Jakarta, Barta1.com—Permintaan listrik hijau di Indonesia terus menguat seiring kesadaran industri terhadap energi berkelanjutan. PT PLN (Persero) mencatat lonjakan penjualan Renewable Energy Certificate (REC) mencapai 13,68 terawatt hour (TWh) pada semester I 2025, tumbuh 14% dibandingkan periode yang sama 2024.
REC adalah sertifikat yang menjamin listrik digunakan pelanggan berasal 100% dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Dengan harga Rp35 ribu per unit setara 1.000 kilowatt hour (kWh), program ini membuka akses luas bagi sektor bisnis dan industri untuk mendapatkan pengakuan penggunaan energi bersih secara internasional.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan listrik hijau telah menjadi kunci menjaga daya saing industri nasional di pasar global.
“Kami siap melayani kebutuhan listrik hijau dengan proses mudah dan cepat, sehingga industri bisa memenuhi tuntutan konsumen dunia akan produk ramah lingkungan,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan global telah memanfaatkan REC PLN, di antaranya PT Cheil Jedang Indonesia, Nike, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT South Pasific Viscose, PT Ajinomoto Indonesia, dan PT HM Sampoerna Tbk. Langkah ini menjadi strategi bisnis berkelanjutan untuk mengurangi jejak karbon sekaligus memenuhi kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG).
Head ID SMS Department PT HM Sampoerna Tbk, Imron Hamzah, menyatakan kerja sama dengan PLN telah berjalan tiga tahun dan mendukung visi perusahaan untuk efisiensi energi serta tanggung jawab lingkungan.
Sementara General Manager PT Inecda Plantation, Khamdi, menilai kolaborasi ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi perusahaannya.
Tren ini mencerminkan pergeseran pasar menuju ekonomi hijau. Menurut data Kementerian ESDM, bauran EBT nasional pada 2024 baru mencapai sekitar 14,4%, sehingga kontribusi program seperti REC menjadi vital untuk mendorong target 23% pada 2025.
PLN kini mengoperasikan 10 pembangkit EBT yang memasok REC, mulai dari pembangkit panas bumi seperti PLTP Kamojang dan PLTP Lahendong, hingga PLTA besar seperti Cirata dan Saguling. Kapasitas terpasang EBT PLN telah menembus 10 gigawatt (GW), menjadi tulang punggung pasokan listrik hijau di Indonesia.
Dengan pertumbuhan permintaan yang konsisten, REC diharapkan tak sekadar instrumen pengakuan penggunaan energi hijau, tetapi juga katalis bagi percepatan transformasi energi di sektor industri. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah perdagangan global yang kian menuntut keberlanjutan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post