BARTA1.COM– Pada Juni 2025, di puncak Panding, Deahe, Siau, itu terakhir kali saya berjumpa dengan Jolli Daud Horonis. Perjumpaan ini terjadi saat saya menghadiri pemakaman ayahnya di desa tinggi itu, yang harus didaki dengan cara yang mendebarkan.
Bahkan saya harus berjalan mundur untuk mencai puncaknya.
Di sana, tak jauh dari rumahnya, di bawah rindang pohon pala, sambil menunggu jam pemakaman, kami menepi sejenak dan berbincang. Ia nampak sehat, dan pandangan kesusasteraannya begitu mendalam.
Ia begitu begitu berapi-api bicara banyak hal, terutama masalah politik dan kebudayaan, termasuk buku antologi puisi kedua kami yang masih dalam persiapan penerbitan.
Terakhir, kami bedua menerbitkan sebuah buku Antologi Puisi bersama berbahasa Sangihe berjudul “Daroa, Sasasa, Sinasa” yang diterbitkan Teras Budaya Jakarta, 2024. Buku itu memuat 50 puisi karya saya dan 50 puisi karya penyair Jolli Daud Horonis.
Buku itu dapat disebut sebagai buku puisi modern berbahasa Sangihe pertama yang pernah diterbitkan.
Hari ini, Jumat, 13 Februari 2026, saat membuka pagi, saya mendengar kabar kepulangannya. Itu kabar yang sangat menyedihkan hati. Ia pergi disaat usia masih sangat segar buat menumpahkan segala kegelisahan pikir dan kreativitasnya.
“Selamat jalan penyair, esais dan pemikir Nusa Utara yang cerdas. Kau telah meninggalkan sejumput karia jenial peradaban semasa hidupmu.”
Penyair yang akrab disapa Jolli Horonis ini adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Lahir di Deahe, Kecamatan Siau Timur pada 5 Agustus 1984.
Ia aktif dalam kegiatan sosial kebudayaan melalui organisasi Masyarakat Adat Nusantara (MATRA). Ia juga peneliti yang aktif menulis karya sastra, sejarah dan budaya, juga politik.
Tulisan-tulisannya bertebaran di berbagai media massa. Sejumlah tulisan tentang sastra, budaya dan sejarah Sangihe dimuat di zonautara.com dan barta1.com. Tulisan tentang geopolitik di bibir pacific di muat dalam jurnal global review (globalreview.com) pimpinan Hendrajit dan media lintasutara.com.
Ia alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA di Tondano. Di kampus aktif dengan organisasi kemahasiswaan baik intra kampus maupun ekstra kampus.
Menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa da Sastra Indonesia tahun 2006 – 2008. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA tahun 2008 – 2011.
Menggagas dan membentuk Sanggar Bahtra (Bahasa dan Sastra) di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra FBS Unima tahun 2008/2009. Bersama teman-teman aktivis mahasiswa FBS Unima membentuk unit kegiatan mahasiswa Student Press Society Fakultas Bahasa dan Seni.
Menggagas dan mendirikan organisasi kedaerahan mahasiswa Sitaro di Tondano — Aliansi Kekeluargaan Mahasiswa (AKM) SITARO di Tondano tahun 2007. Menjadi ketua AKM Sitaro 2008 – 2010. Wakil ketua Persekutuan Mahasiswa Singkanaung Siau di Tondano tahun 2008-2009.
Semasa aktif dalam organisasi mahasiswa, sering jadi pembicara dalam kegitan organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Juga sering jadi pembicara dan motivator dalam seminar atau kegiatan kerohanian organisasi kedaerahan mahasiswa Siau dan Sitaro di Tondano.
Menjelang tutup usia, ia sedang merampungkan buku cerita rakyat Siau — SENSE MADUNDE- dalam dua bahasa (Indonesia – Sangihe). (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post