(Sebuah refleksi kemanusiaan atas perang di Gaza)
Bingkai Kosong dan Sebuah Puisi Bertera Air Mata
Karya: Iverdixon Tinungki
Panggung: Sebuah Ruang Pertunjukan
Imel punya foto Abia, seorang sahabatnya yang meninggal sebagai korban perang di Gaza, Palestina. Seiring pecah perang Israel Palestina, di mana-mana terjadi aksi keberpihakan kepada kedua negara atas dasar kepentingan masing-masing. Imbasnya foto Abia yang disimpan Imel di kamar asramanya pun lenyap dari bingkainya. Keadaan itu membuat Imel sedih dan marah.
Imel dan Abia punya lagu kesukaan bersama yaitu Hallelujah (Aleluia) karya Leonard Cohen.
Sambil membawa sebuah bingkai foto kosong dan sebatang lilin Imel menyanyikan lagu itu ke ruang pertunjukan. Di tengah panggung, ia meletakkan bingkai bersama lilin.
Imel:
(Dalam perasaan haru)
Gaza adalah sebuah tempat di mana 13.300 orang tewas seketika. 5.600 anak-anak tertelungkup dicekik maut peperangan. 3.550 perempuan terkulai bagai kertas di bawah hujan peluruh. Itulah catatan Abia, gadis Palestina sahabatku, sebelum tubuhnya pecah terbongkar dalam sebuah ledakan bom.
(Berjalan ke arah kursi di pojok kiri sambil menghaburkan sobekan kecil-kecil kertas)
Imel:
Bagai kertas-kertas yang sobek, begitulah nasib Abia. Karena yang disugguhkan peperangan kepada kita hanyalah luka kemanusiaan. Di mana pun di belahan dunia perang tak lebih ladang pedih, air mata, dan kematian yang memilukan. Aku tak berpihak pada Palenstina, Israel, atau apa pun negara yang bersengketa. Aku hanya peduli pada kemanusiaan yang terluka.
(Duduk di kursi di pojok kiri.)
Imel:
Dalam persahabatan yang sudah lama, aku menaru foto Abia dalam bingkai yang telah kosong itu (Menunjuk Bingkai). Aku memajangnya di kamar asrama tempat aku kuliah. Seperti ia juga memajang fotoku di rumahnya di Gaza. Tapi sejak perang Israel-Palestina pecah, foto Abia lenyap dari bingkainya. Entah siapa yang mengambilnya. Apakah dibakar, disobek, atau dibuang di tempat sampah, aku tidak tahu. Aku benar-benar sedih dan marah!
(Emosi agak tinggi)
Imel:
Apakah karena ia gadis Palestina, maka ia adalah musuh yang harus dibenci? Aku marah! Aku marah bukan karena kehilangan foto itu. Aku marah ketika ada seorang anak manusia dibenci cuma karena negaranya, cuma karena agamanya, karena sukunya, karena bangsanya. Karena aku percaya pada Firman yang berkata: Manusia semua sama di mata Tuhan. Ketika Yesus berkata; “Kasihilah sesamu manusia”, Bagaimana bisa kita menerima orang membenci Abia, cuma karena ia seorang gadis Palestina?
(Berdiri dekat Kursi)
Imel:
Di Palestina, Abia, seorang gadis cantik pemuja Kristus dari gereja Anglikan. Seperti saudara-saudara kita kaum Muslim, Yahudi, Arab dan orang-orang yang berasal dari berbagai bangsa yang hidup di Gaza, Abia tewas bersama mereka, bersama ratusan sahabat, adik, orang tua segerejanya, saat peluru-peluru itu datang menghujam Gaza.
(Menarik Kursi dari arah kiri menuju kanan pangung sambil bicara)
Imel:
Aku dan Abia telah lama berteman. Awalnya kami berkenalan hanya lewat media sosial. Ibunya seorang Palestina, ayahnya Yahudi Kristen yang punya darah campuran Minahasa. Persahabatan kami kian kental saat ia sempat berkunjung ke Manado, ke salah satu negeri leluhurnya.
“Oh, betapa cantik negeri luluhur ayahku,” ucap Abia dengan riang saat berkunjung ke Danau Tondano. Abia juga memuji kerukunan hidup umat beragama di kota di Manado, Minahasa, Bitung, Sangihe Talaud, dan Bolmong.
“Betapa aku melihat sejatinya surga di negeri leluhur ayahku ini,” begitu puji Abia. Tapi ketika perang Israel Palestina pecah. Surga yang dibayangkan Abia di negeri kita itu tiba-tiba lenyap. Orang-orang berunjuk rasa, bertengkar, berkelahi sampai ada yang mati cuma karena kepentingan agama dan politik. Bahkan foto Abia juga harus dilenyapkan cuma karena ia seorang Palestina.
(Tiba-tiba marah.)
Imel:
Kalau Kristus yang kita imani mencintai semua manusia. Mengapa kalian membenci Abia.
(Naik ke atas kursi dengan penuh emosi sambil membawa lembaran-lembaran kertas.)
Imel:
Apa yang kalian pikirkan ketika membincang Gaza? Dalam catatan-catatan ini kubaca, banyak orang mengatakan itu perang agama. Ada yang bicara itu perang penguasaan wilayah. Ada yang bilang itu sengketa dua bangsa yang tak akan berhenti sepanjang sejarah karena telah ditulis kitab-kitab suci. Apa pun yang kalian ucapkan, Gaza bagiku adalah Abia sahabatku. Gadis berhati baik yang menyebut nama Yesus di akhir hidupnya.
(Melontarkan kerta-kertas ke udara, lalu turun dengan cepat mengambil bingkai foto dan diangkatnya tinggi-tinggi)
Imel:
Lihat bingkai kosong ini. Siapa dari kalian yang merasa lebih layak menaru wajah di bidang segi empat ini. Jawab! Ayo jawab! Apakah Abia harus lenyap terlebih dahulu, agar kalian bisa menempati bingkai ini? Tidak Saudara-saudara. Aku membingkai Abia karena aku menghormati persahabatan, aku menghormati nilai kemanusiaan yang melekat pada dirinya, seperti nilai kemanusiaan yang melekat pada diriku, pada diri kita semua. Karena tak ada seorang manusia pun punya hak menentukan mati seseorang.
(Meletakan kembali bingkai foto ke tempatnya. Lalu menyalakan lilin dan kembali menyakikan lagu Halleluyah.)
Imel:
Beberahari sebelum kematian Abia, ketika Gaza bermandikan peluru, ia mengirimi aku sepotong puisi bertera air mata:
“Andai aku harus pulang ke rumah Tuhan
Doakan aku.
Andai kau teringat akan aku
Ingatlah Tuhan tak pernah meninggalkan siapa pun.
Andai kau merasa kehilangan aku
Ingatlah dalam kematian pun aku selalu mendoakanmu.”
Gaza, November 2023, Sahabatmu Abia.
(Dalam perasaan Penuh haru Imel menyanyikan kembali bagian akhir lagu Halleluyah)
Tamat.
(Dilarang dipentaskan tanpa seizin pengarang)


Discussion about this post