Sangihe, Barta1.com – Di balik kemeriahan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Bataha Santiago 10 November 2023, ada satu figur yang mungkin kurang dikenal namun memiliki peran penting dalam memperjuangkan pengakuan tersebut. Dialah Aldus Horohiung, seorang individu yang dengan tekun dan penuh semangat berusaha mengangkat nama Santiago agar dikenal di Jakarta.
Mewarisi semangat juang Bataha Santiago, dia tak pernah lelah mengangkat nama Bataha Santiago ke permukaan. Dia menjadi salah satu orang yang pertama kali menulis secara tekun mengenai perjuangan Bataha Santiago.
Pada tahun 1985, Aldus Horohiung merampungkan skripsi berjudul “Pewarisan Nilai-nilai Perjuangan Raja Santiago Terhadap Pembinaan Generasi Muda di Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe Talaud.” Karya ilmiah ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku pada tahun 1990 dengan judul “Santiago Melawan VOC.” Sejak itu, Aldus intens memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Bataha Santiago hingga akhir hayatnya.
Mendiang Aldus Horohiung juga menjadi salah satu pionir yang mempresentasikan secara ilmiah mengenai perjuangan Bataha Santiago di berbagai forum. Namun, di tengah kegembiraan atas penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Bataha Santiago, sejarahwan Alex Ulaen merasa sedih karena sang pemakalah, Aldus Horohiung, tidak dapat lagi menyaksikannya.
“Sekitar tahun 2015, di salah satu hotel di Manado, dia memaparkan tulisannya mengenai perjuangan Bataha Santiago. Pada waktu itu saya dipercayakan sebagai pembahas. Sayang sekali beliau tidak dapat merayakan kabar gembira ini,” kata Ulaen, Rabu (8/11/2023)
Budayawan Jupiter Makasangkil juga menuturkan bahwa Aldus Horohiung adalah seorang penulis yang cukup produktif mengenai sejarah dan budaya Sangihe. Setiap kali bertemu dengannya, Jupiter Makasangkil selalu menerima buku-buku tulisannya.
“Ada tiga buku yang ia berikan kepada saya, tahun 2006 ia memberikan buku Santiago Melawan VOC, kedua, buku tentang Tulude tahun 2018, dan buku tentang Kerajaan di Sangihe Talaud tahun 2019,” tutur penulis buku Tampulawo ini.
Pada tahun 2019, Aldus Horohiung juga pernah mengajak aktivis perempuan Sangihe, Jull Takaliuang, ke rumahnya. Jull mengungkapkan bahwa di sana, Aldus Horohiung menunjukkan berkas-berkas pendaftaran Bataha Santiago sebagai pahlawan nasional.
“Tahun 2019, dia ajak ke rumah dan dia tunjukkan buku ketikan Santiago Melawan VOC bersama berkas-berkas pendaftaran pahlawan nasional,” ungkap Jull.
Atas didikasinya maka pemerintah memberikan kesempatan kepada anaknya Veronika Horohiung sebagai ahli waris pahlawan Bataha Santiago. Dalam data yang diberikan ke sekretariat negara, Veronika Horohiung adalah cucu ke 10 lapis generasi Bataha Santiago hal itu dibuktikan dengan silsilah yang dilampirkan.
Aldus Horohiung meninggal pada 25 Desember 2022. Ia telah memberikan kontribusi besar dalam memperjuangkan pengakuan bagi pahlawan sejati Bataha Santiago. Sebuah dedikasi yang kini perlu diingat dan diapresiasi dalam sejarah Sangihe.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post