• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Seni Menggugah Kesadaran Ekologis, Sebuah Catatan dari Manado Eco Vibe Fest (I)

by Iverdixon Tinungki
10 September 2025
in Seni
0
Sebuah kreasi tari terkait isu lingkungan di ajang Eco Fibe Festival 2025

Sebuah kreasi tari terkait isu lingkungan di ajang Eco Fibe Festival 2025

0
SHARES
39
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hari itu Rabu, 4 Juni 2025, saya ikut menghadiri Eco Vibe Festival digelar di kawasan Megamas Manado oleh oleh Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja  PLN Suluttenggo.

Ini sebuah hajatan seni yang terbilang spektakuler menampilkan beragam karya cipta seni jelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-dunia.
Bagi saya, membayangkan Eco Vibe Festival, adalah menelusuri perbincangan panjang Daisaku Ikeda dan Arnold Toynbee, dua pemikir Timur-Barat saat mendialogkan “Kemanunggalan Manusia dan Alam” dalam buku “Choose Life”.
Dari sebuah ruang meditatif paling sublim, mereka menyerukan upaya penyelamatan dunia dari dominasi manusia terhadap lingkungan.
Bagi mereka, ada semacam kegagalan sistem rasio makhluk manusia sepanjang ini  yang lebih mengutamakan insting keserakahan yang berdampak pada kerusakan ekologis.
Sebuah kegagalan rasionalisme serta modernism yang lebih banyak menyokong datangnya malapetaka yang paling mencemaskan  atas nasib planet bumi sebagai rumah biotik dan abiotik itu. Sebuah ancaman serius atas keberlangsungan hidup yang hanya bisa diselamatkan lewat jalan seni.
Mengapa hanya dengan jalan seni? Menjawab pertanyaan ini, budayawan dan filsuf Benni M Matindas, mengutip teori estetika “Art as Experience” (1934), Dewey menyimpulkan seni sebagai alat prediksi yang mampu memberikan apa yang tak mampu ditemukan oleh pemetaan ataupun statistik, mampu menyinggung pelbagai kemungkinan hubungan antar-manusia yang tak mampu dicapai oleh hukum, aturan, tatanan, maupun segala wejangan.
Seni dipandang dan andalkan bagi  keberlangsungan peradaban umat manusia dan lingkungannya.
Sampai di sini, untuk membawa kita lebih dekat ke dalam pemahaman tentang dampak  teknologi ilmiah dalam dunia industry yang digunakan untuk menaklukan alam dan makhluk hidup lainnya, berikut ini saya sajikan sebuah puisi naratif:
sambil menyantap sebelas ribu mikroplastik
di piring seafood yang kita telan pertahunnya
mari menafsir jumlah ikan
dan jumlah plastik yang mengisi lautan
karena lebih dari 99 persen mikroplastik diekskresikan
dan terperangkap dalam jaringan tubuh udang kerang dan ketam
bila engkau mengkonsumsi atau mencintai penyu
lebih dari setengah penyu dunia merayakan pesta
plastik dalam tubuhnya
sebab di lautan sana
jumlah plastik kini lebih banyak
dari jumlah ikan
mari menafsir perjalanan plastik
dari seafood ke tubuh manusia
bukankah yang terbaca adalah catatan kebodohan kita
yang membiarkan senyawa kimia
menyebar racun mematikan semua
seekor kerang yang lucu
yang makan dengan menyaring 20 liter air laut perhari
dapat menelan sejumlah mikroplastik tanpa sengaja
dan dengan tolol kita menyantap sampah kita
di dalam piring seakanakan itu kelezatan yang berguna
mengapa  hewan memakan plastik di lautan?
karena plastik beraroma seperti makanan
itu sebabnya ikan lebih suka makan plastik
daripada plankton yang disajikan Tuhan untuknya
kini dari kota ke kota
manusia selalu menyumbang sampah ke laut dunia
sampah sebuah kota diatas 175.000 ton perhari
sampah sebuah negara seperti Indonesia
mencapai 64 juta ton perhari
maka jangan heran
bila kini engkau melihat laut
lihatlah di sana ada lima triliun partikel plastik
mengambang bagai maut yang mengintai kita
bila engkau bertanya sejahat apa kita pada lautan dunia
jawabnya setara dengan satu truk penuh sampah pastik
yang dibuang ke laut tiap menitnya
(Dari puisi: Seafood Dan Mikroplastik, Iverdixon Tinungki)
Puisi di atas dapat dibayangkan sebagai bagian dari  fragmentasi kegagalan umat manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dibutuhkan sebuah gerakan penyadaran secara global untuk menyelamatkannya.
Begitulah Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni, sejatinya adalah upaya meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi.
Diperlukan adanya kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia sebagai aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Terkait dengan itulah saya memandang Eco Vibe Festival yang diselengarakan hari itu di Kawasan Megamas sebagai sebuah hajatan yang patut diapresiasi.
Di sana ada tampilan  seni rupa, bonsai, tari puisi, musik, teater dan beragam karya cipta dan pertunjukan lainnya termasuk dialog lingkungan, mengingatkan saya pada pandangan kritis Theodor Adorno, seorang filsuf yang memandang seni sebagai jalan lain (ganz andere) dalam bertemu kebenaran.
Sebuah jalan yang digambarkan secara eksplisit  olerh filsuf  Richard Rorty dalam meletakkan seni bahkan puisi sebagai juru selamat lingkungan dan peradaban. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)
Barta1.Com
Tags: Eco Vibe Festival 2025pln
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Aktor dan penyair Inggrid Pangkey saat tampil di ajang Eco Fibe Festival 2025

Melawan Pencemaran Lingkungan Dengan Puisi, Catatan dari Eco Vibe Fest (II)

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Akreditasi Unggul Diraih, Mahasiswa Informatika Polimdo Percaya Diri Dalam Persaingan 24 April 2026
  • Petinggi BSG ‘Dikuliti’ Kejati Sulut Soal Dugaan Korupsi CSR, Kapan Dirut? 24 April 2026
  • Gubernur Yulius Angkat Isu Lingkungan di Paripurna, 5.000 Warga Koha Krisis Air Bersih 24 April 2026
  • PLN UP3 Gorontalo Gelar Apel Serentak, Akselerasi Layanan dan Jamin Keandalan Pasokan Listrik 24 April 2026
  • PLN UID Suluttenggo Perkuat Mitigasi dan Keandalan Listrik di Desa Siaga Bencana Kinilow 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In