Minahasa, Barta1.com – Mati satu tumbuh seribu: petani berdaulat, pangan sehat, bumi terawat menjadi tema refleksi yang digagas oleh Solipetra dan Betina Issue bersama sejumlah organisasi perjuangan. Kegiatan ini berlangsung di Posko Petani Kalasey 2, Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jumat (7/11/2025).

Rangkaian acara mencakup gelar pangan lokal dan demo masak, pasar seni yang menampilkan musik akustik, puisi, teater, hingga pameran foto. Selain itu, diadakan pula workshop pembuatan pupuk organik, sosialisasi pertanian hidroponik, dialog interaktif, doa berantai, serta penanaman tujuh pohon pisang sebagai simbol refleksi perjuangan 7 November.

“Kegiatan ini digelar untuk memperingati peristiwa 7 November 2022, ketika terjadi penggusuran lahan di Kalasey 2. Banyak petani, termasuk para lansia, seperti Oma dan Opa, yang hari ini mengalami trauma akibat kehilangan ruang hidup mereka,” ujar Kenzia dari Betina Issue.
Menurut Kenzia, refleksi ini juga merupakan bentuk kritik terhadap krisis lingkungan dan perubahan iklim. Melalui kegiatan ini, para penyelenggara ingin mendorong masyarakat, khususnya para Mama, Oma, dan Opa, untuk terus bertani, mempertahankan lahannya dengan cara yang menjaga kelestarian alam.
“Tema Mati Satu Tumbuh Seribu kami ambil dari filosofi pohon pisang. Meskipun ditebang berkali – kali, ia akan terus bertunas. Begitu pula dengan perjuangan petani Kalasey 2, yang kami harap terus tumbuh dan berkembang demi mempertahankan gerakan serta merawat ingatan atas apa yang telah terjadi di sini,” lanjutnya.
Kenzia menegaskan, kegiatan ini juga merupakan wujud kedaulatan petani, agar mereka bisa mengelola dan menanam di atas tanah mereka sendiri. Prinsip yang diusung tetap sama: pangan sehat, bumi terawat.
Ia menambahkan, kegiatan ini turut menampilkan praktik pertanian organik, seperti pembuatan pupuk organik dan pengelolaan eco-enzyme. Program ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi, dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Selain itu, dilakukan pula uji coba pertanian hidroponik berbasis pupuk organik, untuk memastikan produktivitas tetap tinggi tanpa merusak bumi.
Sementara itu, Refli Senggel, warga Kalasey 2 sekaligus perwakilan WALHI Sulut, membenarkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk refleksi atas peristiwa penggusuran tahun 2022.
“Saat itu, negara dengan kekuasaan dan kapasitas besar melakukan penggusuran paksa terhadap ruang hidup petani, padahal lahan itu telah dikelola jauh sebelum Indonesia merdeka,” jelasnya.
Refli menegaskan, refleksi kali ini adalah bentuk perlawanan ingatan terhadap ketidakadilan yang dialami masyarakat.
“Hari ini kami merawat gerakan, menjaga rasa, dan memperkuat solidaritas dengan mahasiswa serta masyarakat sipil lainnya. Kami akan terus konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat, karena itu dijamin oleh undang-undang,” Pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post