Jakarta, Barta1.com – Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang dicanangkan pemerintah dan PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada transisi energi, tetapi juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi luas, termasuk penciptaan jutaan lapangan kerja baru. Hal ini disampaikan dalam sesi diskusi Electricity Connect 2025, belum lama.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menjelaskan bahwa peta jalan RUPTL tersebut merupakan fondasi solid untuk memacu transformasi ekonomi dan energi nasional. Target ambisius penambahan kapasitas pembangkit hingga 69,5 GW menjadi bagian krusial dari rencana ini.
Pengembangan infrastruktur masif ini juga mencakup pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit (kms) dan gardu induk dengan total kapasitas 107.950 megavolt ampere (MVA). Perluasan jaringan ini mutlak diperlukan untuk memastikan keandalan pasokan listrik.
“Dengan perluasan jaringan transmisi yang lebih kuat dan modern, setiap tambahan kapasitas pembangkit akan tersalurkan lebih efektif,” jelas Rizal mengenai pentingnya pemerataan infrastruktur.
Rizal juga mengungkapkan bahwa implementasi RUPTL 2025–2034 diperkirakan akan menciptakan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja baru. Angka ini menegaskan peran strategis PLN sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional.
“Dengan mandat besar dalam RUPTL, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Indonesia dapat bergerak menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutup Rizal, menekankan pentingnya kolaborasi.
Di sisi lain, Executive Director ASEAN Centre for Energy (ACE), Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood, menyoroti tantangan lonjakan permintaan energi global yang memerlukan transformasi sistem energi yang besar, mulai dari infrastruktur hingga penguatan bauran energi bersih.
Razib menekankan bahwa lonjakan permintaan energi di kawasan, yang diproyeksikan tumbuh tiga kali lipat pada 2050, menuntut keandalan dan ketahanan sistem listrik yang tinggi. “Lonjakan permintaan energi tentu menimbulkan tantangan besar bagi sistem energi. Mulai dari hulu hingga hilir, peningkatan permintaan ini membutuhkan transformasi sistem energi untuk menjamin ketahanan dan keandalan,” ujar Razib.
Oleh karena itu, upaya Indonesia dalam memperkuat infrastruktur kelistrikan melalui RUPTL tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan energi regional. (**)
Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post