Kerajaan Arangkaa, terletak di timur laut Pulau Karakelang, Talaud. Kendati wilayahnya hanya mencakup Arangkaa, Taruan, Gemeh, dan Taturan, imperium kecil ini menolak tunduk pada Belanda. Ini sebabnya Arangkaa diserbu dan dibumihanguskan pada 1893.
Jelles Eeltje Jellesma, menduduki kursi Residen Manado sejak 4 November 1892. Dalam catatan Adrianus Kojongian di situs Jelajah sejarah Manado, Jellesma dikenal sebagai seorang pejabat Belanda yang mengeluarkan kontrak penyatuan kerajaan-kerajaan di Sangihe Talaud ke dalam enam daerah politik otonom (Swapraja).
Pada masa dia, raja yang dulunya dipilih rakyat, diganti dengan penguasa yang di angkat pemerintah Belanda. Jellesma menerapkan pajak yang berat, antaranya, pajak potong babi sebesar 2 gulden per ekor atau 25 persen dari harga seekor babi ketika itu.
Selain itu, Jellesma, menerapkan pajak perorangan, pajak rumah dan harta benda, pajak pendapatan, serta kerja tanpa upah sebanyak 42 hari setiap tahunnya untuk kepentingan proyek pemerintah, berlaku bagi semua orang yang berusia 18-45 tahun, kecuali keluarga raja dan aparat pemerintah.
Kebijakannya ini, menimbulkan perlawanan orang-orang Sangihe Talaud yang disambut dengan tekanan bersenjata, pembunuhan, pembakaran desa, penangkapan dan pengasingan.
Situasi politik di masa pengganti Residen Stakman ini, ungkap Kojongian memanas mulai medio 1893 di pantai utara Karakelang. Raja Arangkaa, Larenggam, yang mengganti kakaknya Raja Manee Binilang yang meninggal pada tahun 1892, dengan keras menolak tunduk pada uturan yang dikeluarkan Residen Jellesma, menurunkan posisinya dari Raja menjadi Jogugu. Selain itu, Larenggam mengklaim kembali tanah Tatepuan yang pernah di tuntut kakaknya yang saat itu dikuasai President Jogugu Lirung.
Kedua pihak jadi bersih tegang. Situasi ini dimanfaatkan pejabat Belanda untuk memecah belah para pemimpin Talaud dengan cara halus dan licik.
Kontroliur Tahuna LF Hoeke menugaskan Posthouder Leidelmaijer untuk menyelesaikan kasus secara damai. Leidelmeijer berhasil membujuk President Jogugu Tukunan yang merasa terhina untuk memeriksa kembali klaim Arangkaa. Sebuah pertemuan dibuat di Lirung dihadiri beberapa pemimpin Talaud. Dengan suara bulat diputuskan tuntutan Arangkaa tidak berdasar.
Larenggam yang dikenal dengan nama Pengatani Rarengang atau Larenggam Sumalle ini, tidak menerima keputusan yang disetir pihak Belanda itu. Segera ia mempersiapkan perang melawan Lirung dan empat Kejogugan lain di Karakelang yang menentang perjuangan Arangkaa terhadap Tatepuan. Kabar bahwa di Arangkaan semua orang tangguh dipanggil menimbulkan ketakutan besar, tulis Kojongian.
Tanggal 21 Juli 1893, Risiden Jellesma tiba di Lirung dengan Kapal uap Pemerintah Belanda Zeeduif. Ia segera memanggil semua Jogugu Talaud, namun pertemuan tidak dihadiri Larenggam. Jellesma berpendapat klaim Arangkaa tidak berdasar pula.
Pada 23 Juli 1893, Kapal Uap Zeeduif disertai 32 perahu besar bersenjata di bawah pimpinan President Jogugu Tukunan dan Jogugu dari Pulau Salibabu, Kabaruan dan Karakelang Selatan tiba di Arangkaa. Kontrolir Tahuna L.F. Hoeke mengirim surat mengatasnamakan Residen Jellesma memanggil Larenggam dengan empat kapitein lautnya dan beberapa kepala keluarga berpengaruh, termasuk putra raja Manee untuk datang ke kapal Zeeduif menjelaskan ketidakhadiran dalam pertemuan Lirung.
Larenggam, ungkap Kojongian, menolak menerima surat itu dan meminta Residen Jellesma dan Kontrolir L.F. Hoeke datang kepadanya. Residen mengirim utusan lagi, tapi dengan pemberitahuan lisan kepada Larenggam memberi tempo 1 jam atau ia akan dipaksa dengan kekerasan.
Larenggam tidak mempedulikannya. Setelah 3 lontaran granat dan 15 tembakan salvo dari senapan Beaumont berasal dari kapal Zeeduif, pasukan kepala-kepala Talaud menyerang Arangkaa. Larenggam dengan sekitar 20 prajuritnya datang ke pantai, menanti kedatangan musuh. Pertempuran sengit pun pecah. Tiga pengikut Larenggam terkena tembakan, Sementara Larenggam ikut sedikit terluka.
Menurut Kojongian, Presiden Jogugu Lirung mendekati rumah tinggi Larenggam, memanggilnya untuk menyerahkan diri kepada Residen. Namun dibalas Larenggam dengan lemparan tombaknya. President Jogugu pun melepaskan tembakan yang merenggut nyawa Larenggam. Serbuan itu kemudian membumihangusan Arangkaa.
Selain Larenggam, 7 pengikutnya ikut tewas. Orang-orang yang ditangkap yakni 3 Kapitein Laut, 2 mantan Jogugu dan 1 pengikut Larenggam diaadili Majelis, diputuskan untuk periode yang pendek atau lebih lama dengan kerja paksa dan dirantai.
Ketika Jellesma sebulan kemudian datang ke kepulauan Sangihe Talaud, ia mengunjungi Arangkaa yang hancur. Kepada penduduk Arangkaa ia memberi pengampunan, tapi ditentukannya bahwa negeri itu tidak bisa dibangun lagi. Sementara negeri Taturan dan Gemeh diperintahkan tunduk pada pengawasan Presiden Jogugu dari Beo.
Penghormatan Bung Hatta Terhadap Larenggam
Hingga saat ini, boleh dikata sulit sekali mendapatkan literatur yang membicarakan eksistensi Kerajaan Arangkaa. Namun Janpit Malado, warga desa Arangkaa, dalam publikasi Kusioner Tokoh Sejarah Desa Arangkaa mengungkap, kerajaan Arangkaa dipimpin berturut-turut oleh tiga orang raja yaitu: 1. Raja Tawoe (1810-1851). 2. Raja Manee Binilang (1851-1890), 3. Raja Larenggam Semalle (1891-1893).
Dalam catatannya disebutkan, latar belakang perang Arangkaa sudah dipicu oleh persoalan sejak hasil keputusan musyawarah Raja Manee Binilang bersama Tua-Tua Adat kerajaan Arangkaa dari Bunee, Taruan, Arangkaa, Geme dan Taturan pada tanggal 3 Maret 1889 yaitu tidak mau dijajah oleh belanda.
Ini sebabnya, tulis Malado, ketika Larenggam menjadi raja pada 1891, ia tak ingin Arangkaa dikendalikan oleh penjajah, apalagi ada perintah pihak penjajah baginya untuk meletakan jabatanya sebagai raja dan menyerahkan seluruh wilayah kekuasaanya serta menerima tugas sebagai Jogugu.
Akibat penolakkan itulah kemudian memicu kemarahan pemerintah kolonial Belanda dengan melakukan penyerbuan ke Arangkaa pada 23 Juli 1893, dengan Kapal Uap Zeeduif disertai 32 perahu bersenjata.
Keberanian dan sikap patriotisme Larenggam ini kemudian mendapatkan penghormatan dari Wakil Presien Republik Indonesia Mohammad Hatta. Ketika berkujung ke Arangkaa pada 23 Desember 1951, tulis Malado, Bung Hatta menyempatkan waktu berziarah ke makam Raja Larenggam.
Di makam tersebut ketika itu, Bung Hatta mengajak rombongan dan masyarakat Talaud mengheningkan cipta untuk menghormati jasa pahlawan Larenggam. Dalam amanatnya, Bung Hatta berujar: “Raja Larenggam telah berbuat, telah berjuang, dan perjuanganya itu tidak dilupakan, malah dihargai oleh pemimpin bangsa dan bangsanya sendiri yaitu bangsa Indonesia”.
Biografi Raja Larenggam
Nama kecil : Larenggam
Nama lengkap : Larenggam Sumalle
Tempat dan tanggal lahir : Arangkaa, 5 Juli 1855
Agama : Animisme
Nama lengkap ayah : Manoso Sumalle
Nama lengkap ibu : Laowulan
Jumlah angota keluarga : 7 orang
Riwayat pekerjaan:
1851 – 1890 sebagai panglima perang Kerajaan Arangkaa
1891 – 1893 sebagai Raja Kerajaan Arangkaa. (Diangkat dari berbagai sumber)
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post