• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, April 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus Opini

Gereja Massa

by Redaksi Barta1
17 Maret 2021
in Opini
0
Gambar ilustrasi: Christianindex.org

Gambar ilustrasi: Christianindex.org

0
SHARES
703
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan
Sovian Lawendatu

Gereja, sebagai persekutuan orang-orang Kristen, pada prinsipnya bukan massa. Benar, bahwa “persekutuan” dan “massa” sama-sama membentuk kumpulan atau kebersamaan orang-orang.

Namun, ada perbedaan hakiki antara “persekutuan” (communion) dengan massa (mass). Perbedaannya dijelaskan oleh filsuf Gabriel Marcel sebagai berikut.

Persekutuan (communion) adalah kebersamaan yang bersifat intersubjektif. Artinya, setiap individu diperlakukan atau memperlakukan diri sebagai subjek yang berotonomi (eksistensial). Mengapa demikian? Sebab kebersamaan dalam bingkai persekutuan adalah kebersamaan yang berlandaskan cinta kasih, dan cinta kasih itu, kata Marcel, adalah eksistensi hakiki Allah (God).

Kata kunci hakikat relasi antar-anggota persekutuan dalam filsafat Marcel adalah : I – Thou (Aku – Engkau). Ini berlaku secara vertikal dan horisontal.

Berbeda dengan persekutuan, massa adalah kebersamaan yang dibangun secara terobjektivisasi. Relasi antarindividu dalam massa dengan demikian bersifat “saling mengobjeki”. Serentak dengan itu, semua individu dalam massa menjadi objek kekuasaan yang berada di luar diri mereka.

Kata kunci hakikat relasi sesama manusia dalam massa adalah : I – It (Aku – Ia). Ini mengingatkan filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Memang ini perbedaan Marcel yang theis/monotheis dengan Sartre yang atheis.

Perbedaan hakiki antara Persekutuan dan Massa dalam pandangan Marcel tadi niscaya berimplikasi pada pola pikir dan sikap hidup manusia secara universal. Di dalam persekutuan, manusia membutuhkan keleluasaan berpikir rasional dan objektif demi tercapainya makna kehidupan bersama yang sesungguhnya. Sebaliknya, di dalam massa, manusia kehilangan individualitas, rasionalitas dan objektivitas karena massa hanya instrumen/objek, bukan subjek.

Marcel jelas merayakan persekutuan daripada massa. Perayaan ini mencapai titik temunya pada kedalaman makna ideal keberadaan Gereja sebagai persekutuan Kristen yang berlandaskan kasih Allah.

Tinggal persoalannya sekarang, bagaimanakah Gereja menjalani eksistensinya tersebut?

Fenomena yang muncul belakangan kebersamaan hidup kita sebagai Gereja atau di dalam Gereja cenderung terkikis dari makna persekutuan menjadi massa. Penyebabnya adalah pelayanan Gereja lebih dikelola dengan pendekatan kekuasaan daripada kasih.

Ekses dari keterkikisan itu adalah mencuatnya dominasi sikap irasional dan subjektivisme atas pemikiran kritis, rasional dan objektif. Salah satu contohnya adalah adu argumen seputar agenda pelaksanaan SMSI.

Persoalan begini seharusnya disikapi secara kritis, rasional dan objektif, karena SMSI adalah persoalan Tata Gereja yang lahir dari pemikiran-pemikiran akademis teologis/eklesiologis yang didukung dengan kajian-kajian linguistik, sosiologi, ilmu manajemen, bahkan ilmu hukum.

Tapi adu argumen di tengah-tengah kondisi kehidupan gereja yang sudah terjerembab ke selokan massifikasi membuat pemikiran kritis, rasional dan objektif hanya diperhadapkan dengan irasionalitas dan subjektivitas yang praksisnya lebih memperdengarkan gemuruh tempik sorak dukungan terhadap ketidakbenaran.

Irasionalitas dan subjektivitas itu lebih fenomenal di kutub “mayoritas diam” (silent mayority). Kutub inilah wajah sesungguhnya dari sebuah Gereja yang terlanjur menjadikan dirinya sebagai massa ketika kutub ini mengaminkan agenda pelaksanaan SMSI yang menabrak tatanan hakiki dalam organisasi gereja (baca: Tata Gereja). (**)

14032021

Sovian Lawendatu adalah pengajar, aktivis gereja dan admin Grup Transformasi GeMIM

Barta1.Com
Tags: GerejaKristenSovian Lawendatu
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Aktivis perempuan yang tergabung dalam GPS saat berada di Kantor DPRD Sulut. (foto: istimewa)

GPS Desak DPD I Golkar Ambil Sikap Kasus James Kojongian

Discussion about this post

Berita Terkini

  • GERAK Ungkap Cacat dalam Juknis Penyaluran Bantuan Bencana Gunung Ruang 25 April 2026
  • Terumbu Karang: Penjaga Kehidupan Laut dan Kepentingan Dunia 25 April 2026
  • Tragedi Lalu Lintas di Manado: Bayi 5 Bulan dan Penumpang Tewas, Dua Pengemudi Jadi Tersangka 24 April 2026
  • Dikda Sulut Diminta Turun ke SMAN 8 Manado, Bentuk Satgas Anti Pungli Jelang Kelulusan Siswa 24 April 2026
  • Manado Jadi Pusat Diplomasi Kelautan, Duta Besar CTI-CFF Bahas Ekonomi Biru Berkelanjutan 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In