• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, April 22, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Jamal Rahman, Katamsi Ginano, Denny Taroreh, Dalam Luka Buyat

by Agustinus Hari
17 Mei 2019
in Sastra
0
Jamal Rahman, Katamsi Ginano, Denny Taroreh, Dalam Luka Buyat
152
SHARES
464
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Buyat: Hari Terus Berdenyut adalah sebuah buku yang telah menjadi langka. Buku terbitan Banana tahun 2007 dengan tebal 114 halaman ini memuat karya kolaborasi puisi Jamal Rahman Iroth, Katamsi Ginano dan karya fotografi Denny Taroreh.

Seniman seperti juga nabi, ia memiliki mata hati yang lebih terang dibanding manusia umumnya. Kreatifitasnya menyeberangi kedalaman absurd wall untuk meringkus pesan-pesan ilahi (imaji) yang tersebunyi untuk dikasadkan sebagai apologetik (Pembelaan) dan pengharapan bagi kemanusiaan dan peradaban.

Karena, kemanusiaan dan peradaban selalu terluka, maka dibutuhkan tangan-tangan trampil untuk menyeka airmatanya. Sebab manusia adalah sysyphos, seseorang yang terhukum di dunia bernama kehidupan.

Kehidupan tanpa apologetic dan pengharapan adalah chaos dan nihilistik. Ini sebabnya, “The Lord is my shepherd,” bagi kaum nasrani sebagai misal, tidak saja berhenti sebagai puisi sacral, tapi pengharapan itu sendiri.

Hidup memang bukan tamasya atau liburan, namun pergulatan yang terus berdenyut tanpa henti. Disitulah pembelaan dan pengharapan menjadi sesuatu yang penting dan mahal.

Inilah impresi terkuat yang ingin diresepsikan lewat karya fotografi dan puisi Denny Taroreh, Jamal Rahman dan Katamsi Ginano dalam antologi berjudul “buyat: Hari terus berdenyut”.

Tiga seniman Manado ini lewat karya mereka telah melakukan tugas filantropisnya, sebuah pekerjaan yang diilhami oleh kasih sayang kepada manusia. Sebuah dedikasi dan empati terhadap ‘the human case and the human cause’.

Sebanyak 124 foto 50 puisi disajikan dalam buku yang terbit eksklusif dan terkemas menarik ini. Isinya adalah potretan jujur atas keseharian dan serentetan masalah kemanusiaan di Buyat.

Buyat, desa di tepian pantai kabupaten Minahasa Selatan. Dalam kurun di bawah 2007, kawasan itu menjadi perbincangan menarik dan mencekam pasca terkuaknya masalah pencemaran lingkungan yang dituding akibat merkuri dan arsen dari limbah buangan PT. Newmont Minahasa Raya yang telah memakan korban baik lingkungan dan manusia.

Tragedi Buyat yang sempat menjalani proses pembuktian kebenarannya di pengadilan ini, telah membawa implikasi luar biasa bagi warga di sana baik psycologis dan psykhis ketika itu.

Di tengah diskursus masa itu, Denny Taroreh dan Jamal Rahman justru menangkap Buyat dari sisi yang berbeda. Lewat lensa kamera dan renungan-renungan filosofis dalam puisi mereka mau memberi apologetik sekaligus pengharapan bagi Buyat yang terluka.

Seperti semangat nabi Daud menulis “Mazmur 23”, atau Chairil Anwar menulis puisi “Aku”. Pada 2006, tercatat dua seniman ini telah pula meluncurkan buku yang isinya nyaris sama berjudul “Sepenggal Kisah Anak Buyat, Eksodus ke Tanah Harapan”.

Antalogi “Buyat: Hari Terus Berdenyut”, ini merupakan buku kedua mereka dalam mengumuli masalah-masalah kemanusian di Buyat. Buku ini menjadi kian menarik tidak saja kerena kejenialan tampilan epigram-epigram dan haiku karya Jamal Rahmal, tapi juga pengayaan menakjubkan dengan kehadiran puisi – puisi bernuansa sufi karya penyair Katamsi Ginano, seperti “Setelah Angin, Setelah Ombak”.

Dengan jumlah muatannya yang sebesar itu, antologi ini jelas merupakan antologi puisi dan fotografi yang paling sarat dari seluruh antologi yang pernah diterbitkan seniman Sulut sejak tahun 1980-an hingga 2007.

Mereka, telah menampilkan potret realitas eksistensi kemanusiaan “kita” yang kompleks, sesuai dengan tema (theme) dan nada (tone) yang diusungnya. Misalnya eksistensi “kita” yang butuh kasih sayang sejati; yang sunyi; yang menderita, marah, tetapi tak berdaya karena atau dalam menghadapi ketidakadilan; yang merindukan jati diri; yang takut dan kagum akan kemahaan Tuhan, atau juga sebaliknya : mengesampingkan Tuhan beserta hukum-hukumNya dengan menjadi culas dan korup.

Puisi-puisi dan foto dalam antologi ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga aliran (paham filosofis) kesenian: Realisme-romantik, Realisme-sosial, dan Idealisme-religius.

Sebagai penyair yang giat mengikuti perkembangan kreatifitas ke tiga seniman ini, saya merasa antologi ini berisi karya-karya terbaik mereka di kurun itu. Tentu menjadi berbeda bila kita menakar karya-karya mereka saat ini.

Bagi pembaca yang sudah cukup terlatih, hakikat puisi-puisi dan foto dalam antologi ini tidak sukar untuk dipahami, meskipun teknik berucapnya tidak (melulu) lugas. Bagi jenis pembaca awam, Kata Pengantar antologi ini, yang ditulis oleh esais AS Laksana, dapat membantu. Apalagi, penulisannya berpola apresiatif.

Lewat antologi ini, Denny, Jamal dan Katamsi setidaknya telah melakukan upaya pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan dan mendedikasikan dirinya dalam mengungkap kebenaran bahwa di Buyat: “hari masih terus berdenyut”. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: Buyatdenny tarorehJamal RahmanJamal Rahman IrothKatamsi Ginano
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Prof Ijong Bicara, Hingga Klarifikasi STIC Terkait Lakalantas Tiger vs Matic

Prof Ijong Bicara, Hingga Klarifikasi STIC Terkait Lakalantas Tiger vs Matic

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Prodi Jalan dan Jembatan Teknik Sipil Polimdo Raih Akreditasi Unggul, Ir Rio P Lonan : Hasil Kerja Keras Kolektif 22 April 2026
  • Memasuki Setahun Mengabdi, Himaju Akuntansi Polimdo Mendidik Anak Putus sekolah di Pasar Bersehati 22 April 2026
  • Golkar Manado Suksesi, Adolfien Wangania Mencuat 22 April 2026
  • Prodi Teknik Informatika Elektro Polimdo Raih Akreditasi Unggul, Marson: Mencerminkan Kualitas 21 April 2026
  • RELIGIUSITAS KRISTIANI DALAM PUISI “IJINKAN AKU MERINDUKAN-MU”, KARYA DONALD TOLOH 21 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In