Hari itu Rabu, 4 Juni 2025, saya ikut menghadiri Eco Vibe Festival digelar di kawasan Megamas Manado oleh oleh Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Suluttenggo.
Ini sebuah hajatan seni yang terbilang spektakuler menampilkan beragam karya cipta seni jelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-dunia.
Bagi saya, membayangkan Eco Vibe Festival, adalah menelusuri perbincangan panjang Daisaku Ikeda dan Arnold Toynbee, dua pemikir Timur-Barat saat mendialogkan “Kemanunggalan Manusia dan Alam” dalam buku “Choose Life”.
Dari sebuah ruang meditatif paling sublim, mereka menyerukan upaya penyelamatan dunia dari dominasi manusia terhadap lingkungan.
Bagi mereka, ada semacam kegagalan sistem rasio makhluk manusia sepanjang ini yang lebih mengutamakan insting keserakahan yang berdampak pada kerusakan ekologis.
Sebuah kegagalan rasionalisme serta modernism yang lebih banyak menyokong datangnya malapetaka yang paling mencemaskan atas nasib planet bumi sebagai rumah biotik dan abiotik itu. Sebuah ancaman serius atas keberlangsungan hidup yang hanya bisa diselamatkan lewat jalan seni.
Mengapa hanya dengan jalan seni? Menjawab pertanyaan ini, budayawan dan filsuf Benni M Matindas, mengutip teori estetika “Art as Experience” (1934), Dewey menyimpulkan seni sebagai alat prediksi yang mampu memberikan apa yang tak mampu ditemukan oleh pemetaan ataupun statistik, mampu menyinggung pelbagai kemungkinan hubungan antar-manusia yang tak mampu dicapai oleh hukum, aturan, tatanan, maupun segala wejangan.
Seni dipandang dan andalkan bagi keberlangsungan peradaban umat manusia dan lingkungannya.
Sampai di sini, untuk membawa kita lebih dekat ke dalam pemahaman tentang dampak teknologi ilmiah dalam dunia industry yang digunakan untuk menaklukan alam dan makhluk hidup lainnya, berikut ini saya sajikan sebuah puisi naratif:
sambil menyantap sebelas ribu mikroplastik
di piring seafood yang kita telan pertahunnya
mari menafsir jumlah ikan
dan jumlah plastik yang mengisi lautan
karena lebih dari 99 persen mikroplastik diekskresikan
dan terperangkap dalam jaringan tubuh udang kerang dan ketam
bila engkau mengkonsumsi atau mencintai penyu
lebih dari setengah penyu dunia merayakan pesta
plastik dalam tubuhnya
sebab di lautan sana
jumlah plastik kini lebih banyak
dari jumlah ikan
mari menafsir perjalanan plastik
dari seafood ke tubuh manusia
bukankah yang terbaca adalah catatan kebodohan kita
yang membiarkan senyawa kimia
menyebar racun mematikan semua
seekor kerang yang lucu
yang makan dengan menyaring 20 liter air laut perhari
dapat menelan sejumlah mikroplastik tanpa sengaja
dan dengan tolol kita menyantap sampah kita
di dalam piring seakanakan itu kelezatan yang berguna
mengapa hewan memakan plastik di lautan?
karena plastik beraroma seperti makanan
itu sebabnya ikan lebih suka makan plastik
daripada plankton yang disajikan Tuhan untuknya
kini dari kota ke kota
manusia selalu menyumbang sampah ke laut dunia
sampah sebuah kota diatas 175.000 ton perhari
sampah sebuah negara seperti Indonesia
mencapai 64 juta ton perhari
maka jangan heran
bila kini engkau melihat laut
lihatlah di sana ada lima triliun partikel plastik
mengambang bagai maut yang mengintai kita
bila engkau bertanya sejahat apa kita pada lautan dunia
jawabnya setara dengan satu truk penuh sampah pastik
yang dibuang ke laut tiap menitnya
(Dari puisi: Seafood Dan Mikroplastik, Iverdixon Tinungki)
Puisi di atas dapat dibayangkan sebagai bagian dari fragmentasi kegagalan umat manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dibutuhkan sebuah gerakan penyadaran secara global untuk menyelamatkannya.
Begitulah Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni, sejatinya adalah upaya meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi.
Diperlukan adanya kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia sebagai aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Terkait dengan itulah saya memandang Eco Vibe Festival yang diselengarakan hari itu di Kawasan Megamas sebagai sebuah hajatan yang patut diapresiasi.
Di sana ada tampilan seni rupa, bonsai, tari puisi, musik, teater dan beragam karya cipta dan pertunjukan lainnya termasuk dialog lingkungan, mengingatkan saya pada pandangan kritis Theodor Adorno, seorang filsuf yang memandang seni sebagai jalan lain (ganz andere) dalam bertemu kebenaran.
Sebuah jalan yang digambarkan secara eksplisit olerh filsuf Richard Rorty dalam meletakkan seni bahkan puisi sebagai juru selamat lingkungan dan peradaban. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)
Barta1.Com


Discussion about this post