiewski RT, Editor. Handbook of Organizational Behavior. New York: Marcel Dekker; 2001. p. 57-80.
9. Doǧru Ç, A Meta-Analysis of the Relationships Between Emotional Intelligence and Employee Outcomes. Frontiers in Psychology. 2022; 13;(1)611348. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.611348
10. Alsufyani AM, Aboshaiqah AE, Alshehri FA, Alsufyani YM. Impact of Emotional Intelligence on Work Performance: The Mediating Role of Occupational Stress Among Nurses. Journal of Nursing Scholarship. 2022;54(6):738-749. https://doi.org/10.1111/jnu.12790
11. Castilo-Lopez AG, Domiguez MP. Employees’ Emotional Intelligence and Job Satisfaction: The Mediating Role of Work Climate and Job Stress. Administrative Sciences. 2024;14(9):1-11. https://doi.org/10.3390/admsci14090205
12. Lea RG, Davis SK, Mahoney B, Qualter P. Does Emotional Intelligence Buffer the Effects of Acute Stress? A Systematic Review. Frontiers in Psychology. 2019; 10:810. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00810
13. Szczygiel DD, Mikolajczak M. Emotional Intelligence Buffers the Effects of Negative Emotions on Job Burnout in Nursing.
14. Gong Z, Chen Y, Wang Y. The influence of Emotional Intelligence on Job Burnout and Job Performance: Mediating Effect of Psychological Capital. Frontiers in Psychology. 2019; 10:2707. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.02707
15. Choi HM, Mohammad AAA, Kim WG. Understanding Hotel Frontline Employees’ Emotional Intelligence, Emotional Labor, Job Stress, Coping Strategies and Burnout. International Journal Hospitality Management. 2019; 82:199-208. https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2019.05.002
16. Hashmi S, Tahir O, Nasir Z, Hasnain H, Riaz RSU, Khan HMA, Ramza R, Alghzawi HM, Mukherjee J, Palav A. Impact of Emotional Intelligence on Professional Performance and Stress Resilience Among Healthcare Practitioners. 2024; Cureus 16(11):1-14. https://doi.org/10.7759/cureus.74113
17. Galanis P, Katsiroumpa A, Moisoglou I, Derizioti K, Gallos P, Kalogeropoulou M, Papanikolaou Vl. Emotional Intelligence as Critical Competence in Nurses’ Work Performance: A Cross-Sectional Study. Healthcare. 2024;12(19):1936. https://doi.org/10.3390/healthcare12191936
18. Khoirurrahman A, Winta MVI, Shinta Pratiwi MM. Efikasi Diri dan Kecerdasan Emosi sebagai Prediktor Stres Kerja Pada Karyawan PT. XYZ: Peran Mediasi Dukungan Sosial. Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan. 2023;4(4):343-362. https://doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v4i4.271
19. DNC Pardede, KR Indrawati. Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Stres Kerja terhadap Motivasi Kerja pada Perempuan Bekerja di Bali. Jurnal Psikologi Udayana. 2020;7(1):57-68.
20. Awe AO, David-Olawade AC, Ayodele-Awe I, Feng H, Afolalu TD, Ladan H. Predictors and Influencing Factors of Emotional Intelligence Among Nurses in the North East England, United Kingdom. Journal of Education and Health Promotion. 2023; 12(1):236. https://doi.org/10.4103/jehp.jehp_1656_22

Barta1.Com
Tags: Christien A KarambutKecerdasan Emosional Kunci Mengurangi Stres di Tempat Kerja
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Foto: Bupati Michael Thungari saat melantik dua Penjabat (Pj) Kapitalaung dan menyerahkan SK Pelaksana Harian (Plh) untuk empat desa. (Dok. Gerald Kobis)

Thungari Tegaskan Tak Ada Tempat bagi Pemimpin Desa Bermasalah

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Muslimah Mongilong, Selamatkan Wajah PDI Perjuangan di RDP Komisi IV DPRD Sulut 11 Mei 2026
  • Viral Foto Kajati Sulut-Tonsu Pasca Penetapan Tersangka Bupati Sitaro, Ini Kata Asintel 11 Mei 2026
  • Gubernur Yulius Selvanus Tunjuk Heronimus Makainas Jadi Plt Bupati Sitaro Usai Kasus Korupsi 11 Mei 2026
  • Dari Magang, Dua Mahasiswa Polimdo Raih Penghargaan di Jepang 11 Mei 2026
  • Golkar Sitaro Himbau Kader Tidak Turun di Aksi Damai 10 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In