Manado, Barta1.com – Melukis bagi Trifena Tuna bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan sebuah karya. Bagi seniman muda ini, melukis telah menjadi ruang aman untuk berekspresi sekaligus terapi dalam kesendirian.

Hal itu diungkapkan Trifena kepada Barta1.com, Jumat (28/08/2026).
Kecintaannya terhadap seni lukis ternyata telah tumbuh sejak usia dini. Sosok sang ayah menjadi pintu awal yang memperkenalkannya pada dunia seni.
“Ketertarikan dengan seni lukis sejak masih kecil, semua karena seorang ayah yang senang melukis. Dia mengajarkan dan mendampingi saya dalam setiap proses hingga diikutkan lomba melukis,” ungkapnya.
Bagi Trifena, melukis kembali menemukan ruangnya ketika ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. Di tengah kesendirian, aktivitas yang sempat lama ditinggalkan itu kembali menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
“Sekali lagi, melukis adalah ruang aman dan terapi dalam berekspresi,” singkatnya sambil memancarkan senyuman.
Iman dan Kehidupan Menjadi Sumber Inspirasi.
Ketika ditanya mengenai peristiwa yang paling berpengaruh dalam perjalanannya sebagai seorang pelukis, Trifena menyebut iman dan pengalaman hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari karya-karyanya.
“Perjalanan dan pengalaman iman saya secara pribadi, keluarga, alam dan kehidupan sehari-hari yang memberikan pengaruh dalam dunia melukis ini,” ujarnya.
Perjalanan itu pula yang kemudian membawanya pada keberanian untuk memperkenalkan karya-karyanya kepada ruang publik.
“Pasca saya berhenti bekerja di tahun 2022 di dunia perbankan, hobi ini yang sempat terhenti sejak kecil karena sebuah kesibukan, kemudian mencoba lagi sebagai bentuk terapi untuk kesembuhan fisik dan mental. Saya mencoba membagikan setiap karya dalam setiap perjalanan kehidupan itu, dimulai dari sosial media dan muncul banyak tawaran untuk membeli lukisan dan mengajar workshop, serta bisa dalam agenda pameran,” ucapnya.
Dari sana, kecintaannya terhadap dunia melukis semakin tumbuh. Dukungan keluarga dan sahabat menjadi kekuatan yang membuatnya berani mengambil langkah lebih jauh.
“Karena dukungan keluarga dan teman-teman, saya memberanikan diri untuk melangkah dan ambil bagian dalam semua kegiatan,” kata dia.
Ketika Tantangan Kesehatan Tak Menghentikan Langkah.
Setiap perjalanan tentu memiliki tantangan. Demikian pula dengan perjalanan Trifena sebagai seorang pelukis.
Ia pernah menghadapi tantangan besar ketika didiagnosis dokter mengalami HNP Cervical (saraf terjepit) pada bagian tulang belakang leher, yang berdampak hingga ke tangan kanannya—tangan yang digunakan untuk melukis.
“Saya pernah didiagnosis oleh dokter mengalami HNP Cervical (saraf terjepit) di bagian tulang belakang leher yang berpengaruh sampai pada tangan kanan saya, yang dipakai untuk melukis. Hal itu menjadi tantangan terbesar yang dilewati saat proses berkarya dan beraktivitas karena harus sambil menjalankan terapi fisik,” imbuhnya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat perempuan berparas cantik ini berhenti berkarya. Ia terus berjuang menghadirkan karya-karya yang lahir dari pengalaman personalnya.
“Karya saya semuanya hadir dari mengkreasikan pengalaman pribadi,” imbuhnya sambil tersenyum.
Sketsa sebagai Fondasi Awal.
Dalam proses menciptakan sebuah karya, Trifena selalu memulainya dari sebuah fondasi sederhana, yakni sketsa.
Ia menjelaskan, sebelum masuk ke tahap pembuatan karya, dirinya terlebih dahulu membuat sketsa sederhana sebagai pijakan awal untuk kemudian dikembangkan melalui eksplorasi.
“Saat masuk dalam pembuatan karya, saya mencoba memberi ruang kepada diri sendiri untuk bereksplorasi dan menemukan hal-hal baru tanpa meninggalkan fondasi awal yang sudah dibangun.”
Namun, lebih dari sekadar proses artistik, Trifena menempatkan iman pribadinya sebagai bagian terpenting dalam setiap karya yang diciptakannya.
“Namun, dalam setiap karya yang paling penting adalah sebuah iman pribadi saya, di mana bisa dipertemukan dengan orang-orang yang bisa merasakan dan mengalami hal yang sama dan membawa berkat bagi mereka sebagai penikmat seni,” ucapnya.
MEMOAR dan Upaya Menghidupkan Ekosistem Seni di Manado.
Tentang pameran MEMOAR, Trifena mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kerinduan dari pelaksana, dalam hal ini Home Art Home Creator dan para seniman, untuk mengembangkan ekosistem seni di Manado.
Pameran tersebut juga menjadi ruang untuk mengangkat karya para seniman perempuan serta seniman-seniman baru di Kota Manado.
Menurut Trifena, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran MEMOAR memiliki keterikatan erat dengan perjalanan masa lalunya.
“Semua karya yang ditampilkan bagian dari masa lalu. Kita tidak bisa melupakan masa lalu. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup. Kita hanya butuh berdamai dengan masa lalu, di mana bisa mensyukuri hari ini, dan melangkah ke depannya,” tuturnya.
Dalam proses penciptaan karya, setiap prosesnya pun didampingi oleh kurator.
Bagi dirinya, setiap lukisan bukan sekadar visual yang hadir di atas kanvas. Di dalamnya terdapat pengalaman, perjalanan, iman, pergumulan, sekaligus upaya untuk berdamai dengan masa lalu.
Ia menyebut salah satu karya yang paling personal dalam perjalanan berkaryanya adalah lukisan berjudul “Tempat Pertama.”

Karya berukuran 30 x 40 itu, karya 2026 Trifena Tuna. Dia mendiskriminasikan “Tumbuh di keluarga yang rumit, membuat saya belajar tentang memahami trauma dan luka keluarga. Sebelum kita keluar rumah, pergi ke sekolah, duduk di tempat ibadah, pergi ke sekolah minggu, hati kita dibentuk pada masa kecil kita di dalam rumah. Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang cinta, kepercayaan, identitas, dan perjalanan iman dengan Tuhan.”
” Tumbuh di rumah yang penuh cinta atau penuh luka dan penderitaan akan membawa dampak yang dalam saat kita beranjak dewasa. Bahkan jika kita bertumbuh dengan kasih sayang, tidak ada keluarga yang sempurna, tidak ada manusia yang sempurna,” tulis Trifena.
Berada di keluarga yang penuh luka dan trauma, lanjut deskripsinya, membuat dirinya belajar terus membuka jendela hati. Sama seperti cahaya yang masuk melalui jendela yang membawa terang dalam rumah, begitu juga hati yang terbuka untuk belajar menerima kekurangan keluarga, rela dibentuk oleh Tuhan, untuk mengalami melihat cahaya pemulihan dalam keluarga.
” Keluarga adalah anugerah, tempat menyembah Tuhan, tempat kita berjalan bersama-sama, tempat belajar mengelola apa yang Tuhan percayakan, tempat pulang yang paling aman. Rayakan dan bersyukurlah atas keluarga kita, ” akhir deskripsi dari karya “Tempat Pertama”

Bukan saja itu, rupanya Trifena memiliki beberapa karya lainnya, dengan judul : “Gema suara dan rasa.”
Lukisan berukuran: 30×40 dengan tahun karya: Agustus, 2026 mendeskripsikan tentang pertama kalinya suara Trifena bergema di Gereja.
“Salah satu hal yang membawa saya memulai perjalanan di dunia seni sebagai penyanyi. Berdiri dengan membawa semua ketakutan, rasa tidak percaya diri, malu, bingung, dan kegelisahan dari kekacauan di rumah. Di sisi lain ada perasaan yang baru pertama kali dialami saat itu. Senang, bangga, bebas, tenang, sukacita. Sesuatu yang sulit saya ketika dirumah,” ungkap Trifena melalui deskripsi.
Setelah dewasa dan mengingat moment ini, ia percaya di tengah perasaan yang campur aduk itu, Tuhan hadir. Di tengah ruangan yang terasa gelap, cahayaNya hadir memberi harapan. Dia mengatur setiap moment, Dia mengkaruniakan kemampuan dan talenta, dan Dia punya tujuan atas semuanya.
Mazmur 146:2 : Aku mau memuji Tuhan selama hidupku dan menyanyi bagi Allahku selama aku ada.

Begitupun dengan karya selanjutnya berjudul : ” Jehovah Rapha”. Karya berukuran 40×50 dengan tahun karya: Agustus, 2026. Dengan deskripsi :Psalms 30:2 O Lord, my healing God, I cried out for a miracle and you healed me!
Healing from childhood trauma is not easy, but its a beautiful journey with God. Setiap bekas luka dan perjuangan menceritakan teriakan jiwa yang remuk dan kasih Tuhan yang tidak terbatas yang menolong, menyembuhkan, dan memulihkan. Tuhan bukan hanya menolong dan memulihkan, tapi Dia mengajarkan cara ber kemenangan, mengubah hati dan cara berpikir, dan menuntun untuk menghidupi identitas dan panggilan yang Dia berikan.
“Masa lalu tidak menentukan identitas kita dalam Tuhan. Bagaimanapun cara kita ada di rahim ibu, apapun cara kita lahir ke dunia, seburuk apapun masa kecil kita.. Jika kita ada di dunia ini, Tuhan punya tujuan dan rencana yang indah dalam hidup kita,” tulis dalam deskripsinya.

Ada pun karya lainnya, yakni : “Janji senja” . Karya berukuran 40×50 dengan tahun Agustus, 2026 mendiskriminasikan tempat favorit melihat senja yang selalu indah di kota Manado.
Bersyukur tinggal di kota yang bisa melihat pemandangan lautan dan matahari terbenam hampir setiap hari dengan akses yang sangat mudah. “Menikmati keindahan ini selalu membawa saya merenungkan betapa luar biasanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta.”
Keindahan-Nya terpancar melalui alam ciptaan-Nya. Seperti senja yang hadir kembali membawa keindahan, seperti itulah keindahan janji Tuhan yang membawa harapan. Senja selalu mengingatkan bahwa jiwa yang remuk akan selalu mendapatkan ketenangan.

Selanjutnya ada karya berjudul: “I speak blessing to my City.” yang berukuran
50×60 dengan tahun karya Agustus, 2026, dengan Deskripsi: “Kota kelahiranku yang indah, tempat menjalani kehidupan. Semakin dewasa saya semakin belajar untuk mencintai kota dimana saya tinggal. Kita tidak bisa memilih akan lahir di kota mana, tapi kita bisa memilih menjadi masyarakat seperti apa bagi kota kita. ”
Usahakan kesejahteraan kota dimulai dari rumah, keluarga, tempat bekerja, dan dimana kita diutus. Doakan dan perkataan berkat. Kesejahteraan kota adalah kesejahteraan kita dan generasi ke depan.
Let’s speak blessing for our beautiful city!. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post