Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat. Salah satu inovasi terbaru mereka adalah penciptaan mesin daur ulang sampah plastik bernama Sheet Press.

Tim pengembang mesin ini terdiri dari Dr. Winda Sanni Slat, Dr. Steven Jhony Runtuwene, dan Priyono, ST., MT. Tak hanya menciptakan mesin, tim ini juga berhasil mengembangkan produk inovatif dari sampah plastik seperti meja, kursi, dan paving blok.

“Pembuatan meja, kursi, dan paving blok ini diawali dengan pengumpulan limbah plastik dari lingkungan masyarakat, seperti botol minuman,” ungkap Dr. Steven.

Ia menambahkan, tak hanya botol minuman, tim juga memanfaatkan botol sabun dan oli bekas yang kerap terbuang begitu saja di lingkungan.

Setelah dikumpulkan, sampah-sampah plastik ini dipilah berdasarkan jenisnya, karena setiap jenis plastik memiliki karakteristik yang berbeda. Misalnya, HDPE dan PP—dua jenis plastik yang tidak bisa dicampur dalam satu proses daur ulang.
“Setiap jenis plastik harus diproses secara terpisah. Botol plastik yang terkumpul dicacah terlebih dahulu hingga berukuran sekitar satu hingga dua sentimeter,” jelas akademisi dari Jurusan Teknik Elektro Polimdo itu.
Untuk mencacah plastik, digunakan mesin hasil dari program Berdikari. Setelah dicacah, plastik tersebut kemudian diproses menggunakan mesin Sheet Press, dipanaskan hingga suhu 150–200 derajat Celcius selama sekitar dua jam.
Setelah proses pemanasan, lembaran plastik didinginkan dan dikeluarkan dari mesin Sheet Press. Hasilnya berupa papan plastik yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kursi, meja, hingga perabot rumah tangga lainnya.
Selain papan plastik, paving blok juga dihasilkan dari proses ini. Butiran plastik dicetak dalam molding dengan berbagai bentuk seperti persegi, poligon, dan segitiga, lalu dipanaskan dalam oven selama sekitar 50 hingga 90 menit.
“Cacahan plastik itu akan meleleh dan menyatu, tapi prosesnya belum selesai. Setelah keluar dari oven, paving blok masih harus dipress dan dipadatkan agar keras dan bisa digunakan,” jelasnya.
Selama proses pengepresan, digunakan air untuk mempercepat pendinginan agar molding dapat segera dilepas.
Baik dalam pembuatan kursi maupun meja, plastik hanya digunakan sebagai alas, sementara rangkanya dibuat dari besi baja dan besi hollow.
Penelitian ini, menurut Dr. Steven, merupakan upaya konkret Polimdo dalam menjawab persoalan sampah di Kota Manado.
“Kami harap inovasi ini bisa menjadi solusi berkelanjutan untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Mekel Pontolondo


Discussion about this post