• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Juni 10, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Suara Gadis Bantik: Dari Pesisir ke Panggung Perlawanan

by Meikel Eki Pontolondo
8 September 2025
in Edukasi, Seni
0
Pengacara Muda, Corry Sofiani M. Sengkey saat membawakan puisi perlawanan terhadap sistem struktural. (foto: meikel/barta)

Pengacara Muda, Corry Sofiani M. Sengkey saat membawakan puisi perlawanan terhadap sistem struktural. (foto: meikel/barta)

0
SHARES
97
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar aksi panggung aspirasi di area Patung Ibu-Anak Jln Walanda Maramis, Komo luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (6/09/2025).

Berbagai aspirasi disampaikan, salah satunya adalah orasi sekaligus dengan puisi. Itu pula yang dilakukan oleh pengacara muda, Corri Sofiani M. Sengkey.

“Sekarang ini torang (kami) semua tidak sejahtera. Ojol ada di mana-mana, pinjol juga merajalela. Itu bukti bahwa keadaan kita sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Corri, sambil menyerukan: Hidup perempuan, hidup rakyat, hidup petani, hidup nelayan, hidup buruh!

Corri pun berbagi kisah tentang latar belakang hidupnya.

“Saya adalah seorang nelayan. Saya istri nelayan. Opa saya juga nelayan. Saya tumbuh besar di pesisir. Dulu, kalau mau jajan ke sekolah, saya harus jual ikan dulu,” tuturnya.

Kini, Corry telah berdiri tegak sebagai seorang pengacara muda. Ia bukan sekadar advokat, melainkan pembela rakyat yang 90 persen perkaranya berkaitan dengan konflik agraria, mulai dari tanah adat, korban penggusuran, hingga tanah rakyat yang dirampas.

“Tadi sudah disampaikan lewat seni oleh Iing Imadji. Kalasey dirampas secara brutal, diambil paksa oleh kekuatan struktural. Perampasan pesisir melalui program reklamasi adalah bukti nyata bahwa terjadi kesewenang-wenangan di tanah Minahasa,” tegasnya.

Hari ini, Corri berdiri bukan hanya sebagai advokat, tapi sebagai gadis kecil dari Minahasa, dari tanah Bantik, yang datang membawa suara yang kemarin ditolak di Gedung Rakyat (DPRD Sulut).

“Saya akan sampaikan aspirasi saya ini, melalui pusisi,” ujarnya

Puisi: Perempuan Kecil, Punggung Peradaban Adat

Di wajahmu terlukis garis ombak
Yang datang dari tanah Minahasa
Tercipta peradaban, melukis jelas di tanah ini
Tanah ini bukan sekadar bumi
Tapi simbol kehidupan dalam setiap langkah

Perempuan Minahasa dari ujung negeri Bantik
Penyulang doa di sela-sela jemari
Membasahi tanah dengan air mata, harapan, dan peradaban
Agar tak tercabut oleh rakusnya saman
Yang berkedok struktural

Suara ini mungkin lirih
Namun gaungnya menghembus batu
Ia, batu yang keras, yang dibuat oleh sistem negara ini
Menjaga tanah adat yang suci, warisan leluhur
Menyepi laut dari racun yang utama

Engkau berdiri di garis batas
Antara adat, adab, dan angin perubahan
Di tanah Minahasa

Tak akan goyah meski badai datang
Dari topeng-topeng politik struktural
Yang dipakai oleh para elite
Di kursi empukmu.

Dia, saya, dan mereka berjanji
Untuk tanah leluhur ini
Agar anak-cucu nanti masih menyampaikan:
“bahwa Ini tanah nenek moyang kami.” (*)

Editor Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Aliansi Perempuan IndonesiaCorry Sofiani M. SengkeyPuisi perlawanan
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Foto: Bupati Michael Thungari menyampaikan sambutan di UPP Kelas II Tahuna. (Dok. Rendy/Barta1)

Bupati Sangihe Soroti Tantangan Transportasi Laut Jelang Hari Perhubungan Nasional

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Jaga Populasi Ikan Langka, KKP Lepasliarkan 1.300 Ekor Cheilinus Undulatus 10 Juni 2026
  • Donor Darah Rutin, Wujud Nyata Kepedulian KSR PMI UPT Polimdo 10 Juni 2026
  • PBM – MB, Jurusan Teknik Elektro Polimdo Bawa Energi Hijau ke Permukiman Warga 10 Juni 2026
  • DPRD dan Polda Sulut Perkuat Pengawasan BBM Subsidi 10 Juni 2026
  • DPRD dan Pemprov Sulut Tuntaskan Penyempurnaan RTRW 10 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In