Sangihe, Barta1.com — Cahaya baru hadir di desa Beeng Laut, di gugusan kepulauan Kabupaten Kepulauan Sangihe. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tahuna memasang Supersun di SMP Negeri 3 Satu Atap (Satap).
Bukan sekadar panel surya, tetapi simbol keadilan energi yang menjangkau anak-anak di daerah 3T: terdepan, terluar dan tertinggal.
Selama bertahun-tahun, keterbatasan listrik menjadi kendala utama proses belajar di sekolah ini. Ruang kelas hanya berfungsi pada siang hari, sementara perangkat digital kerap terdiam karena kekurangan daya.
Kini, dengan hadirnya Supersun yang memadukan tenaga surya dan baterai penyimpan energi, sekolah mendapatkan pasokan listrik 24 jam penuh.
“PLN tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga menghadirkan harapan dan masa depan bagi generasi muda. Lewat Supersun, kami ingin memastikan bahwa keterbatasan infrastruktur tidak lagi menjadi penghalang untuk meraih pendidikan yang lebih baik,” ungkap RM Dimas Adhi Prabowo, Manager PLN UP3 Tahuna, baru-baru.
Kata-kata itu menemukan maknanya di ruang-ruang kelas SMP Satap Beeng Laut. Anak-anak kini bisa belajar menggunakan proyektor, komputer, bahkan melakukan pembelajaran daring. Di daerah perbatasan yang jaraknya ratusan kilometer dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, listrik telah menghapus jurang menganga antara kota dan pulau terpencil.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menegaskan bahwa program ini adalah langkah nyata dalam pemerataan pendidikan.
“Melalui Supersun, kami ingin memastikan anak-anak di Beeng dan di seluruh wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Ini sekaligus menjadi komitmen PLN mendorong transisi menuju energi terbarukan di Indonesia,” katanya.
Bagi para guru, kehadiran listrik bagaikan pintu menuju masa depan. Elisabet, salah satu pendidik di sekolah itu, menyampaikan rasa syukur.
“Terima kasih kepada PLN yang telah menyambung listrik di sekolah kami, sangat membantu dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujarnya sambil menatap anak-anak yang antusias menyalakan komputer sekolah.
Wilayah Kepulauan Sangihe sendiri terdiri dari lebih dari 100 pulau, sebagian besar berada di jalur perbatasan Indonesia-Filipina. Rasio elektrifikasi di Sulawesi Utara telah mencapai 99,98% per Juni 2025, namun tantangan terbesar tetap ada di pulau-pulau kecil yang jauh dari jaringan listrik utama.
Supersun menjadi jawaban yang murah, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk menjangkau wilayah ini.
Lebih dari sekadar panel surya, Supersun adalah wujud keberpihakan energi. Teknologi ini mengandalkan pembangkit individual tenaga surya yang terintegrasi dengan baterai, memungkinkan listrik tetap menyala meski matahari terbenam.
Dengan begitu, anak-anak di Beeng Laut bisa belajar malam hari tanpa harus bergantung pada lampu minyak atau genset mahal berbahan bakar fosil.
Inisiatif PLN sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan nomor 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Di ruang kelas sederhana di ujung negeri, pencapaian global itu menemukan wajahnya dalam senyum anak-anak yang kini bisa bermimpi lebih besar.
PLN berharap, Supersun bukan hanya proyek teknis, melainkan inspirasi bagi kolaborasi lintas pihak. Pendidikan di wilayah perbatasan membutuhkan sinergi, dan energi bersih adalah fondasi yang membuatnya berjalan. Dengan listrik yang stabil, akses digital terbuka, dan generasi baru siap tumbuh dengan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Cahaya Supersun di Beeng Laut menjadi bukti bahwa energi kelistrikan bukan hanya soal daya, tetapi juga tentang masa depan bangsa. Dari kepulauan Sangihe, harapan itu menyala: bahwa setiap anak Indonesia, di manapun ia berada, berhak atas cahaya yang sama terang untuk menuntun langkahnya menuju masa depan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post