SANGIHE, BARTA1.COM – Di bawah terik matahari Sabtu siang, (9/8/2025), Jamaludin Bawoel memetik buah naga merah dari kebunnya di Kampung Utaurano. Sekitar seribu pohon berjejer rapi, semua tumbuh subur tanpa sentuhan pupuk kimia.
Pria 62 tahun yang akrab disapa Udin itu menuturkan, sejak awal ia memilih pupuk organik yang ia racik sendiri. Bahan-bahannya sederhana dan tersedia di sekitar rumah. “Saya tidak berharap banyak karena tanaman ini lama berbuah. Ternyata hasilnya bagus sekali,” katanya.

Keputusan menggunakan pupuk organik bukan tanpa alasan. Menurut Jamaludin, biaya produksinya lebih rendah, tanaman lebih sehat, dan rasanya lebih manis. Hasilnya, panen kali ini sudah habis sebagian bahkan sebelum sampai ke pasar.
Harga jual di pasar tradisional dipatok Rp 20 ribu per kilogram, jauh di bawah harga supermarket yang bisa mencapai Rp 40 ribu per kilogram. “Kalau di pasar, orang bisa menawar. Saya mau buah naga ini bisa dibeli masyarakat biasa,” ujar Jamaludin.

Panen ini turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Sangihe, Franky Nantingkaseh, dan Sekretaris TP-PKK Kabupaten Kepulauan Sangihe, Agnes Bulahari Walukouw. Kehadiran TP-PKK dinilai penting untuk mendorong keterlibatan kelompok perempuan dalam pengembangan pertanian organik di desa.
“Pemupukan organik jarang dilakukan di sini. Beliau bisa membuat pupuk sendiri, bahkan mengolah benih sendiri. Ini patut dicontoh,” kata Franky.
Kapitalaung Utaurano, Herdyanto Takapulungang, menilai keberhasilan Jamaludin dapat menjadi inspirasi desa. Ia berjanji akan mengupayakan akses jalan setapak dan lampu tenaga surya menuju kebun, sehingga warga lain bisa mengembangkan kebun serupa.
Jamaludin pun membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar menanam buah naga secara organik. “Saya ikhlas membantu. Kalau ada yang mau menanam, saya akan bimbing,” ujarnya.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post