• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Sabtu, Juli 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Nusa Utara: Fragmen Kejayaan Gerbang Rempah Dunia

by Iverdixon Tinungki
19 Desember 2025
in Sejarah
0
Nusa Utara dalam sejarah jalur rempah. (Gambar: Ilustrasi AI)

Nusa Utara dalam sejarah jalur rempah. (Gambar: Ilustrasi AI)

0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Angin laut di perairan Sangihe Talaud tak pernah sekadar membawa aroma garam. Di balik debur ombaknya, tersimpan gema suara jangkar kapal-kapal besar yang lima abad lalu membelah samudra demi mencari “emas hitam” Nusantara.

Sangihe dan Talaud bukanlah sekadar titik kecil di peta perbatasan; ia adalah ruang tamu agung bagi para penjelajah dunia, mulai dari pelaut Dinasti Ming hingga armada tangguh Magelhaens.

Nusa Utara berdiri kokoh sebagai mercusuar di jalur niaga Laut Sulawesi.

Bagi para pedagang Malaka yang menyusuri utara Borneo menuju Maluku, kepulauan ini adalah tempat melepas penat sebelum menyentuh tanah rempah.

Begitu pula bagi Jung-Jung Cina yang membelah perairan Filipina; mereka akan singgah sejenak di sini, memastikan perbekalan cukup sebelum menjemput pala dan cengkih yang harganya di Eropa bisa melambung hingga 600 kali lipat.

“Pada abad ke-15, kawasan ini masuk dalam enam jalur niaga rempah terpenting di dunia,” tulis Alex John Ulaen dalam catatannya.

Realitas itu menegaskan bahwa jauh sebelum kolonialisme mengakar, Sangihe Talaud telah menjadi jantung dari globalisasi awal yang menghubungkan Venesia dan Genoa dengan kearifan timur.

Persaingan hegemoni mulai memanas ketika aroma cengkih tercium hingga ke telinga para penguasa Eropa. Portugis, yang telah merebut Malaka pada 1511, mengirim Antonio d’Abreu untuk memburu asal muasal rempah tersebut.

Tak lama berselang, pada 1521, Ferdinand Magelhaens dengan armada Spanyolnya melintasi gugusan Marore dan Kawio, membawa persaingan dua negara adidaya masa itu ke ambang pintu rumah penduduk Nusa Utara.

Perebutan pengaruh ini memaksa para penguasa lokal melakukan diplomasi tingkat tinggi. Raja Siau Ketiga, Winsuļangi, mengambil langkah berani pada 1594 dengan menjalin pakta keamanan dengan Gubernur Spanyol di Manila.

Sejak itu, benteng Santa Rosa dan Gurita di Siau bukan lagi sekadar tumpukan batu, melainkan simbol perisai perlindungan Spanyol terhadap hegemoni Portugis dan kemudian VOC Belanda.

Namun, sejarah tak selamanya ramah. Ketika VOC mulai menanamkan kukunya melalui perjanjian lange contract, wajah Nusa Utara berubah.

Di bawah telunjuk Gubernur Jacob Hustaard pada 1653, pohon-pohon cengkih di Tagulandang diperintahkan untuk dibabat habis demi menjaga stabilitas harga di pasar dunia.

Sebuah ironi tragis di mana kekayaan alam yang menjadi magnet dunia, justru harus dihancurkan demi ego monopoli perdagangan global.

Jejak Diplomasi di Tanah Para Raja

Sementara di bawah rimbunnya pohon kelapa Sangihe Besar, Robertus Padbrugge, seorang pegawai VOC, tertegun pada tahun 1677. Ia tidak hanya melihat sebuah gugusan pulau, tapi sebuah tanah yang diberkati minyak kelapa dan kopra berkualitas tinggi.

Namun di balik keindahan itu, tersimpan kisah panjang tentang para raja yang harus meniti jalan pedang dan doa untuk menjaga kedaulatan rakyatnya dari ambisi bangsa-bangsa Barat.

Antonio Pigafetta, juru tulis Magelhaens, mencatat dengan rapi pada Oktober 1521 tentang kehadiran empat raja di Sanghir: Matandatu, Laga, Bapti, dan Parabu.

Catatan itu menjadi bukti autentik bahwa sebelum bangsa Eropa datang dengan konsep negara modernnya, kepulauan ini telah memiliki tatanan politik yang mapan dan berwibawa, mampu berinteraksi sejajar dengan para penjelajah dunia.

“Sultan-sultan sangat menginginkan agar para ksatria asing itu dapat dilihat di dalam keraton mereka,” ungkap misionaris D. Brilman dalam bukunya. Persaingan antara Kesultanan Ternate dan Tidore membawa pengaruh besar hingga ke utara.

Sangihe dan Tagulandang menjadi bidak catur yang diperebutkan, memaksa para penguasa lokal untuk cerdik bersiasat di antara kepentingan Ternate yang didukung Belanda dan Tidore yang dekat dengan Spanyol.

Transformasi budaya tak terelakkan ketika agama masuk melalui jalur diplomasi. Pada 1677, Kerajaan Siau mengalami titik balik besar ketika Raja Franciscus Xaverius Batahi menandatangani perjanjian dengan Belanda.

Salah satu pasalnya mengubah arah spiritualitas kerajaan tersebut menjadi Kristen Protestan. Ini adalah babak di mana teologi, politik, dan perdagangan melebur menjadi satu identitas baru bagi masyarakat kepulauan.

Ketegangan mencapai puncaknya di Tagulandang. Meski cengkihnya termasyhur hingga ke telinga para pendeta Spanyol, penduduknya harus menelan pil pahit pemusnahan tanaman pada tahun 1653.

Kebijakan extirpatie Belanda berusaha mematikan sumber kehidupan warga demi kontrol pasar.

Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk melawan; bertahun-tahun kemudian, tunas-tunas cengkih kembali ditemukan tumbuh secara sembunyi-sembunyi, seolah menolak untuk tunduk pada perintah kolonial.

Kini, saat kita menatap perairan Nusa Utara, kita melihat lebih dari sekadar laut biru. Kita melihat jejak sejarah di mana para raja Sangihe Talaud pernah menjadi pemain kunci dalam panggung niaga internasional.

Mereka adalah saksi bisu saat Venesia dan Konstantinopel berpesta dengan rempah dari tanah mereka, sekaligus penjaga ingatan tentang masa depan yang pernah dibangun dengan keringat, diplomasi, dan air mata. (*)

Penulis/Editor:

Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Sejarah perbudakan di Sangihe Talaud. (Gambar: Ilustrasi AI)

Menelusuri Luka Perbudakan dan Keangkuhan Kasta di Nusa Utara

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Resmi Lantik Pengurus Pilar Harmonis Nusantara, Yulianti Saridin: Momentum Perkuat Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara 24 Juli 2026
  • Dukung Kemandirian Petani Bunga Krisan, PLN UID Suluttenggo Resmikan Program Electrifying Agriculture di Tomohon 24 Juli 2026
  • PLN Pasang Sambungan Listrik Gratis untuk Enam Keluarga di Boltim 24 Juli 2026
  • PLN Pulihkan 94 Persen Pasokan Listrik Pascabanjir dan Longsor di Tamako 24 Juli 2026
  • PLN Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Tamako 24 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In