Manado, Barta1.com — Di tengah hiruk-pikuk Kota Manado, hadir sebuah tempat baru yang bukan sekadar lokasi untuk membeli oleh-oleh, tetapi juga ruang yang menyimpan cerita, cita rasa, dan budaya Sulawesi Utara. Toko Oleh-oleh OM TOAR berdiri dengan satu harapan besar: memperkenalkan kekayaan budaya Sulut melalui berbagai produk lokal yang autentik, mulai dari makanan khas, kerajinan tangan, lukisan, hingga cendera mata bermakna.

Founder OM TOAR, Suriana, mengisahkan bagaimana ide ini tercipta. “OM TOAR hadir dari sebuah obrolan santai. Kami berpikir, bagaimana caranya membuat sesuatu yang dapat memperkenalkan ciri khas Provinsi Sulut dengan cara yang berbeda.”

“Tidak hanya menjadi etalase budaya, OM TOAR juga punya misi memberdayakan UMKM lokal. Banyak UMKM Sulut yang belum tersentuh perhatian lebih. Di sini, kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk menampung dan memperkenalkan produk mereka,” kata Suriana saat ditemui di toko OM TOAR, berlamat di Jalan A.A. Maramis No.Km. 8, Paniki Bawah, Kecamatan Mapanget, tepatnya depan Kantor BKN Manado.

Sambil tersenyum.
Pemilihan nama OM TOAR pun punya makna tersendiri. “Banyak toko oleh-oleh memakai nama perempuan. Kami ingin nuansa berbeda dengan memilih nama lelaki yang sangat identik dengan budaya Manado, yaitu TOAR. Kami ingin warisan budaya itu kembali diangkat dan dikenalkan,” tambahnya.

“OM TOAR bukan hanya toko, tetapi wadah untuk berkegiatan dan berkarya. Saat ini, kami memiliki produk unggulan hasil kolaborasi bersama Politeknik Negeri Manado, terutama olahan ikan dan cakalang fufu dari Lyvia. Sebagian besar produk yang dipajang pun merupakan hasil binaan Bank Indonesia, yang telah terkurasi dan terjamin kualitasnya. Kami percaya diri memasarkan produk ini karena semuanya sudah melewati proses pembinaan yang baik,” ungkap Suriana.
Target pasar OM TOAR beragam, mulai dari masyarakat lokal, wisatawan Nusantara, hingga turis asing dari Jepang, Korea, dan Cina. “Kami ingin orang datang ke OM TOAR bukan hanya untuk makanan, tapi juga untuk souvenir yang menonjolkan budaya di daerah Sulut ini, berupa lukisan, kerajinan, hingga cendramata khas daerah.”
“Ke depan, OM TOAR juga akan menghadirkan berbagai kegiatan menarik, salah satunya event melukis yang akan menjadi kejutan bagi para pengunjung,” terangnya.
Suriana menutup dengan harapan besar. “Semoga OM TOAR dikenal luas, dan menjadi tempat wajib dikunjungi saat berada di Manado. Kami ingin membuka lapangan kerja, memberdayakan UMKM, serta menjadi bagian dari pelestarian budaya Sulut.”
“OM TOAR bukan sekadar toko oleh-oleh, tetapi rumah bagi cerita, karya, dan kebanggaan Provinsi Sulut, ” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post