• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Senin, Juni 8, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Esang Talaud: Berlayar di Jejak Abadi Serambi Pasifik

by Iverdixon Tinungki
27 Desember 2025
in Sejarah
0
Esang Talaud. (Gambar: Ilustrasi AI)

Esang Talaud. (Gambar: Ilustrasi AI)

0
SHARES
47
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Mendatangi Esang di pengujung tahun seolah membawa saya memasuki ruang imajiner Knut Hamsun. Di sana, di Gudbransdat, Norwegia Tengah, sang peraih Nobel itu menulis Sult—sebuah mahakarya tentang rasa lapar yang menghantui Christiania.

Namun, di Esang, sepotong tanah di beranda utara Karakelang, “lapar” bukan sekadar metafora sastra. Ia adalah kenyataan yang berkelindan dengan uap asin lautan Pasifik dan sejarah yang sering kali bergerak dalam kelokan yang mencengangkan.

Lebih dari dua puluh tahun lampau, saya pertama kali menginjakkan kaki di lanskap eksotis yang dulunya bernama Nusanangin ini.

Di pintu gerbang kompleks pemerintahan, sebuah frasa dari sastra tua menyambut: “Sangkundimang Suparamaian”. Satu harapan dalam kesentosaan. Namun, sepelempar batu dari pesisir, realitas menunjukkan wajahnya yang lebih keras.

Ombak besar menghantam karang, sementara kabut asin tertiup angin kencang, menggoyangkan pohon-pohon kelapa yang berdiri angkuh di perbukitan.

“Di depan sana ada ombak Ambora. Ombak abadi yang menjadi ciri khas pesisir kawasan ini,” kata Rimata Narande, lelaki Talaud yang menemani saya waktu itu.

Suaranya hampir tenggelam oleh deru laut yang membentang dari Esang hingga Arangkaa. Di pesisir inilah, sejarah kepahlawanan Larenggam dalam Perang Arangkaa 1893 melawan Belanda direkonstruksi.

Ribuan orang terlibat dalam pentas yang menghidupkan kembali memori kampung-kampung yang terbakar, sebuah bukti cinta orang perbatasan pada tanah airnya.

Namun, di balik heroisme masa lalu, Esang menyimpan luka yang lamat-lamat. Saat orang-orang kota membicarakan pulau terpencil dalam romansa wisata, warga di sini mungkin sedang menakik hujan untuk ditanak menjadi air hangat.

“Hidup itu anugerah Tuhan,” mungkin menjadi satu-satunya kalimat yang paling mereka pahami ketika menghadapi musim terik yang panjang atau saat anak-anak mereka harus bertaruh nyawa melawan malaria dan gizi buruk di atas tanah yang keras ketika itu.

Sejarah kelam lainnya tersimpan dalam catatan Herkanus Tumbal, seorang aktivis perbatasan. Ia mengisahkan bagaimana ribuan kepala keluarga di Talaud, termasuk di Esang, pernah menyandang stigma PKI secara membabi buta di era Orde Baru.

Padahal, mereka hanyalah orang-orang pulau yang jauh dari hiruk-pikuk politik Jakarta.

“Pembangunan proyek vital seperti bandara menjadi pemicu stigma ini,” ungkap Herkanus. Ia menyebutkan bahwa pelabelan itu seolah menjadi “proyek” untuk mendapatkan tenaga kerja paksa tanpa upah.

Kisah-kisah pilu inilah yang kemudian melahirkan karakter Kepas dalam novel saya, Kepas, Manusia Perbatasan. Karakter ini adalah personifikasi dari mereka yang terjepit di garis batas, antara tuntutan hidup dan ketidakadilan sejarah.

Di Esang, air mata punya caranya sendiri untuk menetes—sunyi, tanpa gegap gempita, serupa detak nadi nelayan tradisional yang mengais hidup dengan perahu kecil di tengah kepungan modal besar yang menguasai pala dan kelapa.

Nasib nelayan di sini ibarat berjudi dengan maut. Ambillah contoh Susarto Wentian. Lelaki 57 tahun dari Desa Sambuara ini berangkat melaut di kegelapan subuh, namun mesin perahunya mati dihantam badai ganas. Selama tiga hari ia hilang, ditelan ombak Pasifik, sebelum akhirnya ditemukan selamat di Pulau Pehang, Sangihe.

Kejadian seperti Susarto adalah gema dari apa yang ditulis Kahlil Gibran: bahwa perbudakan kehidupan terkadang mencekik jiwa, membuat manusia tampak seperti bayangan menyedihkan dari sosok tubuhnya sendiri.

Kepulauan Talaud sendiri adalah negeri para bangsawan yang disebut Papung.

Dalam catatan sejarah, armada Eropa seperti Ferdinand Magelhaens dan Ruy Lopez de Villalobos menyebut tempat ini sebagai Paradiso atau surga.

Keindahannya memang memabukkan, namun sejarahnya penuh dengan penaklukan dan perbudakan (Alangnga) yang berlangsung selama ratusan tahun, sejak jalur pelayaran Spanyol dan Portugis rute Manila-Ternate mulai ramai pada abad ke-16.

Misteri menyelimuti asal-usul manusia di sini. Masyarakat setempat meyakini bahwa mereka adalah keturunan Loom’banua, manusia pertama yang menghuni Gua Arangkaa.

Mitos menyebutkan Loom’banua menikah dengan Woin Sangiangnga, seorang bidadari yang turun dari kayangan.

Menurut para ahli, hikayat ini adalah metafora pertemuan penduduk asli suku Talaud dengan pendatang dari Mindanao, Filipina, yang membentuk kultur bahari yang kental.

Konsep batas wilayah pun bersifat imajiner namun sakral. Ada ungkapan terkenal: “Dari Tinonda sampai Napombaru”. Tinonda sering menjadi tanda tanya besar.

Boas Presly Bee, tokoh masyarakat Talaud, menjelaskan bahwa Tinonda bukanlah sekadar titik koordinat, melainkan “serambi depan“. “Tinonda adalah kata benda dari Tondanne yang berarti serambi. Penanda imajinernya adalah Pulau Miangas atau Poilaten,” jelas Bee kepada saya.

Sedangkan Napombaru adalah “tapiwadde“, tapal batas luar. Di sini, tidak ada istilah “belakang“. Semuanya adalah wajah yang menatap laut lepas.

Filosofi ini melahirkan semangat “Sinsiote Sampate-pate”, sebuah simbol kebersamaan dan keberanian dalam menghadapi kesulitan.

Bagi orang Talaud, laut bukanlah pemisah, melainkan bagian inheren dalam detak nadi yang telah menghidupi mereka selama lebih dari 6.000 tahun sebelum Masehi.

Dahulu, struktur sosial di sini sangat ketat. Ada kerajaan-kerajaan kecil dengan sistem Jogugu dan Inanggu Wanua. Pengaruhnya masih terasa hingga awal abad ke-20 di bawah kepemimpinan Raja Johanis Tamawiwy di Beo.

Meski pelapisan sosial antara kaum bangsawan (Papung) dan rakyat biasa kini mulai menipis, sisa-sisa kebanggaan akan identitas sebagai “Manusia Perbatasan” tetap tegak berdiri sekuat gunung-gunung karang yang memagari daratan.

Kini, saat saya melangkah meninggalkan Esang, tulisan di gerbang itu kembali terlihat: “Sangkundimang Suparamaian”. Dari atas perahu yang perlahan bergerak menuju Kota Beo, tulisan itu tampak samar-samar tertutup uap laut.

Ada rasa getir sekaligus kagum yang tertinggal. Esang adalah saksi bahwa di ujung utara nusantara, hidup adalah perjuangan untuk tetap setia pada harapan, meski ombak Ambora terus menghantam tanpa henti.

Pulau-pulau ini, dari Karakelang hingga Miangas, akan terus menjadi penjaga pintu gerbang Indonesia. Mereka bukan sekadar titik di peta, melainkan ruang di mana sejarah, mitos, dan air mata menyatu dalam biru laut Pasifik.

Seperti kata sastra tua mereka, harapan akan kesentosaan adalah tiang yang menjaga mereka agar tidak goyah di tengah badai kehidupan yang tak terduga. (*)

Penulis/Editor

Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Pertunjukan Teater di Manado. (Foto: Dentar)

Ciuman di Bawah Remang Petromax: Nostalgia Tonil dan Wajah Manado Tempo Dulu

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Gubernur Yulius Selvanus Syukuri WTP Ke-12, Sebut Tata Kelola Keuangan Sulut Semakin Baik 8 Juni 2026
  • Akhirnya Peringatan Tsunami Dicabut, Plt Bupati Sitaro: Kabar Ini Menenangkan Warga 8 Juni 2026
  • Gempa M 7,7 di Sangihe, Pemkab Siapkan Status Tanggap Darurat 8 Juni 2026
  • Heronimus Makainas Serahkan Bantuan bagi Ahli Waris Korban Bencana Alam Siau dari Kemensos 8 Juni 2026
  • Rundown Peserta Dinilai Sarat Rekayasa, Baca Mazmur Seri B Menuju Proses Hukum? 8 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In