Manado, Barta1.com – Solidaritas dan kepedulian untuk saling mendukung dalam menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, terus digelorakan.
Semangat tersebut diwujudkan oleh sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Peduli Sangihe. Di antaranya Himapro Teologi, GMKI Cabang Manado Komisariat SolaFide, BEM Fakultas Teologi, BEM FPIK, BEM FSISK, serta Rukun Taroda Wanua’u IAKN Manado.

Sebagai bentuk kepedulian, mereka menyalurkan bantuan berupa bahan makanan untuk mendukung perjuangan para relawan yang masih berjibaku menangani karhutla, khususnya di Desa Mala.
Ketua Himapro Teologi IAKN Manado, Gilbert Nusa, membenarkan bahwa bantuan tersebut telah disalurkan ke posko yang berada di Desa Mala.
“Bantuan kebakaran untuk warga dan relawan diserahkan di Desa Mala, di mana masyarakat dan relawan masih berjuang memadamkan api,” ungkapnya.
Gilbert berharap bantuan yang telah disalurkan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun para relawan yang berada di lokasi.
“Kami berharap semoga dengan bantuan ini bisa bermanfaat untuk warga Desa Mala dan relawan. Kiranya juga bisa membantu dalam proses pemadaman api,” ujarnya.
Mengenal Gunung Awu, yang kini terjadi Karhutla.
Gunung dengan ketinggian 1320 mdpl ini berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Berdasarkan catatan sejarah gunung ini termasuk gunung api yang mempunyai masa istirahat yang panjang. Namun, setiap letusannya selalu tergolong besar. Letusan dahsyat pernah terjadi pada tahun 1711, 1812, 1856, 1822, 1892, dan 1966 dengan aliran piroklastik dan lahar dahsyat dengan total 11.048 korban jiwa, akibat seluruh letusan sejak 1700.
Dikutip dari vsi.esdm.go.id, berdasarkan catatan sejarah yang diketahui, dari tahun 1640 sampai dengan 1966 telah terjadi 5 kali erupsi yang menelan korban serta kerugian yang cukup besar. Tahun 1711 erupsi mengakibatkan daerah antara Tabukan dan Tahuna hancur. Sekira 3.000 orang, 2.030 orang di Kendar, di antaranya raja Syamsialam, 70 orang di Koloza dan 408 orang di Tahuna menjadi korban.
Tahun 1812 terjadi erupsi besar dan akibat serupa dengan yang terjadi pada tahun 1711. Pohon kelapa hancur di seluruh pantai. 2.806 jiwa penduduk Tabukan, Kendar dan Kolongan menjadi korban. Erupsi disertai awan panas, lahar erupsi dan lahar hujan. Kampung Tariang, pondok Pembalarian, Labakassin, Patung dan Hilang sama sekali hancur.
Tahun 1892 terjadi erupsi besar Hampir semua kampung sebelah pantai utara hancur. Kampung yang paling parah adalah yang terletak antara Sawang dan Tabukan. Jumlah korban semuanya 1.532 orang, antara lain dari daerah Mala, Akembuala, Angges, Mitung, Kolongan, Meti, Kendar dan Tariang. Selain awan panas, lahar juga mengakibatkan banyak korban berjatuhan di Gereja Sawang dan Kalasuge.
Pada 1966 pukul 08.20 tiba-tiba kelihatan asap tebal membubung naik dari kawah Gunung Awu, kemudian berekspansi jauh ke udara menyerupai awan ledakan sebuah bom atom. Kepulan asap tebal ini segera disusul suara gemuruh yang kemudian berhenti beberapa saat.
Kira-kira satu jam kemudian terdengar suara ledakan yang lebih kuat, segera disusul asap tebal dan abu yang menutupi seluruh daerah puncak. Peristiwa ini berlangsung sampai dengan pukul 13.30.
Akibat erupsi, daerah yang dilanda awan panas meliputi daerah lingkaran keliling kawah Gunung Awu dengan jari-jari maksimum 5 km dari kawah, dan di beberapa lembah sungai sampai tepi laut sejauh 7 km. Daerah tersebut musnah sama sekali dan tertimbun endapan awan panas.
Daerah yang dilanda lahar erupsi. Meliputi daerah sungai yang berhulu di daerah puncak. Daerah yang tertutup bahan lepas. Terutama di sekitar Kendar yang punah sama sekali, dan daerah lainnya. Korban 39 orang, terdiri dari 2 orang petugas gunungapi, 13 orang di Kendar , 1 orang di Sawang, 5 orang di Baku, dan 18 orang di Mala.
Karakteristik erupsi Gunung Awu dapat bersifat magmatik eksplosif, efusif maupun freatik. Erupsi terakhirnya pada Juni 2004 menghasilkan kolom erupsi setinggi 2 km di atas puncak dan menyisakan kubah lava di dalam kawahnya yang memiliki diameter sekitar 370 meter dan tinggi sekitar 30 meter.
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post