Sangihe, Barta1.com — Entah apa yang ada di benak pemerintah pusat sampai memutuskan rute Tol Laut masuk ke Sangihe. Dari rute sebelumnya Surabaya-Makasar-Sangihe diubah menjadi Bitung sebagai persinggahan terakhir dan meninggalkan kabupaten kepulauan di ujung Utara ini.
Asisten Pembangunan Setda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Ben Pilat mengungkapkan, Selasa (19/2/2019) terkait penetapan trayek baru Tol laut, yaitu masuk Bitung itu sangat merugikan wilayah perbatasan.
Namun menurutnya yang paling penting tujuan Tol Laut adalah untuk melayani daerah 3T1P; Tertinggal, Terluar, Terpencil dan Perbatasan.
“Nah sementara itu Bitung merupakan Pelabuhan Samudera yang sudah dilayari oleh konteiner umum. Oleh sebab itu, harus dikembalikan ke trayek semula karena sasaran dari Tol Laut adalah untuk daerah tertinggal, terluar, terpencil dan perbatasan,” ungkapnya.
Dalam kondisi begitu pemerintah daerah sesegera mungkin melayangkan surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terkait dengan perubahan trayek ini agar dikembalikan ke kondisi semula. Menurut Pilat, trayek baru tersebut tidak efektif terkait jarak perjalanannya yang menjadi panjang.
“Yang kemarin ada dikisaran 8 hari, sekarang mungkin 2 minggu baru tiba, sehingga sangat merugikan, baik muatan datang maupun muatan balik. Jadi semakin sulit dan sasaran program tidak tercapai untuk pengurangan disparitas. dispalitas akan lebih tinggi dari sisi waktu, harga tarif yang naik, akan sangat berpengaruh terhdapa dispalitas harga,” jelasnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sangihe, Felix Gaghaube menjelaskan, semenjak aktifnya Tol Laut di 2016, mereka mengevaluasi terkait dengan jumlah konteiner yang masuk dan efek dari pada penurunan harga Tol Laut.
Perjalanan Tol Laut efektif di kabupaten 2016 sampai terakhir masuk 26 desember 2018, paling tinggi muatan itu mencapai 187 Kontener, dengan rute perjalanan Surabaya, Makasar dan Tahuna (Sangihe).
“Berdasarankan hasil evaluasi kami khusus untuk kebutuhan pokok antara lain terigu, gula pasir terjadi penurunan hingga 12-19 persen dari sebelum ada Tol Laut. Berarti Tol Laut telah memberi dampak terhadap penurunan harga. Itu yang terutama. Yang kedua, terkait ketersediaan stok. Sering menjelang hari besar keagamaan nasional untuk Idhul fitri atau Natal, Tahun Baru itu rata-rata kebutuhan barang tersedia dan harga tidak pernah naik, stabil,” jelasnya.
Buruk Untuk Sangihe
Dengan kondisi itu ketika perubahan trayek sudah diberlakukan pada tahun 2019 jelas memberikan dampak buruk ketika Pelabuhan Samudera Bitung menjadi titik sandar terakhir ToL Laut, sementara angkutan ke wilayah perbatasan menggunakan Kapal Kendaga Nusantara dengan muatan yang terbatas.
Menurut Gaghaube, Kapal Kendaga Nusantara hanya memuat 60 konteiner, sementara muatan tebanyak sebelumnya dengan menggunakan Tol Laut, kebutuhan Kabupaten Kepulauan Sangihe ada sekitar 187 Kontener.
“Sementara 60 Kontener juga harus melayari Bitung-Sitaro-Tahuna dan Talaud. Terus berapa lama lagi waktu yang ditempuh dan berapa lama lagi barang-barang kebutuhan kita akan terparkir di Bitung. Sebenarnya Tol Luat ini sudah baik pada pelaksanaan dengan rute sebelumnya,’ ujarnya.
Menyikapi hal itu Gaghaube mengatakan perjuangan pemerintah daerah melalui Bupati sudah diakukan. Pertama, Surat Bupati kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Perdagangan, untuk merevisi atau meninjau kembali terkait dengan perubahan trayek tersebut.
“Namun di awal juga ketika ini baru menajadi wacana, kita sudah ada penolakan awal. Sehingga kami berharap kedepan ini akan diberakukan ke trayek awal,” harap dia. (*)
Peliput : Rendy Saselah

Discussion about this post