Sangihe, Barta1.com — Ritual Adat “Darumatehu Sembanua” kembali digelar pada Kamis (20/11/2025) dengan mengusung tema “Menjaga Alam, Merawat Tradisi.”
Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, ritual ini terus berpindah lokasi: dari Pelabuhan Tahuna pada 2022, Papanuhung pada 2024, hingga tahun ini dilaksanakan di rumah Raja Manganitu, Kampung Taloarane I, Kecamatan Manganitu.
Keberlangsungannya menjadi penanda komitmen masyarakat Sangihe dalam merawat warisan leluhur sekaligus menjaga alam sebagai ruang hidup mereka.
Sejumlah tokoh adat dan agama hadir, di antaranya Niklas Mehare, Olden Ambui, Riedel Sipir, A. Antarani, Jun Salatu, serta para pelestari musik dan tarian tradisi. Kehadiran mereka menguatkan posisi ritual ini sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai leluhur dengan kegelisahan masyarakat masa kini.
Rangkaian acara menampilkan kesenian tradisi Sangihe seperti Gunde, Masamper, Kalumpang, dan Lide. Berbagai doa dalam ungkapan sastra daerah Sangihe ditunaikan dengan penuh keyakinan. Rumah Raja W. M. P Mocodompis, raja terakhir Manganitu itu dipenuhi nuansa adat.
Puncak ritual ditandai prosesi “metipu”, yakni pembakaran kemenyan sebagai sesembahan wewangian, simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan keseimbangan bagi semesta. Para penjaga tradisi dari berbagai wilayah berkumpul dalam satu keyakinan: menjaga alam Sangihe.
Salah satu inisiator acara, Jull Takaliuang, menyebut Darumatehu Sembanua bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, ritual ini lahir dari “rintihan” seruan hati dan kegelisahan mendalam masyarakat atas kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.
“Intinya, ritual ini mengangkat kekhawatiran karena tidak adanya penindakan hukum. Kami melihat kehancuran lingkungan begitu besar, tetapi tidak ada penegakan hukum. Seolah-olah dibiarkan,” kata Jull.
Ia menilai ketidakhadiran negara dalam merespons kerusakan lingkungan di Sangihe membuat masyarakat bergantung pada adat.
“Yang tidak pernah berkhianat pada keselamatan rakyat adalah adat dan tradisi,” ujarnya.
Menurut Jull, para tetua adat melihat perlunya membangkitkan kembali tradisi leluhur yang erat dengan alam, laut, darat, udara, dan hutan. Nilai-nilai itu menjadi pegangan ketika regulasi dan kewenangan negara tidak lagi melindungi masyarakat.
“Banyak orang tidak tersentuh hukum. Banyak yang tidak peduli padahal ancaman ada di depan mata. Bahkan keselamatan diri sampai nyawa menjadi taruhan,” lanjutnya.
“Darumatehu Sembanua” kembali menjadi ruang perenungan kolektif masyarakat Sangihe. Di tengah ketidakpastian penegakan hukum dan meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan, adat tampil sebagai penyangga terakhir untuk menjaga keseimbangan alam dan masa depan pulau di perbatasan utara Nusantara.
Ritual ini menjadi seruan untuk melestarikan tradisi sekaligus panggilan untuk menyelamatkan Sangihe. Sebuah harapan yang dipanjatkan melalui doa, seni, dan suara-suara yang tumbuh dari tanah leluhur.
Jull juga menyinggung temuan berbagai penelitian yang menunjukkan pencemaran dan kontaminasi logam berat akibat aktivitas tambang. Namun, menurutnya, sikap pemerintah cenderung abai dan membuka ruang bagi eksploitasi Pulau Sangihe.
Ia menyebut adanya mobilisasi alat berat menuju Bowone dan beberapa lokasi tambang ilegal sebagai “pertunjukan kejahatan terorganisir,” serta menduga aparat terlibat karena tidak ada penindakan di lapangan.
Ia bahkan meragukan komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap penindakan tambang ilegal.
“Saya mempertanyakan apakah Sangihe ini masih dianggap bagian dari Indonesia atau tidak,” ujarnya.
Salah satu sesepuh adat, Olden Ambui, menegaskan bahwa dasar pelaksanaan ritual ini adalah keprihatinan mendalam atas kondisi daerah. Melalui Darumatehu Sembanua, mereka memanjatkan doa agar Sangihe diberkati, masyarakatnya damai, dan warisan leluhur tetap lestari.
“Segala daya sudah dilakukan. Kita tidak punya kuasa lebih. Lewat ritual ini, kita memohon Tuhan membuka hati kita semua agar bisa menjaga alam Sangihe,” kata Ambui yang juga mengambil bagian dalam ritual tersebut.
Sekretaris Daerah Kepulauan Sangihe, Harry Wolf, yang turut hadir dalam acara itu menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi dan upaya menjaga lingkungan. Ia mengakui adanya batas kewenangan, namun menegaskan komitmen pribadi dan institusional untuk bekerja bersama masyarakat.
“Kami berharap kita bersama-sama menjaga dan mewariskan nilai-nilai tradisi dan alam ke depan. Dan kami mohon teman-teman terus mengingatkan, mendorong, dan mengajak pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, hingga kampung,” ujar Wolf. (**)
Peliput:
Rendy Saselah


Discussion about this post