Manado, Barta1.com – Nyong dan Noni Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2023 baru saja usai di Mantos 3, Senin (3/4/2023). Dan berbagai peserta datang dari sejumlah daerah di Sulut, guna menampilkan dan memperkenalkan kebudayaannya.
Salah satunya adalah Herlina Efrilia Seke (21). Perempuan kelahiran Tombatu, 19 April 2001 ini. Mencoba menampilkan kebudayaannya, yakni Tounsawang kepada masyarakat Sulut secara umum. Dirinya dinobatkan sebagai top 6 besar dari 24 finalis yang ada, dan meraih predikat harapan II Noni Kebudayaan Sulut 2023.
Menurut Seke, budaya merupakan jati diri seseorang yang dimilikinya pada suatu daerah, yang sedianya dirawat nilai-nilainya dari generasi ke generasi. “Menjadi bagian dari Nyong dan Noni Kebudayaan Sulut, merupakan bagian dari merawat budaya kita agar terus terjaga,” singkatnya.
“Untuk itu, budaya wajib dilestarikan guna keberlangsungan anak dan cucu kita nantinya. Dengan budaya juga, dapat menimbulkan kesatuan dan persatuan akan persaudaraan,” ungkap anak pertama dari 3 bersaudara. Dari pasangan Decky Seke dan Helce Manoppo ini.
Dia menceritakan, bahwa dirinya mengadvokasi sebuah tradisi Ma’ando yang dilakukan oleh suku Tounsawang yang artinya juga mapalus dan menampilkan pakaian adat suku Tounsawang, serta menggunakannya pada pentas seni budaya (Talent Show) yang diiringi dengan musikalisasi puisi bahasa Tounsawang yang ditampilkan di depan masyarakat Sulut.
“Setelah mengikuti Nyong dan Noni Kebudayaan Sulut ini. Pastinya saya akan kembali mengedukasi tradisi adat istiadat kepada anak-anak muda untuk menerapkan kembali nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Dengan pengalaman, pengetahuan, dan relasi yang didapatkan ini sekiranya bisa terlaksanakan dengan baik nantinya,” tutur calon lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi Manado ini.
Dari pengetahuan dan pengalaman yang sudah ia lewati, Frili sapaan akrab teman-temannya itu, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada orang-orang tercinta. Atas setiap dukungan yang telah diberikan kepadanya. “Pertama saya ucapan terimakasih kepada orang tua sudah mendukung setiap kegiatan yang saya ikuti. Kemudian kepada teman baik saya Novi Rondonuwu, karena dia yang memotivasi dan mengasah saya tentang indahnya budaya kita suku Tounsawang,” ucapnya sembari menyebut kesulitan yang ia dapatkan selama mengikuti Nyong dan Noni ini, adalah ketika beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda pandangan.
“Sekali lagi, sebagai generasi muda sangat penting merawat, menjaga dan melestarikan budaya. Untuk itu sangat disayangkan jika ada anak muda yang melupakan jati dirinya. Mereka yang melupakan jati dirinya akan terlena dengan pergeseran cara hidup yang justru mengakibatkan terpecah belanya tali persaudaraan itu. Maka dari itu sangat penting bagi generasi muda untuk mencintai budayanya sendiri, serta menghormati budaya orang lain,” sahutnya.
Di balik keinginannya untuk terus melestarikan budaya Tounsawang ini. Frili merupakan anak yang mandiri dan suka membantu orang tuanya. Dirinya merupakan cucu perempuan pertama dari keluarga besarnya. Sejak kecil dirinya juga dididik keras oleh kedua orangtuanya. Perempuan yang pernah dinobatkan sebagai Wakil II Putri Jurusan Manajemen FEB Unsrat 2019 ini, semasa kuliahnya ia membuka usaha-nya sendiri hingga saat ini, yaitu akademia coffe dan ice di Kampus Unsrat. Dan ketika dia balik ke kampung halamannya dirinya juga membantu usaha ibunya, yakni salon.
“Saya mensyukuri setiap usaha bisa mencukupkan kebutuhan saya secara pribadi, dan sedikit bisa membantu kebutuhan keluarga. Sedianya juga usaha yang akan saya jalankan ini lebih besar dan sukses nantinya,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post