Oleh: Iverdixon Tinungki
OMMO Cafe Tuminting, tak lebih dari sebuah café perkampungan. Tapi itu tempat nongkrong para seniman serius berdikusi dan berkreasi. Di sana pula basis Sanggar Kreatif dan Manado Teaterholic. Dua poros seni yang punya nama dan prestasi secara nasional.
Dan Sabtu, 28 Mei 2022, puisi telah menjadi sesuatu yang mewah di sana. Bukan saja karena puisi tersaji secara kreatif dan menghibur, lebih jauh dari itu, jalinan maknanya yang sublim telah menginspirasi kehidupan.
Dari titik beberangkat itulah Eric MF Dajoh membuka sesi orasi kebudayaan di malam itu.
Saat sebuah puisi memetaforkan kota sebagai balon-balon yang segera memecah ketika tertusuk jarum, apa sejatinya yang melintas di pikiran kita, selain bayangan kehidupan yang suram dan berbahaya.
Kian menajamnya peluang konflik sosial, serta beragam patologi sosial yang dipicu persoalan-persoalan urbanisasi, kemiskinan, lingkungan hidup, perkembangan teknologi hingga ke mantra-mantra ekonomi digital yang tak terhindarkan menohok hingga ke akar persoalan mobilitas hidup masyarakat.
Bagi Eric, ada sebuah kejanggalan yang terjadi terus-menerus dalam strategi pemajuan kebudayaan di kota Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya, akibat lalainya pemerintah mendorong terbangunnya poros-poros kebudayaan.
“Instansi-instasi pemerintah yang terkait kebudayaan lebih sibuk dengan urusan birokrasi dan pencitraan jabatan dan abai menjalankan tugas utamanya dalam membangun ketahanan budaya,” kata dia.
Mengapa hubungan antara pembangunan daerah dan pembangun poros-poros kebudayaan begitu penting.
Menurut Eric, masyarakat rentan mengalami krisis jatidiri dan kehilangan pegangan hidup yang dahulu disediakan oleh budaya tradisi. Bahkan situasi ini dapat memicu konflik identitas yang bisa berujung secara ekstrem pada pengerasan identitas primordial dan fanatisme apabila tidak disikapi secara dewasa.
Begitulah Eric, pribadi yang teguh berkarya, jujur dan kritis dalam berbicara. Ia tak saja tokoh kesenian, tapi guru bagi banyak seniman di Sulawesi Utara.
Di saat pandemi 2019-2020, ia satu satunya seniman yang menulis surat kebudayaan kepada para sejawat peteater, yang juga saya terima:
—Sahabat Peteater! Bagi saya, pandemi yang saat ini kita hadapi, tak lebih dari waktu jeda, setelah sekian lama kita bekerja terbuka di panggung-panggung seni pertunjukan.
Memang berdampak minor bagi kita, pekerja seni teater yang memerlukan panggung untuk mementaskan karya kita. Saya sendiri, batal manggung “Nyanyian Angsa” karya Anthon Chekov, walau sudah merancang sejak medio 2019. Begitu juga beberapa program dengan pekerja-pekerja pemula dan muda, tertunda. Yang kita lakukan sekarang, adalah “belajar di rumah” saja.
Buat saya Covid-19 ini, adalah waktu jeda. Waktu dimana kita boleh melakukan kritik-diri, mengenali berbagai persoalan mendasar dunia kita: dunia-dalam-diri dan dunia-luar-diri kita dengan objektif. Agar kelak kita bisa menawarkan visi peradaban yang baru dengan sudut pandang kemanusiaan yang memadai sesuai era kekinian.
Karena itu, dalam memaknai waktu jeda ini, diperlukan sebentuk sikap yang terbuka dan jujur untuk mau melakukan pembongkaran diri dengan lugas, jujur dan berani. Itu bila kita mau terus membangkitkan isu-isu yang lebih bernas sesuai jaman dan kebutuhannya.
Kita tidak lagi berada di era kita dulu, ketika kita masih muda. Justru saat ini, ketika masih berkiprah di dunia yang sudah kita pilih puluhan tahun ini, kita justru sudah berkiprah bersama anak-anak kita, adik-adik kita yang pola berpikirnya tentu sudah berubah. Inilah manfaatnya waktu jeda itu, menyesuaikan panggilan itu sendiri, agar tetap memadai dan selaras dengan era yang kita hidupi saat ini.
Saya pikir, dampak Covid-19 memang sangat menyulitkan kita, apalagi masa pandeminya tidak dapat dipastikan dengan tepat masa berakhirnya. Tentu ini akan menggangu ekonomi pribadi kita, tetapi toh yang digolongkan pekerja seni atau seniman, ia sudah terlatih dengan situasi yang memerih ini.
Bukankah sepanjang hidupnya, menjalani masa-masa panggilannya, sang pekerja seni itu terus dan terus saja dilanda “pandemi” karena kurangnya apresiasi yang memadai atas pilihannya itu?
Kita juga harus jujur, bahwa di masa normal saja, panggung-panggung pertunjukan toh jarang kita hidupkan karena keterbatasan kemampuan manajemen produksi kita sendiri, dalam meyakinkan pemilik modal mendukung karya-karya kita.
Kita tentu “kalah” dengan kemampuan seni-seni terapan lainnya yang mampu merayu pemilik uang mendukung event-event yang mereka bikin.
Seni teater atau seni pertunjukan yang memang rumit itu, memerlukan ekstra potensi diri agar bisa menyalakan lampu-lampu panggung dan menggemuruhkan pentas-pentas teater melalui sajian-sajiannya yang mumpuni.
Nah, di masa pandemi ini, kendati kita juga sesungguhnya terseok-seok, bukankah lebih baik kita manfaatkan waktu jeda ini untuk melakukan kritik-diri, sambil terus belajar dan bekerja dengan orang-orang muda dan para pemula yang tetap setia dan bersemangat berkarya.
Jangan menyerah dan putus asa, kita toh justru terbiasa berkarya sambil puasa senin-kemis, dan hasilnya acapkali membikin kita terkejut. Saya terus bekerja, belajar di rumah dan berkarya di panggung-panggung dari gedung-gedung bekas perkantoran yang ditinggal begitu saja, nyaris ambruk dan tak terawat, yang tata cahayanya remang-remang, tapi hati saya terang dan gembira selalu.
Syukurlah, dari upaya memaknai waktu jeda di masa pandemi ini, saya sempat menyelesaikan tanggung jawab saya sebagai pemeran dalam film layar lebar “Mariara”, dan juga bekerja sebagai dramaturg, dalam pementasan yang dilaksanakan oleh North Celebes Creative Lab ( NCCL), setidaknya di dua pertunjukan, yakni “Drama Musikal Negeri Bitung” – pentas secara virtual pada 10 Oktober 2020 dari GOR Kota Bitung, dalam rangka penutupan Festival Pesona Selat Lembeh 2020, dan pentas lakon “Hikayat Dotu & Kekuasaan” di tiga kota: Manado, 3-4 Desember; Langowan, 6 Desember, dan Bitung, 7-8 Desember.
Sahabat Peteater, menjadi garam memang tidak mudah, kendati amanat semesta itu ditujukan kepada setiap insan hidup, agar kita bertumbuh menjadi garam di antara sesama. Belajar dari garam, tak terlihat tapi terasa. Jangan mau seperti gincu, banyak warna tak jelas rasanya.—
Dan pagi ini, Senin, 24 November 2025, saya mendapat kabar sahabat Eric MF Dajoh, terpilih sebagai Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Seni dan Budaya. Saya gembira dan sinar matahari terasa lembut menyelusup ke ruang kerja saya.
Saya gembira awalnya karena tepat di hari ini ulang tahun anak tertua saya Adetisye Novelia Tinungki, SS. Anak yang telah membuat saya menjadi “orang yang disebut berbagaia” menurut kitab Amsal, karena telah memberikan saya dua orang cucu.
Kedua, tak saja karena Eric menjadi Stafsus, tapi, seni budaya Sulut punya harapan saat dia masuk ke lingkaran dalam pemerintahan. Karena sejak dulu harapan itu membusuk di tengah birokrasi yang busuk. Dan Eric teringkus ke dalam birokrasi itu, moga tak ikut membusuk namun menghadirkan amuk, untuk sejatinya gemuruh seni budaya Sulut.
Dan saya percaya, Eric punya kapasitas berselancar di tengah arus birokrasi yang lintang pukang itu.
Eric Dan Kepeloporannya
Kendati teater modern di Manado telah memiliki akar dari kurun waktu cukup jauh, namun saya harus menyebut Eric MF Dajoh, sebagai sosok yang memberi roh pada pertumbuhannya. Dan, kalau ada yang bertanya, siapa sejatinya dapat disebut sebagai pelopor utama perkembangan teater modern di Manado, maka ingatan pertama-tama saya harus menyebut Eric.
Sosok yang juga pentolan Teater Populer Jakarta ini selama berkarya di Manado sejak era 1980-an selalu tampil dengan lakon-lakon karya dramawan kelas dunia. Namun, sumbangan terbesar Eric bagi teater modern Manado adalah kepeloporannya.
Tak sedikit sumber daya pribadinya dikerahkan dalam membangun jaringan antar para peteater di Manado dengan sejumlah dramawan Indonesia modern. Sejak mendirikan Balai Teater Jakarta bersama kelompok dramawan asal Sulawesi Utara, antaranya Pitres Sombowadile, Teddy Kumaat, Donna Keles, ia sering memboyong sejumlah senimanan nasional, seperti Gerson Poyk, Kolono Gambuh, Noorca Marendra Massardi, Ikra Nagara, WS Rendra, Jose Rizal Manua, Ratna Riantiarno, Joshua Padelaki, dalam program-program muhibah budaya ke Manado.
Dari sinilah sejatinya terbangun jaringan antar seniman di Manado dengan mereka yang berada di pusat-pusat perkembangan teater modern Indonesia seperti Jakarta, Jogya dan Bandung, sejak 1990-an hingga saat ini.
Awalnya pada 1982 di Ranotana, Manado, ia mendirikan Teater Kata dan melahirkan beberapa bintang panggung antaranya Donna Keles, Ronny Soputan, Debby Tuwo, James Doringin, Karel Lakoy, Benny Rori, Ferdinan Kerebungu. Teater Kata memenangkan lomba drama tradisional yang diselenggarakan Taman Budaya Manado dengan membawakan berjudul “Ompung” karya Fredy Piri.
Eric MF Dajoh, lahir di Steencoll, Papua, 27 Maret. Ia menjalani masa pendidikan di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen “Paulus” Dok V, Jayapura dan SD YPK “Senasaba” Kloofkamp, Jayapura. Melanjutkan ke SMP Negeri I Jayapura, SMA Gabungan Jayapura; FKIP-Uncen, lalu di FIS-Universitas Indonesia. Pernah bekerja sebagai reporter di Majalah AKTUIL Bandung, di SELECTA Group Jakarta, (Majalah SELECTA, SELECTA SPORT, dan DR). Belajar seni teater di Sanggar Teater POPULER Jakarta, di bawah bimbingan Teguh Karya.
Saya mengenal Eric sebagai pribadi kharismatik. Di lain sisi, ia pribadi yang mempesona, romantis dan penuh daya pikat. Maka tak jarang, garapan-garapan lakonnya tak lepas dari karakter flamboyan yang menjadi salah satu sisi uniknya. Ia menulis “Lelak”, sebuah drama dengan latar sejarah dan budaya Minahasa. Lelak yang disutradarainya, memenangkan Festival Teater Indonesia pada 1980-an. Pertunjukan termutakhirnya bersama Balai Teater berlangsung pada tahun 2008 dengan lakon komedi “Don Juan, Laki-laki dari Utara, Laki-laki Bataru” di Gedung Kesenian Pinkan Matindas, Manado, pada Sabtu, 15 Desember 2007, dan kembali dipentaskan pada Selasa, 15 April 2008 di Gedung Kesenian Jakarta.
Lakon cinta karya Molliere itu diterjemahkan Eric MF Dajoh dengan latar kondisi sosial masyarakat Sulawesi Utara. Sejumlah aktor yang terlibat dalam pentas yang disutradarai Eric MF Dayoh ini antaranya, Franky Supit (Don Juan), Donna Keles (Elvira), Sylvester Setligt (Sagan), Irene Buyung (Gusmar), Sandra Dewi Dahlan (Karlote), Ventje Mait (Pier), Melissa Nayoan (Maturin), Frangky Kalumata (Narator), Servy Maradia (Pelayan), dan Ferro Kuron, Roy Kumaat, Dolfie Pantouw (Orkes Bambu/Pigura). Pelaksana pentas: Teddy Kumaat, Donna Keles, Recky Runtuwene dan Frangky Kalumata. Penata artistik: Ilham Nasikin, Penata Busana: Bebe, dan Penata Rias: Choi.
Lakon komedi “Don Juan” adalah pentas produksi ke 9 Balai Teater sekaligus menjadi akhir dari kiprah grup yang didirikannya di Jakarta itu. Setelah kembali menetap di Manado, Eric mendirikan Komunitas seni Walek@fi-ESA. Sebagaimana kedatangan pertamanya ke Manado pada era 1980-an, saat menetap kembali, ia mengasuh Walek@fi-Esa dan terus eksis membangun basis-basis kesenian di berbagai daerah di Sulawesi Utara melalui pembinaan teater dan sastra. Ia juga menjadi dramaturg untuk sejumlah pementasan teater di Manado dan Bitung. Menjadi juri festival teater. Menyutradarai sejumlah pementasan berbasis kerjasama dengan institusi pemerintahan dan swasta.
Jumat, 30 Maret 2012, bersama Komunitas Walek@fi-ESA, Eric menggelar lakon berjudul “Para Penjudi” karya Nikolai Gogol, di Gedung Pinkan Matindas, Sario, Manado. Pentas yang berdurasi sekitar 2 jam ini melibatkan para aktor teater Sulut antara lain: Fajar Gultom, Donna Keles, Riccy NF Rorong, Ekadiah Jolanda Tongkotow, Pretty Kambey, Sylvester Setlight, Nabillah Al Djindan, Allan Zefo “Soaraha” Umboh, Epiphani Pangkey, Servy Kamagi, Benny Rompas, Junius Bawotong, Bobby Berhimpon, dan beberapa pemain lainnya. Pentas Para Penjudi kali itu merupakan kolaborasi dari beberapa sanggar teater yang ada di Sulut antara lain, Sanggar Tangkasi Bitung, Teater Karang Mantra Manado, Teater Club Manado, Teater Nadi Manado, Sanggar Bukit Berbunga Amurang, Sanggar Titik Terang Tahuna dan Sanggar Evengelion Manado.
Walek@fi-ESA Juga menggelar lakon “Nyanyian Angsa” disutradarai Eirene Debora yang menempatkan Eric sebagai pemeran utamanya. Lakon ini pentas perdananya berlangsung pada Sabtu, 31 Agustus 2019 di Balai Bahasa Sulut. Di usia yang sangat matang, sebagai aktor, Eric MF Dajoh nampak masih perkasa memerankan tokoh Leonardo yang diadaptasi Latirka Toar dan Eirene Debora dari karakter Vasili Svietlovidoff dalam teks asli “Nyanyian Angsa” karya dramawan modern Rusia, Anton Pavlovich Chekhov. Nyanyian Angsa Walek@fi-ESA kemudian dipentaskan kembali pada 2001 di Minahasa, Kota Bitung, dan Tahuna, Sangihe.
Bersama Kang Satria, Reiner Oeintoe, Iverdixon Tinungki, Amato Assagaf dan Ita Siregar, ia menyelenggarakan Sangihe Writer and Reader Festival (SWRF) di Tahuna, 2021. Pada akhir 2021, bersama Reiner Oeintoe menguatkan komunitas WaleTeater dengan membangun panggung pertunjukan terbuka WaleTeater di Pakowa Manado.
Beberapa kegiatan kesenian, seperti diskusi, pelatihan teater, pertunjukan dan pameran lukisan dilaksanakan di panggung WaleTeater sepanjang 2021-2023. Di antaranya pementasan lakon “Drama Tanda Tanya” karya Irwan Jamal yang dipentaskan oleh Teater Imperium Manado dan disutradarai oleh Christian Vaam Lumenta (2023).
Pada April 2023, sambil bertani cabai di lahan belakang rumahnya, ia sempat menyutradarai dan mementaskan lakon “Malam Terakhir” karya Yukio Mishima bersama WaleTeater yang dimainkan oleh Randy Beersh dan Jessicha Kacombo, di panggung WaleTeater Pakowa Manado.
Hingga kini, panggung WaleTeater yang didirikannya, tetap menjadi wadah proses kreatif oleh sejumlah kelompok teater di Manado. Di usia jelang 70, ia masih memenuhi undangan panitia Festival SAPA, dan bersama sejumlah pekerja seni (teater dan seni rupa) di Manado, ia melakukan perjalanan darat (pulang pergi) ke Rantepao Toraja untuk pentas dan pameran seni rupa di sana, dalam rangka Sidang Raya PGI 2024.
Sejak Januari lalu, ia bersama sejumlah pekerja seni teater, tari, musik dan perupa tengah menjalani proses kreatif atas lakon “Pernikahan Darah” karya Federico Garcia Lorca untuk dipentaskan pada akhir Maret 2025. Ia juga telah menyelesaikan kerja produksi film bersama Gorango Production, dalam film “Mariara” karya sutradara Jeffry Luntungan (alm) dan Veldy Umbas, dan sudah dirilis melalui jaringan bioskop XXI, pada akhir 2024 lalu.
Begitu juga bersama Santara Pictures (Jakarta), ia ikut serta dalam kerja produksi film “Songko” karya sutradara Gerald Mamahit, sebagai pemeran dan akting coach, yang pengambilan gambarnya dilakukan seluruhnya di desa Wailan Tomohon. Film ini akan dirilis pada April 2025 di jaringan bioskop XXI. (*)


Discussion about this post