Jakarta, Barta1.com — PT PLN (Persero) tak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menerapkan standar tata kelola proyek yang tinggi dan inovasi teknologi terkini dalam penyelesaian megaproyek interkoneksi sistem kelistrikan Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara).
Proyek yang membentang sepanjang 921,71 kilometer sirkuit (kms) ini dirancang untuk beroperasi secara cerdas, bahkan telah disiapkan untuk integrasi operasional berbasis jaringan 5G.
Pembangunan jaringan yang menghubungkan dua provinsi ini merupakan inisiatif krusial dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT). Seluruh tahapan proyek, mulai dari penyiapan lahan dan Right of Way (ROW), pekerjaan pondasi, hingga penarikan kabel (stringing), telah melalui proses yang sistematis dan terencana untuk menjamin keamanan dan keandalan operasional.
Proyek vital ini diperkuat dengan teknologi pengawasan berbasis kabel optik dan sistem kendali digital mutakhir. Data teknis menunjukkan bahwa infrastruktur ini kini didukung oleh lima titik pengatur daya baru di Maloy, Talisayan, Berau, Tanjung Selor, dan Tideng Pale, yang memastikan pengelolaan arus listrik menjadi lebih presisi.
Inovasi teknologi ini memungkinkan PLN merespons dan mengatasi potensi gangguan jaringan secara real-time dan cepat.
Komitmen PLN terhadap tata kelola proyek yang akuntabel ditegaskan melalui penerapan Prosedur Identifikasi dan Mapping Stakeholder.
Prosedur ini bertujuan mengidentifikasi secara sistematis semua pihak yang terkait, mulai dari Masyarakat Terdampak (pemilik lahan), Kelompok Rentan (lansia, masyarakat adat), hingga instansi pemerintah terkait, guna memastikan bahwa proyek berjalan tanpa mengabaikan hak-hak masyarakat.
General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menekankan bahwa aspek non-teknis sama pentingnya dengan aspek teknis.
“Seluruh proses kami pastikan berjalan sesuai tata kelola yang baik. Dengan menyatunya sistem Kaltim-Kaltara, kami menciptakan layanan yang kokoh, siap melayani lonjakan kebutuhan rumah tangga dan industri, serta menjadi penopang utama menuju masa depan Kalimantan yang lebih terang. Ini adalah komitmen yang terus dikerjakan hari demi hari,” ujar Basuki.
Seluruh stakeholder diklasifikasikan berdasarkan atribut Kekuatan (Power), Kepentingan (Interest), dan Keabsahan (Legitimacy). Klasifikasi ini sangat penting untuk menetapkan strategi komunikasi yang tepat dan memastikan bahwa penanganan pembukaan lahan diawasi oleh Manajer Unit Pelaksana Proyek (MUPP) berjalan sesuai prosedur dan adil.
Penyelesaian proyek ini sekaligus menjadi fondasi kuat bagi transisi energi di Kalimantan. Interkoneksi yang kokoh ini akan menjadi jalur utama untuk menyalurkan energi bersih yang dihasilkan oleh PLTA Kayan, PLTA Ujung Bilah, dan pembangkit terbarukan lainnya di masa depan, mempercepat target energi hijau nasional.
Sebelum serah terima kepada unit pengusahaan (unit PLN yang mengoperasikan), seluruh proses pekerjaan telah melewati pengujian menyeluruh, hingga mencapai tahapan layak diberi tegangan pertama (energize) dan diterbitkannya Sertifikat Layak Operasi (SLO).
Hal ini memastikan seluruh peralatan berfungsi dengan baik dan aman, menjadikan layanan listrik bagi rakyat semakin dapat diandalkan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post