Karel Takumansang, pelukis, pematung, dramawan dan sastrawan Sulut dari era 1970.
Di awal 1980-an, sosok yang selalu tampil esentrik ini sempat membuat jagat sastra Manado menjadi heboh oleh serbuan pamflet hitam yang mengisi berbagai area di Kota Manado.
Pamflet-pamflet itu benar-benar terpasang atraktif dan provokatif. Dan, itu bukan pemandangan yang lumrah. Tapi itulah aksi Karel Takumansang, sang punggawa Teater Minim dan pentolan Studi Grup Manado (SGM) yang bermarkas di Kampus IKIP, Kleak, saat peluncuran buku puisinya berjudul “Kisruh”.
Buku kumpulan puisi Kisruh, sejatinya hanya sebuah buku tipis dengan isi 20-an puisi kontemplatif dan cinta, namun pengumuman penerbitannya dalam bentuk pamflet ukuran jumbo dan mewah, benar-benar menyerbu segala penjuru kota Manado.
Bila dikalkulasi, jumlah cetakan pamflet jauh berkali-kali lipat dari jumlah cetakan buku. Kehadiran buku kumpulan puisi Kisruh akhirnya menjadi buah bibir di mana-mana, dari Jalan Roda hingga 2 Kampus di Kleak, IKIP dan UNSRAT, dari Pasar Ikan Tua dan Jengki hingga Kantor Gubernur, Kodam dan Polda Sulawesi Utara Tengah.
Ketika itu, pemerintah Orde Baru cukup awas dengan aksi para seniman Indonesia. Andaikata buku kumpulan puisi Karel ini seprovokatif judulnya “Kisruh”, barangkali penyair dan dramawan esentrik itu sudah diinterogasi pihak keamanan. Beruntung isi bukunya adem-adem saja, bahkan melangkoli.
Namun dalam sejarah khazanah sastra Manado, kemunculan kisruh telah menjadi retihan motivasi yang membakar semangat kehidupan sastra di era itu.
Karel Takumansang dipandang sebagai salah satu figur penting yang memberi detakan keras pada nadi kehidupan teater Manado pada zamannya disamping Husen Mulahele dan Baginda M Tahar. Sarjana Seni Rupa lulusan IKIP Manado ini pendiri Teater Minim bersama dramawan Wempy Lontoh dan Wenny Pantaow.
Karel dikenal flamboyant dan kalem. Sebuah syal berwarna gelap selalu tampak mengantung di leher dramawan kondang dari Selatan Manado ini. Stile berpakaiannya dikategorikan “gaul’ untuk era dia.
Celana blue jins, kaos hitam dan sebuah jaket abu-abu panjang mencapai betis dan syal berwarna gelap dilengkapi sebuah topi pipih ala aktor-aktor Jerman, benar-benar menjadi ingatan akan keesentrikan Karel. Bicaranya pun sedikit, tapi aksi-aksi berkeseniannya waktu itu selalu menggemparkan dan memukau.
Teater Minim yang didirikannya di pertengahan 1970-an, berpusat di aula gereja GMIM Bethesda Manado. Karya-karya produksi Teater Minim sejak berdiri di antaranya lakon-lakon besar kelas dunia seperti ‘Kapai-Kapai’ karya Arifin C. Noer, bahkan naskah-naskah dramawan asing seperti Anton Pavlovich Chekhov dari Rusia, atau karya-karya Moliere dramawan Prancis yang bernama lengkap Jean Baptiste Poquelin.
Teater Minim, kendati cukup banyak memproduksi karya-karya besar, grup yang sangat berpengaruh di selatan Kota Manado ini hanya berumur kurang dari 10 tahun pasca-peralihan profesi para pendirinya.
Karel Takumansang dikemudian waktu lebih banyak berkarier sebagai kontraktor dan kolektor barang-barang antik, serta eksis di dunia seni rupa. Salah satu karya spektakuler Karel Takumansang di dunia seni rupa yaitu patung “Panjat Pinang” yang berada di Lapangan Sparta Tikala Manado.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post