• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 23, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Dua Jam Dalam Keindahan 81 Gambar di Pameran Wale Ne Pinaesaan

by Redaksi Barta1
25 Mei 2022
in Seni
0
Dua Jam Dalam Keindahan 81 Gambar di Pameran Wale Ne Pinaesaan

Pameran lukisan Wale Ne Pinaesaan. (foto: iverdixon/barta1)

0
SHARES
171
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

Gambar selalu punya cara memilih penikmatnya. Selain pengalaman estetis, yang saya timba dari sebuah gambar adalah ekspresi penggambarnya yang ingin melontar saya ke dalam semacam sebuah gelombang El Bosco.

Saat saya berencana mengunjungi pameran gambar itu, saya baru saja terpesona dengan catatan Enrique Molina yang menggambarkan kesepian diksi-diksi Pizarnik yang terhampar pada sebuah dunia yang halus yang hanya oleh karena keajaiban ia tidak memecah.

Dan, Selasa, 24 Mei 2022, saya tiba di sana pukul 11.45 wita. Aula Dinas Kebudayaan Sulut yang menjadi ruang pameran gambar dari 54 penggambar Sulawesi Utara itu nampak ramai oleh suara ceria anak-anak sekolah mengikuti acara apresiasi gambar dipandu pelukis Alfred Pontolonda dan Elbamun Mingkid.

Pada panel-panel yang dibangun dengan leter ‘U’ tersaji apik 81 gambar yang diberi efek pencahayaan khusus. Saya melakukan dua kali putaran di ruang pamer itu untuk menikmati satu demi satu gambar yang tersaji.

Menyelam di kedalaman estetika 81 gambar pada pameran gambar “Wale Ne Pinaesaan”, saya jadi ingat apa yang disebut dalam filosofi gambar yaitu mengabadikan semuanya.

Mereka menyajikan sebuah permadani kehidupan yang dibangun dari kedalaman ekspresi dan perenungan. Sebuah kehidupan yang kompleks yang berisi beragam ketegangan, nafas, aliran waktu dan sejarah.

Pada beberapa gambar saya menemukan diri saya, sebuah mimesis dari perasaan saya. Di sana saya terpesona dan berlama-lama menikmatinya seakan-akan gambar itu telah memilih saya sebagai penikmatnya.

Gambar-gambar itu begitu hidup, dan saya mendengar nafasnya berhembus. Mereka bergerak sebagaimana vitalitas kehidupannya. Dan saya menemukan sesuatu yang liris pada “Rano Ma’esa’an” karya Alvin J Tinangon, “Celebrating pain” Andre Koagouw, “Humans” Astrid Tuela, “Skema Komedi Tanpa Henti” Bensuryo Pambudi, “Everlasting Peace 1” Budiyatmi, “Jejak di daun” Djemi Tomuka, “Tuama Towo” Melati Rompas.

Pada “Noon” karya Terry Peter, saya terlontar jauh ke dalam bayangan diksi-diksi penyair Argentina Alejandra Pizarnik, yang menghadirkan perempuan yang bertakdir untuk ditatap. Sosok dengan luka tunggal yang melintas sendiri dalam gelombang El Bosco.

Meresepsi gambar bagi saya adalah membiarkan diri diringkusnya memasuki beragam balun gelombang renungan diri. Dan saya tak akan berhenti di sana, di dunia an sich yang bertaburan simbol-simbol. Justru di sanalah saya menikmati refleksi evaluatif yang sublim terkait problem manusia dan kemanusiaan.

Demikian saya merepsi “Bermula di Eden” Arie Tulus, “Humans” Astrid Tuela, “People Power” Jaya Masloman, “Aokigahara” Tasya Lumi. Di sana serangkaian arus satir yang muak dan kuat, menghempas-hempas, mengupas tamak menghalangi sukma yang harusnya bisa melihat dunia yang nyata sekaligus dunia religiositas yang indah, yang lembut.

Betapa kontekstual dan universalnya gambar-gambar itu oleh karena kemampuannya membangun citra hati nurani yang peka terhadap lingkungan sosio-kultural, dan problem aktual di sekitarnya. Ia bagai sebuah nyala api unggung yang memesona oleh karena lembut dan kekuatan melukainya. Saya menikmati semuanya dan takjub olehnya, dan gemanya tak berhenti menggaung, cahayanya tak henti berkilau, seakan ruang hati sepasang manusia yang jatuh cinta dalam situasi paling dramatis dipenuhi percikan gairah dan puitika. (*)

Barta1.Com
Tags: Alfred Pontolondoiverdixon tinungkipameran lukisanWale Ne Pinaesaan
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Aptar Umumkan Kerja Sama dengan Siklus Kembangkan Solusi Pengantaran Isi Ulang Bagi Konsumen

Aptar Umumkan Kerja Sama dengan Siklus Kembangkan Solusi Pengantaran Isi Ulang Bagi Konsumen

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Krisis Air di Koha Minahasa: Antara Proyek Wisata dan Ancaman Bencana 23 April 2026
  • Polimdo Sambut Kunjungan Chung Yuan Christian University: Membuka Peluang Kolaborasi dan Beasiswa Internasional 23 April 2026
  • Wali Kota Bitung Serahkan Sertipikat PTSL 2026, Upaya Dorong Tertib Administrasi Pertanahan 23 April 2026
  • HUT Ke-169 GMIST Bait-El Lapango Dirayakan, Gedung Ibadah Baru Diresmikan 22 April 2026
  • KONI Kepulauan Sangihe 2025–2029 Dilantik, Diharapkan Dongkrak Prestasi Olahraga Daerah 22 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In