Manado, Barta1.com – Setiap gunung pasti akan memiliki sejarahnya, bahkan akan melekat dengan adat dan budaya dari masyarakat setempat. Begitupun, dengan pegunungan Marijang Tidore, Maluku Utara, Indonesia.
“Gunung Marijang Tidore ini bukan sekedar dinikmati keindahannya, melainkan juga menjadi tempat berdoa bagi masyarakat setempat, mengingat budaya dan adat masyarakat Tidore masih terjaga dengan baik,” ungkap Sandi Tuhulele kepada Barta1.com, Minggu (11-02-2024).
Bahkan di gunung Marijang Tidore itu, kata anggota Mapala Palamik (Pencinta Alam Ilmu Kelautan) Unsrat itu, bahwa ada lokasi yang namanya batas suci, di mana setiap pendaki tidak diijinkan untuk membuang sampah, air kecil maupun besar.
“Adapun larangan dari masyarakat setempat, ketika berada di gunung yang memiliki 6 pos ini untuk tidak melakukan keributan,” singkat anak pertama dari pasangan Ridwan Tuhulele dan Ainun Dotulung.
Untuk menghormati budaya tersebut, tambah Sandi, dirinya sudah menyiapkan beberapa wadah untuk membawa kembali sampah, setelah melakukan pendakian. Sedangkan membuang air kecil dan sebagainya, dirinya sudah menyiapkan wadah yang berisikan air dari pos 1.
“Ketika melakukan pendakian di gunung Marijang Tidore, saya dan teman hanya melakukan tektok (kegiatan naik turun gunung dalam waktu satu hari) dengan waktu 6 jam sampai puncak, kemudian turun lagi. Mengingat, saya akan melakukan pandakian lanjutan di gunung Gamkonora,” terang pemuda kelahiran Manado, 10 Maret 2000 itu.
Sandi menambahkan, di luar dari berbagai hal yang harus diikuti karena adat dan budaya setempat, tapi gunung yang memiliki ketinggian 1.750 Mdpl itu menyimpan keindahan dari puncaknya, seperti melihat keindahan Kota Ternate, lautan, bahkan bisa melihat langsung keindahan 3 gunung lainnya, seperti Gamalama, Kie Besi dan Maitara.
“Intinya, ketika ingin melakukan pendakian yang bukan di tempat kita, sedianya mempelajari dahulu budaya dan adat dari masyarakat setempat. Kemudian, ketika melakukan pendakian tentunya hal yang utama adalah mental dan fisik, serta perlengkapan yang memadai,” tuturnya.
Lanjut Sandi, jika setiap pendaki tidak menyiapkan fisik dan mental secara baik, tentunya tidak bisa mencapi puncak dari gunung Marijang Tidore ini, mengingat medannya sangat beresiko, apalagi secara administrasi wilayah Tidore sampai pada gunung Marijang ini belum masuk Kawasan Konservasi, terbukti dengan tidak adanya pengurusan simaksi.
“Kemudian dengan beberapa gunung yang sudah dijejaki, saya berencana ke depannya akan melakukan ekspedisi lagi dengan membawa nama Indonesia Mountain Sandi Tuhulele. Saya akan melakukan pendakian gunung-gunung di Indonesia, sembari ingin menambah jejaring dan pengetahuan,” kata kader HMI itu sambil tersenyum.
Saat ditanya kenapa suka dengan pendakian, Sandi menjawab, semua berawal dari teman-temannya yang menyuguhkan keindahan dari gunung yang dituju. Melihat hal itu, dirinya kemudian mendaftarkan diri menjadi calon anggota Mapala Palamik Unsrat, yang akhirnya menjadi anggota penuh.
“Dari setiap pengetahuan yang didapatkan, apalagi saya suka membaca materi mounteneering, yang di mana bisa mengetahui tujuan dari pendakian itu dilakukan, apakah itu untuk rekreasi atau olahraga,” ucapnya.
Dalam pendakian itu juga, setiap orang pastinya akan belajar tentang apa itu kesabaran dan pembelajaran hidup, apalagi akan dipertemukan dengan medan-medan yang menantang. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post