Manado, Barta1.com – Masalah yang dialami petani pala Sulawesi Utara tak kunjung selesai. Padahal mereka adalah garda terdepan menjaga ‘aroma’ pala terus mewangi dan tetap menjadi yang terbaik di pasar ekonomi dunia.
Pala asal Siau, Kabupaten Sitaro misalnya. Bisa saja masih menjadi nomor satu dunia, namun bagaimana jika lima hingga sepuluh tahun ke depan? “Sudah banyak pohon pala yang tua di Siau dan perlu peremajaan. Tidak ada fasilitas penangkaran bibit dan tidak ada pelatihan dari instansi teknis terkait pengelompokkan mana pala kualitas A dan lain-lain. Kita petani intinya hanya menjual saja Rp 50 ribu per kilo. Tapi yang untung banyak adalah para pengumpul yang tidak punya kebun,” ujar Vicks, asal Siau, dalam diskusi Fokus Group Discussion (FGD) bertema: Pala di Sulawesi Utara: Sejarah, Sebaran dan Dinamika Sosial Budaya, Jumat (3/9/2021).
Senada disampaikan Boy Kalitouw. Petani pala asal Talawaan Bantik, Minahasa Utara yang mengaku memiliki 8 ribu pohon pala. “Namun yang kami nikmati dari penjualan masih cukup kecil. Tidak ada edukasi bagi kami untuk menjadikan pala sebagai primadona. Melihat mana pala laki, mana pala perempuan saja kami tidak tahu,” imbuhnya.
Kondisi itu, sebaiknya para petani pala Sulut wajib bersatu. “Perlu dibentuk komunitas-komunitas untuk bersama saling belajar dan menguatkan. Edukasi bagi petani pala sangat penting. Kita tidak boleh berharap dari pemerintah. Urusan pemerintah banyak, sehingga petani harus mengurus diri sendiri,” ujar Pitres Sombowadile, pemantik diskusi.
Sebelumnya, dia juga memaparkan bagaimana sejarah pala yang ada di Banda, Ternate dan Tidore lalu muncul di Siau yang punya kesamaan. Problem yang dialami petani pala sudah ada sejak dulu dari zaman VOC. “Sehingga penting bagi kita terutama petani untuk bersatu menjaga kualitas pala dan memberi keuntungan ekonomi,” ujarnya.
Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Manado, Apolos, menyampaikan diskusi ini dalam rangka penelitian mereka berjudul: Wangi Pala Bumi Utara Sulawesi: Jalur Rempah dan Koneksi Global. “Sebab wangi pala dan jalur rempah ini merupakan warisan dunia sehingga ke depan diharapkan berdampak bagi masyarakat secara umum dan khususnya petani pala,” kata lelaki asal Papua ini.
Peliput : Randy Dilo


Discussion about this post