Manado, Barta1.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar aksi panggung aspirasi di area Patung Ibu-Anak Jln Walanda Maramis, Komo luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (6/09/2025).
Berbagai aspirasi disampaikan, salah satunya adalah orasi sekaligus dengan puisi. Itu pula yang dilakukan oleh pengacara muda, Corri Sofiani M. Sengkey.
“Sekarang ini torang (kami) semua tidak sejahtera. Ojol ada di mana-mana, pinjol juga merajalela. Itu bukti bahwa keadaan kita sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Corri, sambil menyerukan: Hidup perempuan, hidup rakyat, hidup petani, hidup nelayan, hidup buruh!
Corri pun berbagi kisah tentang latar belakang hidupnya.
“Saya adalah seorang nelayan. Saya istri nelayan. Opa saya juga nelayan. Saya tumbuh besar di pesisir. Dulu, kalau mau jajan ke sekolah, saya harus jual ikan dulu,” tuturnya.
Kini, Corry telah berdiri tegak sebagai seorang pengacara muda. Ia bukan sekadar advokat, melainkan pembela rakyat yang 90 persen perkaranya berkaitan dengan konflik agraria, mulai dari tanah adat, korban penggusuran, hingga tanah rakyat yang dirampas.
“Tadi sudah disampaikan lewat seni oleh Iing Imadji. Kalasey dirampas secara brutal, diambil paksa oleh kekuatan struktural. Perampasan pesisir melalui program reklamasi adalah bukti nyata bahwa terjadi kesewenang-wenangan di tanah Minahasa,” tegasnya.
Hari ini, Corri berdiri bukan hanya sebagai advokat, tapi sebagai gadis kecil dari Minahasa, dari tanah Bantik, yang datang membawa suara yang kemarin ditolak di Gedung Rakyat (DPRD Sulut).
“Saya akan sampaikan aspirasi saya ini, melalui pusisi,” ujarnya
Puisi: Perempuan Kecil, Punggung Peradaban Adat
Di wajahmu terlukis garis ombak
Yang datang dari tanah Minahasa
Tercipta peradaban, melukis jelas di tanah ini
Tanah ini bukan sekadar bumi
Tapi simbol kehidupan dalam setiap langkah
Perempuan Minahasa dari ujung negeri Bantik
Penyulang doa di sela-sela jemari
Membasahi tanah dengan air mata, harapan, dan peradaban
Agar tak tercabut oleh rakusnya saman
Yang berkedok struktural
Suara ini mungkin lirih
Namun gaungnya menghembus batu
Ia, batu yang keras, yang dibuat oleh sistem negara ini
Menjaga tanah adat yang suci, warisan leluhur
Menyepi laut dari racun yang utama
Engkau berdiri di garis batas
Antara adat, adab, dan angin perubahan
Di tanah Minahasa
Tak akan goyah meski badai datang
Dari topeng-topeng politik struktural
Yang dipakai oleh para elite
Di kursi empukmu.
Dia, saya, dan mereka berjanji
Untuk tanah leluhur ini
Agar anak-cucu nanti masih menyampaikan:
“bahwa Ini tanah nenek moyang kami.” (*)
Editor Meikel Pontolondo


Discussion about this post