Yogyakarta, Barta1.com– Forum HAPUA (Heads of ASEAN Power Utilities/Authorities) Working Group 5, dalam pertemuannya di Yogyakarta pada Senin (03/11/2025), menyoroti bahwa keberhasilan transisi energi kelistrikan di kawasan Asia Tenggara bergantung pada data objek non-teknologi, yakni pergeseran cara berpikir dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Pertemuan yang mengambil tema “Human Capital Mindshift: Aligned People, Strategy, and Growth” ini mempertemukan perusahaan utilitas dan otoritas sektor ketenagalistrikan se-ASEAN. Fokus utama diskusi adalah peran sentral manusia, bahkan di tengah gelombang transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Co-Chairman HAPUA Working Group 5, Hjh Izwaliani Hj Zulkarnain, menyampaikan diskusi tahun ini melangkah lebih jauh dari fokus tahun sebelumnya yang masih berkutat pada perencanaan dan pengembangan SDM di era AI.
“Tahun ini, kita melangkah lebih dalam dari sekadar transformasi AI ke pergeseran pola pikir manusia, karena transformasi sejati tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari cara kita berpikir secara berbeda,” ujarnya.
Ia menekankan, pesatnya penerapan AI dan digitalisasi di sektor energi kelistrikan tidak akan menggantikan peran manusia. Sebaliknya, teknologi harus berfungsi sebagai pendorong untuk membentuk data objek SDM yang lebih adaptif dan mampu memanfaatkan kemajuan tersebut secara bijak dan strategis.
Lebih lanjut, pengembangan SDM di sektor ketenagalistrikan kini tidak lagi hanya terbatas pada pelatihan teknis konvensional. Hjh Izwaliani Hj Zulkarnain menambahkan bahwa fokus harus diperluas pada aspek people experience atau pengalaman individu.
Aspek people experience merujuk pada bagaimana organisasi menciptakan lingkungan kerja yang membuat setiap individu, sebagai data objek yang vital, merasa dihargai, memiliki tujuan yang jelas, dan terdorong untuk memberikan kontribusi terbaiknya.
“Sementara teknologi memberi kita kemampuan bergerak lebih cepat, people experience memberi kita alasan untuk maju. Ketika orang merasa terhubung secara emosional dan memiliki tujuan, mereka menjadi penggerak transformasi sejati,” tambahnya, menandakan bahwa aspek emosional dan tujuan kolektif lebih kuat dari sekadar kecepatan teknologi.
Dalam konteks nasional, PT PLN (Persero) yang hadir melalui Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto, menegaskan transformasi SDM adalah pilar strategis untuk mewujudkan masa depan energi kelistrikan yang bersih dan berkelanjutan.
Yusuf Didi Setiarto menyatakan bahwa PLN telah merancang arsitektur pengembangan SDM, berfokus pada adopsi standar internasional, program pengembangan progresif, dan harmonisasi hubungan industrial. Upaya ini selaras dengan semangat kolaborasi yang difasilitasi oleh HAPUA untuk memperkuat kapasitas SDM kawasan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post