Kamis, 14 November 2019, ada pemandangan menakjubkan di Bolaang Mangondow Raya (BMR). Sebanyak 105 desa di negeri Bogani ini secara serentak melakukan pemilihan langsung Sangadi (Kepala Desa). Ini bagian dari peristiwa demokrasi yang semarak.
Hari itu, para Aparatur Sipil Negara (ASN), Tenaga Harian Lepas (THL) dan tenaga honorer yang mukim di 105 desa mendapatkan jatah libur. Pemilihan melibatkan 81.159 pemilih. Para pemilih menyalurkan hak pilihnya secara demokratis pada 141 bilik Suara di 141 Dusun.
Hari-hari berikutnya, di tahun yang sama adalah waktu yang mengejutkan dan menggembirakan bagi Gita Ratnasari Tuuk (26). Perempuan kelahiran 22 Juli 1993 ini mendadak viral di media sosial, daring dan cetak di Indonesia. Tak saja pesona kecantikannya yang membuat orang menoleh, tapi keterpilihannya sebagai Sangadi di Desa Bombanon, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, menjadi fenomena tersendiri bagi kaum perempuan dan milenial. Seakan ada matahari baru yang terbit di tengah kultur demokrasi pemilihan kepala desa di bumi Bogani.
Kehadiran generasi semacam Gita yang muda, jenial dan visioner pada level kepimpinan sebuah desa yang notabene masih membaunkan aroma tradisional, tak saja menjadikan momentum pesta demokrasi tingkat desa ini ramai, namun ikut mengisi aliran sejarah demokrasi di tanah kelahirannya.
Pemilihan Sangadi umumnya di daerah Bolaang Mongondow Raya (BMR) saat ini, prosesnya dilaksanakan menurut aturan perundang-undangan terkini. Tapi tradisi pemilihan langsung semacam itu telah memiliki akar kokoh dalam sejarah sejak masa para leluhur Bolaang Mongondow. Hajatan yang digelar tiap lima tahun ini disesuaikan dengan habis masa jabatan Sangadi sebelumnya. Pemilihan Sangadi seperti di daerah lain, juga melibatkan partisipasi masyarakat secara umum, tak jarang, tensi sering memanas karena perbedaan pilihan.
Dalam prosesnya, Panitia Pemilihan Sangadi membuka informasi pencalonan kepada masyarakat, kemudian dilakukan pemilihan langsung yang digelar di satu tempat pemungutan suara. Pemilihan Sangadi biasanya tidak menyebutkan nama, namun menggunakan lambang tumbuhan seperti padi, kelapa atau kapas. Sangadi terpilih yakni mereka yang memperoleh suara terbanyak saat perhitungan suara.
Sangadi biasanya dipilih warga berdasarkan ketokohan atau faktor kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari. Di Bolaang Mongondow Timur misalnya, pemerintah setempat sering menggelar pemilihan Sangadi secara serentak sehingga nuansa ini terlihat di mana-mana.
Salah satu Sangadi hasil pilihan di Desa Bongkuday, Kecamatan Modayag, Boltim adalah Delly Mamonto. Sebagai tokoh perempuan di desanya, Delly mendapat dukungan dari tokoh masyarakat untuk ikut menjadi salah satu kandidat pada Pilsang (Pemilihan Sangadi) tahun 2018.
Sebagaimana Gita Gita Ratnasari Tuuk, sangadi Bombanon, Delyanty Mamonto. SE adalah generasi BMR yang memiliki watak kepemimpinan yang diwarisi dari kultur leluhurnya. Ia menjabat Kepala Desa Bongkudai sejak 2018. Kendati tetap melekat erat pada tradisi budaya moyangnya, sebagai generasi terkini, penampilannya nampak berbeda. Ia modern dan Fashionable. Ia memiliki latar belakangnya sebagai penyanyi. Kebiasaan ngomongnya tanpa basa-basi. Disaat bekerja ia begitu tegas, tanpa kendor sedikitpun. Apapun bentuk kebijakan yang menyimpang akan dihadapinya.
Sangadi wanita sekaligus musisi ini, banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga saat ini. “Saya lahir di Bongkudai, sejak kecil memang sudah memiliki jiwa entertain, banyak ajang saya ikuti sebagai pembentukan karakter yang melatih rasa percaya diri saya. Banyak juga organisasi yang saya ikuti sebelum dan sesudah saya jadi sangadi. Saya pernah menjabat Ketua Fatayat NU (Kowani) Boltim tahun 2012, dan sekarang sebagai sekretaris Fatayat NU Boltim. Saat terpilih menjadi Sangadi Bongkudai, pernah juga menjadi Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Sempat masuk juga di jajaran pengurus KNPI Boltim, dan banyak organisasi lainnya,” tutur Sangadi nyentrik ini.
Selain sebagai seorang entertainer yang mumpuni dan berprestasi, ia juga pernah Juara 1 ajang Lomba Pidato bahasa Inggris mewakili Kab. Bolaang Mongondow di Manado tahun 1997, tahun 1998. Lewat asuhan vokal Bambang Ginoga ia mendapat juara 1 ajang Bintang Vokalia tingkat umum se-Bolaang Mongondow yang saat itu di adakan di gedung Gelora Ambang Kotamobagu. Pada 2006 terpilih menjadi Nanu Bolmong, dan di tahun 2007 terpilih sebagai the best couple dalam ajang pemilihan model sophie martin bersama Cakra yang saat itu menjabat sabagi Uyo 2006.
Kepercayaan dirinya dalam memimpin tak lain adalah hasil dari perjalanan hidupnya yang sudah matang di berbagai panggung publik. “Sifat seorang musisi itu fleksibel, maka profesi itu bisa dilekatkan pada bidang apa saja, baik itu panggung hiburan, hingga ke panggung politik,” tukasnya.
Menurut Delly, tiga tahun kepemimpinannya sebagai Sangadi, banyak pelajaran yang Ia peroleh, mulai dari keluhan warga, hingga menyelesaikan persoalan di tingkat desa. Delyanty Mamonto sebagai Sangadi, sempat viral di medsos pada Februari 2018. Karena saat menghadiri Rakornas di Jakarta ia mendapat kesempatan berbicara langsung kepada Menteri dan Presiden, dan ia terpilih dan masuk di 5 Kepala Desa Terbaik se-Indonesia.
“Saat ada kesempatan bicara, saya gunakan itu dengan sebaik-baiknya. Ada empat poin yang saya utarakan, pertama, inti dari rencana pembentukan Provinsi BMR, kedua, tentang kesejahteraan Kepala Desa. Ketiga, meninjau dan memprogres kembali program NawaCita, dan ke empat, menseriusi atau mempercepat perubahan data statistik, hingga sebagai contoh program PKH itu bisa tersalur dengan benar melalui data statistik terbaru,” ungkap Deli sapaan akrabnya.
Editor : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post