• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, November 3, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus Opini

Filsafat Waktu, Kata, dan Keadilan: Membaca Ulang Tahun Yoseph Ikanubun dalam Praksis Jurnalisme Profetik

by Meikel Eki Pontolondo
3 November 2026
in Opini
0
Filsafat Waktu, Kata, dan Keadilan: Membaca Ulang Tahun Yoseph Ikanubun dalam Praksis Jurnalisme Profetik
0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Bung Hermet

Merayakan ulang tahun pada hakikatnya bukanlah sekadar perayaan melintasnya waktu secara kronologis, melainkan sebuah pemberhentian sejenak untuk menatap kairos—momentum kualitatif yang sarat makna dalam lintasan eksistensi manusia. Filsuf Hannah Arendt (1958) melalui konsep natality (natalitas) mengingatkan kita bahwa kelahiran bukanlah peristiwa masa lalu yang telah selesai, melainkan kapasitas terus-menerus manusia untuk memulai sesuatu yang baru, untuk mengambil tindakan, dan bersuara di ruang publik. Kerangka pemikiran ini beresonansi dengan sangat kuat ketika kita menelisik jejak langkah eksistensial Yoseph E. Ikanubun, atau yang karib disapa Ocep. Lahir di ufuk timur Merauke pada tahun 1977, perjalanan hidupnya adalah sebuah teks terbuka yang terus ditulis dengan tinta idealisme. Ia berangkat dari latar belakang pendidikan keguruan, namun sejarah memanggilnya untuk mengabdikan hampir separuh napas hidupnya di gelanggang jurnalisme. Pergeseran dari seorang guru di ruang kelas menjadi “guru” di ruang publik melalui kerja-kerja jurnalistik bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah panggilan otentik yang patut direfleksikan secara kritis dari dimensi filosofis, etis, sosio-politis, dan spiritual.

Epistemologi Ruang Kelas ke Ruang Publik

Secara filosofis, transisi Ocep dari dunia pendidikan formal dan guru menuju jurnalisme adalah sebuah perluasan horizon epistemologis. Baik guru maupun jurnalis sejatinya digerakkan oleh dorongan ontologis yang sama: pencarian dan penyebaran kebenaran (aletheia). Kovach dan Rosenstiel (2021) menegaskan bahwa kewajiban utama jurnalisme adalah pada kebenaran dan loyalitas pertamanya adalah kepada warga negara. Dalam konteks ini, Ocep tidak pernah menanggalkan jubah pendidiknya; ia hanya memperluas ruang kelasnya menjadi sebesar ruang publik.

Kapasitas edukatif Ocep termanifestasi secara konkret melalui inisiatifnya yang tak kenal lelah berkolaborasi dengan berbagai instansi untuk melatih siswa-siswi SMA/SMK dan komunitas Sekolah Rakyat di Sulawesi Utara tentang dunia jurnalistik. Praktik ini menunjukkan bahwa baginya, jurnalisme bukan sekadar instrumen pelaporan berita, melainkan alat pencerahan budi. Meminjam pemikiran Ricoeur (1992) tentang identitas naratif, Ocep mengonstruksi identitas dirinya bukan melalui apa yang ia miliki, melainkan melalui narasi-narasi keadilan dan edukasi yang ia bagikan kepada generasi muda. Ia mengembalikan fungsi media ke titik nolnya: sebagai medium yang memberdayakan akal budi, bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu yang dangkal.

Melawan Selebrasi Dangkal, Membangun Praksis Pemberdayaan

Jejak sosio-politis Ocep tidak bisa dilepaskan dari rahim aktivismenya di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Pemuda Katolik. Ingatan saya sering kali terlempar kembali ke masa-masa formasi intelektual di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Seminari Pineleng dan Skolastikat MSC Pineleng. Lapangan bola kaki Skolastikat menjadi saksi bisu perjumpaan kami. Di atas rumput hijau itu, di antara peluh dan perebutan bola, kami belajar tentang sportivitas, strategi, dan aturan main—metafora yang sangat tepat untuk kehidupan berdemokrasi. Kami kerap berdiskusi dan berbagi keprihatinan yang sama: sebuah kegelisahan kritis melihat organisasi gerejani maupun ormas yang lebih sering terjebak dalam selebrasi seremonial, formalitas tanpa isi, dan penghamburan anggaran, alih-alih fokus pada kaderisasi dan pemberdayaan riil.

Tentu, dalam dialektika pemikiran, kami kadang berbeda pendapat. Namun, perbedaan itu dikelola dalam semangat kedewasaan berwacana. Kegelisahan terhadap “organisasi selebrasi” ini sejalan dengan kritik pedagogis Paulo Freire (1970), yang menolak model pendidikan atau organisasi “gaya bank” (banking concept) yang pasif dan hierarkis. Sebagai antitesis, Ocep memilih jalan praksis—tindakan dan refleksi yang diarahkan untuk mengubah struktur yang menindas. Kritik sosiologisnya terhadap organisasi yang elitis ia wujudkan dengan merawat akar rumput, turun langsung melakukan kerja sama lintas sektoral, dan memastikan bahwa kaderisasi pemikiran jurnalisme tersalurkan dengan baik kepada mereka yang berada di pinggiran wacana.

Merawat Marwah Kata di Tengah Ekosistem Media

Dalam lanskap media modern yang sering kali terjerembap pada pragmatisme ekonomi dan clickbait, menjaga marwah kata adalah sebuah perjuangan etis yang berat. Ocep membuktikan bahwa idealisme dan profesionalisme dapat berjalan beriringan. Keterlibatannya yang aktif dan posisinya sebagai pengurus di Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menunjukkan komitmennya pada ekosistem pers yang sehat.

Kepemilikan sertifikat kompetensi jurnalis dari Dewan Pers bukanlah sekadar selembar kertas legalitas, melainkan representasi dari tanggung jawab moral. Terbukti, ia turut andil dalam menyelesaikan berbagai sengketa dan kasus pers di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Ia berdiri sebagai penengah yang adil, memastikan bahwa kebebasan pers tidak kebablasan menjadi anarki, dan pada saat yang sama, kemerdekaan berekspresi tidak dibungkam oleh kekuasaan.

Integritas etis ini pulalah yang melatarbelakangi keputusan saya saat mengundang Ocep sebagai narasumber utama dalam kegiatan penguatan kapasitas bagi Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Utara. Di hadapan para pranata humas pemerintah, ia meletakkan standar bahwa komunikasi institusional harus berbasis pada transparansi, akurasi bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta penghormatan terhadap hak publik untuk tahu. Dalam perspektif etika deontologis, Ocep menjadikan kebenaran jurnalistik sebagai imperatif kategoris—kewajiban moral yang harus dijalankan tanpa syarat (Kant, 1785/1993). Ia menunjukkan bahwa kolaborasi jurnalis dengan lembaga penegak hukum dan instansi pemerintah bukanlah bentuk kooptasi, melainkan sinergi strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jurnalisme Sebagai Panggilan Kenabian

Pada akhirnya, seluruh kerja keras, diskursus, dan idealisme Yoseph Ikanubun bermuara pada satu pertanyaan eksistensial: di mana letak spiritualitas dari semua ini? Bagi Ocep, spiritualitas tidak pernah dibatasi oleh tembok-tembok altar atau kesalehan ritualistik yang sempit. Spiritualitasnya adalah spiritualitas profetik (kenabian) yang membumi. Seperti para nabi yang berseru di padang gurun memperjuangkan keadilan, ketikan jarinya di atas keyboard adalah doa yang menjelma dalam tindakan.

Pengalamannya bersinggungan dengan realitas keras di lapangan, mendampingi masyarakat, dan mengkritik hierarki yang lalai pada tugas penggembalaan substantif, merupakan bentuk teologi pembebasan dalam praksis sehari-hari. Seperti yang diungkapkan oleh Gutierrez (1971), keselamatan sejati harus mencakup pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan sosial dan kebodohan. Ocep menghayati peran jurnalistiknya sebagai medium pelayanan lintas batas agama, etnis, dan kelas sosial.

Bertambahnya usia bagi Yoseph E. Ikanubun di tahun ini adalah sebuah momentum refleksi yang agung. Dari Merauke ke panggung jurnalisme Sulawesi dan sekitarnya, dari lapangan bola Skolastikat Pineleng hingga ke mimbar-mimbar pelatihan literasi media; ia telah membuktikan bahwa usia bukan sekadar deret angka yang mendekatkan manusia pada kefanaan, melainkan akumulasi kebijaksanaan yang terus diwariskan. Ia telah mencontohkan bahwa menjadi jurnalis yang humanis, elegan, dan powerful tidak membutuhkan bahasa yang rumit, melainkan membutuhkan hati yang tulus, diksi yang jujur, dan keberpihakan yang tak tergoyahkan pada keadilan.

Selamat merayakan hari jadi, Bro Ocep. Teruslah menjadi mata air kewarasan di tengah keringnya integritas, dan biarkan pena penziarahanmu terus menorehkan sejarah keberpihakan pada kemanusiaan.

 

Referensi
1. Arendt, H. (1958). The human condition. University of Chicago Press.
2. Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Herder and Herder.
3. Gutierrez, G. (1971). A theology of liberation: History, politics, and salvation. Orbis Books.
4. Kant, I. (1993). Grounding for the metaphysics of morals (J. W. Ellington, Trans.). Hackett Publishing Company. (Original work published 1785).
5. Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2021). The elements of journalism: What newspeople should know and the public should expect (4th ed.). Crown.
6. Ricoeur, P. (1992). Oneself as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press. (Original work published 1990).

Barta1.Com
Tags: Bung HermetYosep Ikanubun
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Filsafat Waktu, Kata, dan Keadilan: Membaca Ulang Tahun Yoseph Ikanubun dalam Praksis Jurnalisme Profetik 3 November 2026
  • Gandeng Polimdo, PT IMIP Buka Peluang Kerja bagi Lulusan: Target Rekrut 300 Karyawan 3 November 2026
  • Makisanti Soroti Penurunan Anggaran Jaminan Sosial Tenaga Kerja 2027, Minta Pemprov Sulut Tingkatkan Alokasi 3 November 2026
  • Vionita Kuera Minta BPSDMD Perhatikan Kebutuhan ASN di Wilayah Kepulauan 3 November 2026
  • Terpilih Ketua Presidium DPC PMKRI Cabang Tondano, Della: PMKRI Rumah Belajar 3 November 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In