Manado, Barta1.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar aksi perlawanan dalam bentuk “Panggung Aspirasi” di Patung Ibu-Anak, Jalan Walanda Maramis, Komo Luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (6/9/2025).

Koordinator API Sulut, Aryati Rahman, menyampaikan bahwa aksi ini adalah wadah bagi perempuan untuk menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam.

“Kami ingin menunjukkan bahwa aksi ini adalah panggung aspirasi kami. Ini ruang yang kami ciptakan untuk menyampaikan segala keresahan perempuan hari ini,” tegas Aryati.

Aryati juga menyoroti bahwa situasi negara saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ia menekankan pentingnya peran aktif perempuan dalam melawan ketidakadilan.

“Kalau perempuan hari ini hanya diam, maka penindasan akan terus berlangsung,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti aksi sebelumnya pada 1 September 2025. Saat itu, seorang pria mempertanyakan keikutsertaan para ibu dan tante dalam demonstrasi. Aryati menjawab dengan tegas:

“Justru karena saya seorang ibu dan tante, maka saya harus ikut. Saya harus menyuarakan aspirasi demi masa depan anak saya.”

Menurut Aryati, Indonesia saat ini tidak ramah terhadap perempuan, dan jika perempuan tetap bungkam, maka anak-anak mereka hanya akan menjadi korban dari sistem yang menindas.

“Saya tidak ingin anak dan keturunan saya hanya menjadi penonton dari elit-elit politik kurang ajar yang mengendalikan negara ini,” katanya dengan lantang.
Aryati menegaskan bahwa perjuangan API bukan untuk menghancurkan negara, melainkan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan manusiawi, dimulai dari peran perempuan.
“Perempuan adalah sumber kehidupan. Presiden sekalipun bukan siapa-siapa jika tidak disusui oleh perempuan. Gubernur pun tidak akan menjadi seperti sekarang kalau tidak dirawat oleh perempuan,” ujarnya.
Ia menutup orasinya dengan menyatakan bahwa forum ini adalah bentuk luka kolektif perempuan Sulut yang selama ini terabaikan.
“Kami tahu sistem ini rusak, dan negara tidak baik-baik saja. Maka hanya ada dua pilihan: bangkit melawan atau tunduk dan tertindas. Hidup rakyat!”
Aksi ini diisi dengan berbagai bentuk ekspresi perlawanan, seperti pertunjukan makeup, pembacaan puisi, monolog, bernyanyi, hingga menggambar, semuanya sebagai simbol suara yang tak bisa dibungkam. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post