BARTA1.COM– Angin laut di pesisir Singkil, Manado, membawa aroma garam yang seolah menyimpan sisa-sisa bau mesiu masa lalu. Di sebuah rumah sederhana pada penghujung 1990-an, John Rahasia duduk terpekur.
Bagi pemerhati sejarah ini, gugusan Kepulauan Sangihe dan Talaud—yang kita kenal sebagai Nusa Utara—bukan sekadar peta koordinat.
“Seumpama hal ini adalah tempahan tubuh Pandora, maka ia telah pecah,” bisiknya dengan nada getir.
Baginya, apa yang tersisa dari narasi sejarah di sana hanyalah potongan-potongan wajah yang koyak akibat cakrawala perebutan hegemoni kekuasaan Eropa.
Sejarah yang kita baca hari ini, menurut John, seringkali hanyalah konstruksi kolonial yang menyembunyikan kebenaran di balik debu kepentingan niaga.
Dramatis memang, ketika jejak manusia yang diprediksi telah menghuni kepulauan itu sejak 7.000 tahun silam seolah raib ditelan bumi.
“Jika ingin bertemu wujud seorang pahlawan, bercerminlah pada legenda, mitos, sastra, dan tradisi,” ungkap John Rahasia pelan.
Ia meyakini bahwa di sanalah sejarah sejati manusia Nusa Utara bersemayam, yang seringkali jauh dari tinta literatur Eropa yang cenderung mendistorsi realitas.
Dalam catatan-catatan Barat, orang-orang kepulauan ini seringkali dilukiskan dengan perangai buruk rupa—kaum jajahan yang malang dan membutuhkan “kebaikan hati” penjajah.
Strategi kolonial bukan hanya mengambil hasil bumi, tetapi memutus alur nadi sejarah mereka dari nenek moyangnya sendiri. Sebuah upaya sistematis untuk membuat bangsa ini merasa asing di tanahnya sendiri.
Pahitnya ingatan itu semakin terasa saat menilik peristiwa tahun 1677. Robertus Padtbrugge, seorang pegawai VOC, menancapkan kuku kekuasaannya melalui Lange Contract.
Kontrak ini bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan “bencana besar” yang memicu penghancuran sistematis terhadap identitas lokal. Sejarah dibakar, budaya diberangus, dan narasi dipaksa tunduk pada kepentingan kompeni.
Padahal, pada abad ke-15, Nusa Utara adalah permata dalam enam jalur niaga rempah dunia. Letaknya yang strategis menjadikannya transit utama bagi peradaban.
“Mereka hanya ingin mengambil hasil bumi kita,” kenang John, mengutip kembali suara lantang Raja Bataha Santiago dari Kerajaan Manganitu yang hidup pada medio 1670-an.
Santiago adalah sosok anomali di mata kolonial. Sebagai bangsawan terpelajar lulusan Universitas Santo Thomas Manila, ia tahu persis bahwa diplomasi Barat hanyalah topeng dari niat adu domba.
Ketika ia menolak menandatangani kontrak VOC dan memilih jalan pedang, sejarah kolonial mencatatnya sebagai pemberontak. Namun, bagi rakyatnya, ia adalah nyala api yang memilih mati digantung daripada tunduk pada ketidakadilan.
Kini, mencari jejak fisik kerajaan-kerajaan samudera itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Nyaris tak ada batu yang tersisa di atas pondasi istana masa lalu.
Di Ulu Siau, Enemawira, hingga Manganitu, artefak fisik dibiarkan terlantar hingga hancur oleh waktu dan ketidakpedulian. Seolah-olah, masa lalu mereka memang sengaja dibiarkan menjadi abu.
Kita baru mengenal istilah “Nusa Utara” pada tahun 1974, sebuah terjemahan dari Noorder Einlanden yang dipopulerkan oleh A. Maluegha. Namun, identitas asli mereka jauh lebih tua dari sekadar penamaan administratif.
Seperti kutipan novel Waterland karya Graham Swift, manusia adalah hewan yang mendongeng; kita tidak ingin tinggal di tempat hampa, melainkan di tempat yang penuh coretan tinta dan cerita.
Namun, mengandalkan sejarah publik seperti mitos dan legenda juga memiliki tantangan tersendiri. Ada celah rentan terhadap pengaruh kepentingan pencerita.
Di tengah kerumitan itu, bagi saya, menyisir negeri sastrawan J.E. Tatengkeng dan sejarawan Alex Ulaen ini menjadi perjalanan spiritual untuk menemukan kembali “ruh” yang hilang dari peradaban manusia Nusa Utara.
Kini, sisa-sisa kejayaan itu hanya bisa ditemui dalam diamnya benda-benda di Museum Sulawesi Utara. Beberapa pernak-pernik masa kerajaan tersimpan di sana dengan deskripsi singkat, seolah mencoba menolong ingatan kita yang kian memudar.
Mereka adalah saksi bisu dari nilai-nilai luhur yang kini mungkin hanya tertulis pada pahatan nisan yang retak di kubur-bukur tua kerajaan dan susastera masa lampaunya.
Menyingkap tabir Nusa Utara adalah kerja panjang memungut serpihan kaca yang berserakan.
Meski sejarah resmi mungkin telah membuang banyak bab penting, namun selama mitos masih dibisikkan dan nama Santiago masih diingat, identitas itu tak akan benar-benar mati.
Sebab, sejarah yang sejati tidak ditulis di atas kertas yang bisa terbakar, melainkan di dalam detak jantung rakyatnya. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post