Sangihe, Barta1.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Eko Siswahto mengumumkan capaian signifikan dalam penurunan angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Hal ini disampaikan dalam pencanangan program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) di Kampung Pokol, Rabu (6/5/2026).
Eko menyampaikan bahwa berdasarkan surat resmi BPS RI terkait data kemiskinan ekstrem tahun 2025, Kepulauan Sangihe mencatat kinerja yang sangat baik. Kabupaten ini berhasil menempati posisi ketiga terbaik dalam penurunan kemiskinan ekstrem.
“Untuk Kabupaten Kepulauan Sangihe, penurunan kemiskinan ekstrem ini sangat luar biasa, dari 3,19 persen menjadi 1,79 persen, atau turun sekitar 1,39 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi indikator positif atas kualitas data dan kerja bersama lintas sektor di daerah. Menurutnya, BPS memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan data yang akurat, terlebih isu kemiskinan sempat menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini menjadi luar biasa karena saya memiliki tanggung jawab menghasilkan data yang berkualitas. Harapannya ini menjadi indikasi yang bagus dan saya optimis kita bisa menurunkan angka kemiskinan di tahun 2026,” tambahnya.
Selain kemiskinan ekstrem, Eko juga memaparkan kondisi pertumbuhan ekonomi daerah yang dinilai cukup membanggakan. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Sulawesi Utara, pertumbuhan ekonomi year on year tercatat 5,61 persen, sementara secara quarter to quarter mengalami kontraksi -8 persen. Namun demikian, Sangihe disebut masih berada di atas rata-rata provinsi untuk kedua indikator tersebut.
Ia menambahkan bahwa data lengkap masih dalam tahap rekonsiliasi antar BPS kabupaten/kota se-Sulawesi Utara dan akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari menilai capaian penurunan kemiskinan ekstrem merupakan hasil kerja kolektif seluruh pihak, bukan hanya pemerintah daerah.
“Paling tidak ini adalah keberhasilan kita semua, bukan hanya pemerintah tetapi seluruh stakeholder di Kabupaten Kepulauan Sangihe,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas masyarakat yang berjalan baik, dukungan sektor pelayanan publik, serta pemenuhan kebutuhan dasar seperti air dan listrik turut berkontribusi terhadap perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Sangihe masih berada dalam 10 kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi di Sulawesi Utara, sehingga pengawasan dan upaya pengentasan harus terus diperkuat.
“Penurunan ini sudah signifikan, tetapi kita masih harus memantau pergerakannya. Kalau setiap tahun turun 40 persen, seharusnya dalam tiga tahun ke depan kemiskinan ekstrem bisa nol,” katanya.
Bupati juga menyoroti pertumbuhan ekonomi di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Menurutnya, capaian di atas rata-rata provinsi patut diapresiasi, meskipun terdapat dinamika seperti aktivitas ekonomi masyarakat dan faktor lain yang turut mempengaruhi, termasuk inflasi dan aktivitas pertambangan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya menjaga stabilitas fiskal, termasuk memastikan pembayaran gaji berjalan baik dan tata kelola anggaran tetap terencana di tengah perubahan regulasi.
Rendy Saselah


Discussion about this post