Manado, Barta1.com – Dalam Renungan Kristen pada Jumat 2 Februari 2024 diberi judul: Mengibuli Rakyat Demi Kekuasaan berdasarkan bacaan Alkitab perjanjian lama, 2 Samuel 15:11.
Meski sudah melakukan segala sesuatu sebagai langkah-langkah strategis untuk merebut kekuasaan dari tangan raja Daud, Absalom ternyata belum juga percaya diri. Masih ada keraguan baginya sehingga dia perlu memperkuat lagi strateginya. Dia merasa masih perlu lagi menambah aksi tipu-tipunya. Ternyata pencitraan disertai sebaran hoax dan fitnah keji kepada ayahnya, belum cukup meyakinkan dia untuk menggapai ambisi butanya itu. Maka dia terpaksa harus mengibuli rakyat yang tidak mengerti dan tidak tahu dengan manuver jahat dan akal liciknya itu.
Dia memanfaatkan kepolosan hati rakyat dan menipu agar mereka masuk dan ikut terlibat dalam skenario atau rekayasa kudeta kekuasaan raja yang akan dilakukannya kepada keluarganya sendiri, bahkan ayah kandungnya, raja Daud. Ketika dia hendak mengadakan perjalanan ke Hebron serta berhasil juga Mengibuli ayahnya, dia mengibuli lagi 200 orang yang diundangnya secara khusus pergi bersamanya ke Hebron.
Mereka (200 orang) itu tahu bahwa mereka diundang ke Hebron untuk hadir bersama dalam kegiatan bayar nazar yang akan dilakukan oleh Absalom, seperti yang dia sampaikan kepada raja Daud. Jadi, yang mereka tahu adalah mereka diundang dalam penyembahan dan ibadah yang akan dilakukan Absalom sesuai dengan nazarnya ketika dia masih berada di Gesur, yakni seperti yang dia sampaikan kepada ayahnya, raja Daud.
Karena Absalom adalah putera raja dan hal yang akan dia lakukan dipandang baik oleh semua orang (karena beribadah), maka mereka menurut saja. Tanpa curiga sedikitpun dengan rencana jahat Absalom, mereka pergi bersamanya sebagai undangan untuk beribadah dan menyembah Allah, yang akan dilakukan oleh Absalom.
Absalom telah menjebak mereka untuk terlibat dalam persekongkolan rahasia atau persepakatan jahat itu. Karena memang sesungguhnya mereka tidak tahu-menahu dengan taktik dan jebakan yang akhirnya sulit mereka tolak itu. Mereka pergi dari Yerusalem bersama Absalom tanpa mengerti dan memahami apalagi mengetahui rencana dan strategi licik nan keji dari Absalom kepada mereka. Mereka hanya dijadikan sebagai umpan sekaligus korban dalam rencana jahat Absalom menjatuhkan Daud sebagai raja, sehingga dia dengan sendirinya akan diangkat sebagai raja menggantikan Daud.
Di hadapan orang (rakyat) kata-katanya manis dan terkesan baik tanpa dosa. Kelihatan tulus tapi otaknya ternyata bulus. Penuh kepalsuan. Penuh tipu muslihat dan suka mengibuli sesamanya. Dia berbuat jahat dan berlindung pada kebaikan semu. Sampai orang yang tulus dan murni pun ditipunya sehingga mereka tak berdaya. Apalagi melawan segala tipu muslihatnya itu.
Ketika merasa diri kuat dan telah menguasai bahkan mengendalikan keadaan, barulah dia menyerang dengan menggunakan tangan lawan bahkan orang-orang yang hidup polos, tulus dan baik. Semua terjadi hanya karena ambisi buta dan keserakahan dan ketamakan yang sudah tak terkendali dalam dirinya. Sehingga dia menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan raja. Orang-orang yang menghadiri undangannya dibuat tak berdaya karena tidak mencium bau busuk rencana jahat sang putera raja yang ambisius itu.
Demikianlah prilaku hidup manusia yang sudah dirasuki hawa nafsu duniawi dan dikendalikan oleh ambisi serta dikuasai oleh kerakusan akan jabatan. Segala tipu muslihat dilakukan mempedaya orang yang tidak tahu apa-apa. Mereka terjebak oleh kejahatan Absalom karena mereka sama sekali tidak curiga dan tidak menyangka bahwa mereka sedang menuju penyesatan oleh skenario dari si gila jabatan, Absalom. Bahwa ternyata dia sedang merancang kejahatan untuk merampok jabatan raja dari ayahnya.
Demikian firman Tuhan hari ini: Beserta Absalom turut pergi dua ratus orang dari Yerusalem, orang-orang undangan yang turut pergi tanpa curiga dan tanpa mengetahui apa pun tentang perkara itu, (ay 11).
Tuhan tidak melarang manusia mendapatkan kekuasaan. Tapi, tidak dengan menghalalkan segala cara. Tidak dengan kampanye hitam, menyegar hoax dan menabur kebencian. Juga tidak dengan menghalalkan segala cara dengan memfitnah orang benar, pemimpin yang baik. Jangan demi ambisi, keluarga kita pun dihancurkan.
Introspeksi dirilah. Jangan Mengibuli atau menipu sesama hanya demi jabatan. Ingatlah jabatan itu sementara dan tidak kekal. Tidak menjamin keselamatan kita. Tapi hiduplah rendah hati dan penuh kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Taat dan setialah pada Tuhan. Kabatan, kehormatan, harta kekayaan, ada pada Tuhan. Maka senangkanlah hati-Nya dengan mengasihi sesama. maka Dia menyediakan segalanya bagi kita, melebihi apa yang kita usahakan dan harapkan. Karena Dialah Sumber segala sumber hidup. Karena tidak ada Tuham seperti Dia, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post