• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Mei 27, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Afrika Adalah Benua Penentu: Bagaimana Mereka Bertahan di Era Trump 2.0

by Ady Putong
27 Desember 2025
in News
0
Pemandangan Pasar Jalanan Lagos Yang Meriah. (foto: Pexels)

Pemandangan Pasar Jalanan Lagos Yang Meriah. (foto: Pexels)

0
SHARES
44
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih sering kali dipandang dengan kecemasan oleh para diplomat global. Kebijakan “America First” yang transaksional dan isolasionis dikhawatirkan akan meminggirkan wilayah-wilayah yang dianggap tidak memberikan keuntungan langsung bagi Washington. 

Namun, bagi Benua Afrika, narasi “ditinggalkan” oleh Amerika Serikat bukan lagi sebuah ancaman, melainkan katalisator untuk mempertegas kedaulatan mereka di panggung dunia. Selama dekade terakhir, Afrika telah bertransformasi dari sekadar objek kebijakan luar negeri menjadi pemain aktif yang menentukan arah ekonomi global.
Jika pada masa jabatan pertama Trump, Afrika sempat dijuluki dengan istilah yang merendahkan, kini benua tersebut memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat. Ada kesadaran kolektif di antara pemimpin Afrika bahwa ketergantungan pada satu kekuatan super adalah strategi masa lalu yang usang.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Afrika tidak lagi menunggu restu dari Washington untuk bergerak. Melalui Uni Afrika (UA), benua ini telah berhasil mengamankan kursi permanen di G20 pada akhir 2023. Ini adalah pengakuan formal bahwa masalah ekonomi global—mulai dari krisis iklim hingga restrukturisasi utang—tidak dapat diselesaikan tanpa melibatkan suara dari 55 negara anggota UA.
Secara demografis, daya tawar Afrika tidak tertandingi. Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2050, satu dari setiap empat orang di planet ini akan menjadi orang Afrika. Dengan ledakan populasi usia produktif yang diproyeksikan mencapai 740 juta jiwa dalam tiga dekade mendatang, Afrika bukan hanya pasar masa depan, tetapi juga pusat tenaga kerja dan inovasi global yang tidak bisa diabaikan oleh investor AS sekalipun.
Dalam hal perdagangan, Afrika telah mengambil langkah berani dengan meluncurkan African Continental Free Trade Area (AfCFTA). Ini adalah zona perdagangan bebas terbesar di dunia berdasarkan jumlah negara peserta. Dengan potensi PDB gabungan yang diprediksi mencapai US$ 29 triliun pada tahun 2050, Afrika sedang membangun kekuatan ekonomi internal agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi kebijakan proteksionis Trump.
Ketergantungan terhadap program African Growth and Opportunity Act (AGOA) dari Amerika memang masih ada, namun pengaruhnya mulai memudar. Data menunjukkan mitra dagang utama Afrika kini bergeser ke Timur. Perdagangan bilateral antara Tiongkok dan Afrika mencapai rekor US$ 282,1 miliar pada tahun 2023, jauh melampaui volume perdagangan dengan Amerika Serikat yang berada di kisaran US$ 100 miliar.
Kekuatan utama Afrika saat ini terletak pada perut buminya. Benua ini menyimpan sekitar 30% cadangan mineral kritis dunia yang menjadi tulang punggung transisi energi hijau. Republik Demokratik Kongo, misalnya, memasok lebih dari 70% kebutuhan kobalt dunia yang sangat penting untuk baterai kendaraan listrik. Tanpa Afrika, ambisi teknologi hijau dunia akan berhenti di tempat.
Trump mungkin akan mencoba melakukan pendekatan transaksional terhadap sumber daya ini. Namun, para pemimpin Afrika mulai menerapkan kebijakan nilai tambah domestik. Zimbabwe dan Namibia, misalnya, telah melarang ekspor litium mentah, menuntut agar pemrosesan dilakukan di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja. Ini adalah bentuk “nasionalisme sumber daya” yang cerdas di tengah persaingan negara adidaya.
Selain Tiongkok, Afrika juga semakin lihai dalam melakukan diversifikasi kemitraan. Rusia memperkuat pengaruhnya di sektor keamanan, sementara Uni Eropa berupaya mempertahankan pengaruhnya melalui investasi infrastruktur seperti Koridor Lobito. Di mata pemimpin Afrika, Trump hanyalah salah satu dari banyak pilihan mitra di atas meja perundingan.
Secara politik, Afrika juga mulai menunjukkan kemandiriannya dalam isu-isu sensitif global. Dalam pemungutan suara di PBB terkait konflik di berbagai belahan dunia, banyak negara Afrika memilih untuk “tidak memihak” atau abstain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menolak dipaksa masuk ke dalam blok perang dingin baru antara Barat dengan aliansi Timur.
Namun, jalan menuju kemandirian penuh tentu tidak tanpa hambatan. Tantangan domestik tetap nyata. Sekitar 120 juta warga Afrika masih menghadapi kerawanan pangan akut akibat konflik dan perubahan iklim. Selain itu, beban utang publik di Afrika sub-Sahara rata-rata mencapai 60% dari PDB, yang menyedot anggaran untuk layanan dasar demi membayar bunga utang.
Diplomasi Trump yang diprediksi akan memotong bantuan luar negeri dan pendanaan iklim bisa menjadi pukulan bagi beberapa negara. Namun, para analis berpendapat ini justru akan memaksa Afrika untuk mempercepat reformasi pajak domestik dan mencari mekanisme pembiayaan alternatif yang lebih berkelanjutan daripada terus berharap pada donor internasional.
Dalam sektor teknologi, Afrika juga tidak lagi sekadar menjadi konsumen. Ekosistem startup di Lagos, Nairobi, dan Cape Town terus berkembang pesat. Transformasi digital ini dianggap sebagai jalan pintas (leapfrogging) untuk mengatasi keterbelakangan infrastruktur fisik, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan pembangunan konvensional.
Ke depannya, hubungan Afrika-AS di bawah kepemimpinan Trump kemungkinan akan bersifat sangat sektoral. Fokus Washington diprediksi akan tertuju pada persaingan dengan Tiongkok dan pengamanan rantai pasok mineral. Afrika menyadari hal ini dan akan memanfaatkannya sebagai posisi tawar untuk mendapatkan investasi infrastruktur yang lebih adil dan transparan.
Seorang editor senior media Jerman menyebutkan bahwa “Afrika kini memiliki agensi sendiri.” Mereka bukan lagi bidak di atas papan catur, melainkan salah satu pemain yang memegang kendali. Trump mungkin akan membawa ketidakpastian, tetapi bagi Afrika, ketidakpastian adalah peluang untuk memperkuat solidaritas regional dan membuktikan bahwa mereka bisa tumbuh tanpa harus selalu menoleh ke Washington.
Perubahan paradigma ini juga terlihat dari bagaimana para pemimpin muda Afrika berbicara di forum internasional. Mereka tidak lagi datang dengan tangan menengadah, tetapi dengan proposal investasi yang saling menguntungkan. Retorika “solusi Afrika untuk masalah Afrika” kini benar-benar diimplementasikan dalam berbagai kebijakan strategis di tingkat regional.
Pada akhirnya, era Trump 2.0 mungkin akan menjadi periode di mana dunia melihat Afrika secara utuh sebagai entitas yang kuat. Jika Trump memilih untuk menarik diri dari kerja sama multilateral, Afrika sudah memiliki fondasi kuat melalui UA dan AfCFTA untuk tetap melaju. Kemandirian ini adalah hasil dari proses panjang pendewasaan politik yang selama ini luput dari pengamatan Barat.
Sebagai kesimpulan, posisi Afrika saat ini jauh lebih tangguh dibandingkan empat tahun lalu. Dengan kontrol atas mineral masa depan, potensi pasar raksasa, dan kursi di meja elit global G20, benua ini siap menghadapi dinamika apa pun yang dibawa oleh administrasi AS yang baru. Afrika telah memilih jalannya sendiri: menjadi subjek utama dalam sejarahnya sendiri.
Dunia sedang menyaksikan pergeseran poros kekuasaan. Dari Washington ke berbagai penjuru, pesan dari Afrika sangat jelas: Kami tidak lagi menunggu untuk dipimpin, kami siap untuk memimpin. Dan itulah angle paling menarik dari dinamika geopolitik tahun 2025 ini. (**)
Sumber: DW
Editor: Ady Putong
Barta1.Com
Tags: Ekonomi Afrika Era TrumpHubungan AS-Afrika 2025Investasi Tiongkok di AfrikaKemandirian Politik AfrikaMineral Kritis AfrikaPotensi PDB Afrika 2050Uni Afrika G20
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Foto Udara Tembok Besar Tiongkok. (foto: Pexels)

Mengapa C-Drama Kini Menjadi "Candu" Baru Dunia?

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Plt Bupati Heronimus Makainas Serahkan Hewan Kurban Bantuan Presiden dan Pemkab Sitaro 27 Mei 2026
  • Museum Sulut Setelah Batal ‘Dijual’ 27 Mei 2026
  • Gubernur Yulius Selvanus Kebut Pemajuan Kebudayaan, Dari Museum Digital Hingga Perlindungan BPJS 1.000 Seniman 27 Mei 2026
  • Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum, Satreskrim Polres Kepualaun Talaud Bersosialisasi dan Diskusi Bersama PPNS 27 Mei 2026
  • Menakjubkan, Museum Sulut Pamerkan Artefak Nusa Utara Dari Masa 2 Juta Tahun Lalu 27 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In