• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, April 28, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

TAMU-TAMU IMAJINIR DI HARI TUA, NASKAH DRAMA KARYA IVERDIXON TINUNGKI

by Ady Putong
26 Juli 2025
in Kultur, Sastra
0
TAMU-TAMU IMAJINIR DI HARI TUA, NASKAH DRAMA KARYA IVERDIXON TINUNGKI
0
SHARES
132
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pelaku dan karakter:
Lazarus: Lelaki (65) seniman
Elena: Perempuan (55) mantan pelacur, istri Lazarus
Amadea: Perempuan (50) seniman dan pengusaha
Alice: Perempuan (55) istri Bartolomius
Bartolomius: Lelaki (65) aktivis dan seniman
Garis: Lelaki (56) mantan kekasih Elena

Panggung: Ruang tamu dan keluarga di rumah milik Lazarus.

(Di ruang tamu dan ruang keluarga yang sederhana itu nampak Lazarus dan Bartolomius sedang bercakap-cakap tentang hari tua mereka. Dari luar terdengar suara pembeli barang bekas lewat dengan mobil meneriakan: Besih-besih tua, kulkas-kulkas bekas, aki-aki bekas, belanga loyang kipas angis bekas.)

Lazarus:
Pembeli barang bekas itu, selalu mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini akan menjadi tua, Bartolomius.

Bartolomius:
Tapi tak semua orang memiliki hari tua yang indah. Kau ingat Lazarus, setelah lima tahun aku berpisah dengan Alice, aku mencoba mengiriminya sebuah surat puitis. Aku telah menggubahnya menjadi puisi.

Lazarus:
Ya, kau menyuruh aku mengantarnya waktu itu.

Bartolomius:
(Membacakan puisinya)
Kepada Alice,
Siapa kekasihku pabila aku terus ingin menemukanmu
Kebenaran ini sesuatu yang tak tertahankan
Ucapan yang terlalu suram

Tak ada manusia masa kini tak dikelilingi gelombang besar
Tapi yang kuhadapi ibu dari gelombang itu
Bukankah ungkapam ekspresi tertinggi adalah diam
Seperti itulah aku ingin menemukan kekasihku
Apakah aku cukup kejam untuk diriku
ketika aku ingin bercinta denganmu?
Di mana engkau Alice
Di mana engkau Alice

Cintaku tak tercatat dalam kitab-kitab
Hanya pada puisi aku berharap
Seperti pisau kuhujam ke hulu dada
Luka adalah kata lain dari nyanyianku
Di mana engkau wahai petualangan

Pada ribuan buku
aku merasa tua
Seperti bercak air memercik kaca jendela
Sungai dangkal dengan dasar bernanah
Aku meringkuk menghitung usia
Ada udara mencari celah
Sementara di atas
Di langit berkilau
di antara sekelompok burung bernyanyi
kehendak bebas terbang
Kehendak bebas tetaplah elang
membagi cengkram ke atas terik
menyalakan api pada logam mati
agar kata, agar air mata ditumbuhi nyawa
Dan aku bangkit
ketika cinta mendefinisikan diri
tapi tak ada bangku cadangan untuk siapa pun

Namun pabila engkau menghaluskan ciuman ini, Alice
Aku merasa tertikam
Seperti sebuah jalan tergenang
Ketika aku ingin melitas menuju pesta
Seperti sebuah teater sepi diakhir pertunjukan
kostum, tata rias dan ekspresi paling membara sekali pun
ditanggalkan tanpa ampun
Dan lambaian tanganmu menamparku

(Terdengar alunan musik, Bartolomius pun bernyanyi mengikuti irama itu.)

Lagu Bartolomius:
Dahandahan berkibar hanya sebentar
Lanjur kucukupkan
Karena detik tak menunggu
aku mengulang kisah ini:
–Bahwa air mata adalah katakata
tak bisa kuucapkan pada matamu yang berias maskara
Dalam dunia membentang seperti bangku

(Bartolomius kemudian duduk dengan sedih, menahan perasaannya yang hancur. Terdengar orang-orang membacakan puisinya itu seperti paduan suara)

Puisi Paduan suara:
Banyak orang ingin menjadi tunggal
semacam Kain tak menyesal ia terusir meski Eden tetap indah
namun lewat sajak ini, aku ingin berbagi sebelah kaki
bukankah lebih baik kita punya waktu duduk
menikmati kesekejapan melaju seakan anak panah
tak usah kau tulis, Alice
karena sejarah tak pernah jujur
selalu berpihak pada warna kulit

Bartolomius:
Kita samasama pernah berlayar
setidaknya di laut yang dulu membaptis kening kita
dan mengapungkan janin ke atas geladak
sebagai manusia tak sekadar torso
Karena ada yang terpancar dari jiwa
Alam melihat itu pada diri kita
saat kita mencintainya
apalagi ingin menjadi muridnya
Dan saat engkau memijaki laut
larungkan jiwamu ke ombaknya
karena seluruh eloknya akan mengajarimu
bernyanyi
atau menemukan dirimu
yang sejati

(Terdengar puisi paduan suara bernyanyi.)

Lagu Puisi Padua Suara:
Bahkan sebelum buku pertama kau baca
dan sebelum kritikus dilahirkan
Yang tersulit:
—Mengenali tanah airmu yang sejati!

Bartolomius:
Tak banyak yang berhasil
Dan tak sedikit tersingkir
Adakah orang hidup untuk menjelaskan itu?
Guru, politisi, bahkan pemimpin negara
menganggap manusia adalah makhluk berhutang
dan setiap orang ditagih sebuah kehormatan
Kita kemudian akan menjadi seseorang tak mudah diingat
selain kita harus menjadi penjahat
Pabila engkau menjumpai seorang kelaparan, lalu,
mengabaikannya begitu saja
—begitulah cara kita melupakan Yesus.
Bahkan saat engkau mengumpatinya meskipun dalam hati
—Engkau telah berada satu langkah di depan pintu ketenaran Judas
Adakah seorang politisi tahu di mana makam Chairil Anwar?
Jawabnya: segala yang baik selalu mati di pintu pertama

(Bartolomius kembali bernyanyi bersama Lazarus)

Lagu Bartolomius dan Lazarus:
aku menanti engkau, Alice
aku menanti engkau menyinggahi simpang empat,
jalan tikung dan hamparan portulaca
Menyinggahi harihari berseri
dan halaman tempat puluhan tahun aku menyulam
kenangankenangan menakjubkan
Dari masa lalu tak boleh putus
membuat harihariku bernyanyi
mengarungi keharuman amsal

Lazarus:
Bahwa rentah bukan tempat ingatan lusuh
Bisa jadi itu rumah indah
Dibangun dari batubatu keras
Di atas metafora cadas ratusan pulau
tempat manusia menemukan kemanusiaan
dan kefanaannya

Bartolomius:
Di rumah di kaki bukit itu
dulu ciuman adalah puisi
senantiasa berderit dan kadang meraung
Atapnya yang tua melindungiku
Dari intaian langit tinggi tak bisa didaki sehari
bahkan sepajang hidup
Entahlah bila setelah mati
Namun dari bukit aku melihat laut
Burungburung wallet beterbangan
Perahuperahu mengulang kesibukannya
Sabanhari hingga tahuntahun berlalu
Sungguh suatu tempat indah untuk menanti

Puisi paduan suara:
Aku menanti engkau
Karena menanti adalah ketekunan
Hingga burungburung bisa berkatakata
Mengucapkan kebijaksaan lebih tinggi
dari intuisi manusia

Lazarus:
Sebagaimana engkau mendandani sejarah
Perjalanan flora menemukan ujungujung dunia
Para penakluk
Gemerincing soraksorai dan tangisan
Bangkai dan mereka yang menarinari
Seakan yang baru harus tumbuh di atas retuhan yang lama
Sebagaimana ayahku berkisah
peperangannya dengan bangga
Namun kutulis sebagai tulah
“Karena kadang aku mengutuk peperangan”
Tapi kadang aku menyepakatinya
Karena kehormatan hanya untuk yang pantas

Bartolomius:
Tak jauh, ada veldbox dari era kolonial
Begitu sejarah membentuk menusia
Dalam simbolsimbolnya ajaib
Agar amarah mememiliki api
Kebencian memiliki tepi
Sambil mendengungkan lagu kebangsaan,
Memacak bendera pusaka di sepanjang jalan kegembiraan
di sini, aku menjalani
tahuntahun penuh rahmat
tanahtanah perkebunan
lambat laun menjadi kota
sumursumur pompa
bentangan kabel dan bising kendaraan
teriakan orang mabuk
lonceng kematian
semuanya mampir di sungai waktu
dalam hirukpikuk semacam itu
dulu engkau memelukku sebagai kekasih
Dan aku terbelengu airmatamu

Lazarus:
Sebagimana kekasih dalam kemanusiaan
Ia melunaskan keheningan
mengikhlaskan tubuh halusnya kupeluk
di bawah pohon yang daundaunnya tahu bernyanyi

Lagu Bartolomius, Lazarus dan paduan suara puisi:
aku menanti engkau kekasih suci
Dan pabila engkau datang
Maukah engkau duduk bersejenak
menyaksikan tahuntahun kau izinkan ini
Karena aku tak mungkin lari darimu
Selain bersamamu mengubah kemurungan
Menjadi bab baru harus kutulis dengan penuh semangat
Sebagai nafas perjuangan
Dalam bilangan talenta akan kau hitung dan tagih

(Setelah lagu dan puisi itu usai, Lazarus dan Bartolomius terdiam sesaat.)

Lazarus:
(Memecah keheningan)
Itu surat puitis yang sangat indah. Dan aku ingat apa yang dilakukan Alice pada surat itu. disobek-sobeknya lalu dibakar. Abunya disirami air. Kata Alice, biar abu itu menjadi pupuk untuk rumput-rumput halus di halaman rumahnya. Aku ingat, karena aku yang mengantar surat itu pada Alice. Ketika itu kau menangis Bartolomius.

Bartolomius:
Iya aku ingat juga, saat itu kemudian kita pergi seakan sosok amorfati yang berbalas puisi di sebuah kedai kopi. Dan di sana kau berkata: Pabila engkau mencintai Emily Dickinson, sesungguhnya engkau mencintai puisi. Kata-kata disampaikan lewat pintu dari sebuah dunia sangat pemalu. Tapi penyair bukanlah manusia lucu kendati ia senantiasa mentertawai diri, memuja sepi dan pilu yang bernyanyi.

Lazarus:
Sejak Tuhan menghidupkan kita sebagai api, penyair menulis satir, cinta nan sublim dan hasrat pemberontakan paling cemerlang bahkan subversive. Seperti pengunjung Amherst. Begitulah kita sore itu Bartolomius. Kita adalah sebuah biografi dengan detil-detil teraneh. Lelaki yang dihidupkan, mati dan dihidupkan dalam impian kita, lalu berlalu dalam ketiadaan kisah.

Bartolomius:
Dan engkau berkata, mati adalah si pecemburu, penjaga pintu waktu. Lalu siapa kita kalau bukan Lazarus, Bartaolomius atau kupukupu. Menjalani saja, mencintai saja, karena hidup seakan padang dongeng tanpa mencari ujung mati yang sungguh.

Lazarus:
Aku belajar bahagia dengan semua itu Bartolomius. Menemukan kesendirian di alam semesta. Melihat sesuatu yang tak ada dari yang ada, merayakannya seperti burung kecil yang bersiul, sambil menunggu kesendirian itu berakhir. Dan masa depan biarlah ia menjadi seakan-akan sebuah ruang untuk harapan. Karena begitulah manusia, makhluk yang menikmati betapa mengasyikan cemburu itu. Di nyala api sebatang rokok bisa jadi ia biografi kematian nan elok.

Bartolomius:
Hari itu, kita bersama para amorfati lain menjejali kedai menikmati sore, menunggu mati yang biru itu cemburu. Sembari menjalani ritus kopi, menyatukan air dan api pada cangkir untuk makna puisi-puisi penyair tentang fana dan abadi dalam masing-masing diri. Karena sejak mulanya hidup bukan jalan untuk menyingkir. Sebab kreatifitas itu seperti sebuah pipa air, katamu. Jika tersumbat ia akan meledak ke mana-mana. Ke mana kita akan melangkah esok hari Lazarus, selain mengikuti takdir. Seperti Emily menggugat dan mengganyang dunia dengan hatinya melampaui batas-batas dogma dan kekuasaan.

Lazarus:
Karena perasaan sayang tak boleh terkungkung dan terjajah. Mencairlah nestapa! Ucap Emily di atas musim berkilau, karena tanpa cinta puisi jadi mustahil. Begitu aku menulis sore itu. Seberapa jauh kau mengenalku? Mengenal cinta yang hanya kekal dalam ketiadaannya. Dan kita dua burung kecil berkesiur, lalu bersiul bercericit meniti dahan-dahan sambil terpukau dengan pemandangan anak-anak pergi dan kekasih-kekasih menjauh.

Bartolomius:
Kita duduk pada ranting kita patahkan sendiri, karena penyair percaya ia akan tumbuh kembali. Maka ia mencintai saja luka itu datang padanya. Seperti manusia, satwa-satwa terbang itu butuh sarang untuk pulang ke dekapan ketiadaan biar senja dari zaman ke zaman tak sekadar berisi deru dan bising, namun juga recital bahwa panggung-panggung alam bersahaja juga punya nyanyian, punya kata-kata disampaikan lewat hening dan diam sebelum daunan gugur dan cinta bertemu daya ucapnya pada sepasang kekasih yang melangkah ke laga peradaban dunia.

Lazarus:
O… Siapa yang kau cintai Emily? Sajak-sajak cintamu begitu sepi. Kata-kata yang hanya disampaikan lewat pintu dari sebuah dunia sangat pemalu. Lihatlah kami berdua menyesap kopi sembari mentertawai diri. Dalam kehidupan biasa seperti ini, kita selalu dipertemukan banyak dongeng tentang ketiadaan yang sesungguhnya ada. Tentang plantae dalam metafora hemafrodit, bahwa cinta itu sesuatu yang unik. Sebab andaikata serangga ramai-ramai bunuh diri, tak saja puisi, bahkan sejarah akan berhenti.

Bartolomius:
Dan kita menyangka kisah kematian Dirk di suatu hari nan suram adalah kematian paling sepi, hanya sendiri, hanya diratapi perempuan sepuh, padahal dia pejabat tinggi yang dulu dipuja dan dihampiri. Ia mati dalam getar, seperti anthurium menikmati hari basah, seolah-olah hadiah terindah di ujung hidup itu airmata. Tak bisa membayangkan burung-burung bersiul, selain memejamkan mata membiarkan dunia melewatinya.

Lazarus:
Oh betapa luka seorang ibu yang melahirkan anak-anak durhaka, dan betapa tragis anak-anak durhaka memaknai kefanaan, tanpa melambaikan tangan untuk perpisahan, tanpa menoleh dan mengucapkan salam. Namun bukankah ibu telah menata dunia dengan cinta, dan kekasihnya barangkali telah berjumpa tempat terindah.

Bartolomius:
Dengan menggebu-gebu sore itu kita tiba-tiba sangat berhasrat membongkar masa lampau bahwa anak-anak adalah sang penari bumi paling riang. Mewariskan nama ayah dalam harapan selalu hidup dan bangkit. Namun saat ia terbangun di suatu pagi mendapati kekasih-kekasihnya telah pergi. Beberapa kawan telah pulang ke surga, dan kita dua sosok amorfati menjejali kedai, menjalani ritus kopi sembari menikmati sore, menunggu mati yang biru itu cemburu.

Lazarus:
Seniman itu seseorang yang tak mempertanyakan hakekat hidup dan mati. Menjalani saja. Mencintai saja. Semacam kunang-kunang di tengah malam mengindahkan dunia dengan caranya yang sepi. Bukangkah pabila Tuhan mengirim sinar terindahnya ke seluruh kota maka makin tampaklah sekian banyak kebohongan membentuk replika hubungan sosial semu. Begitu andaikata aku memulai khotbahku pada sore diwarnai wajah putus asa ini. Karena di tengah hidup tanpa waktu luang, apa lebih jenaka dari mati yang selalu cemburu yang menuntunmu ke tempat lebih Bahagia.

Bartolomius:
Di utara, uap air mulai mengambang, lalu hujan. Hewan dan tumbuhan mengajari kita rasa hormat kepada alam untuk melakukan perjalanan ke pegunungan nan indah. Tertegun selagi kita di balik pepohonan. Dan bukan kebetulan pabila engkau datang ke zona intertidal, merasakan pasang naik atau pasang surut saat matahari bercerita dan rerumput mendesah.

Lazarus:
Aku mencintai saja segala yang datang dan pergi. Karena aku tak bisa sembunyi dari diriku sendiri. Bagiku puisi harus mampu memberi harapan dan harus bisa membangun impian. Apakah kau mendengar doaku? Sejauh mana aku pergi, sejauh mana aku terbang. Saat berjalan di tepi pantai di sebuah belahan dunia, Aku selalu punya kebahagiaan untuk kukalimatkan. Sebuah cinta, sebuah kehidupan. Karena lautlah yang mengajariku bertarung, bertahan dan meraih kemenangan. Seperti siput, musuh utama kehidupan adalah keterbatasan.

Bartolomius:
Matahari itu bukan sesuatu yang angkuh. Seperti para buruh jalanan bukankah kita juga amorfati yang menyadari kekuasaan sebesar apapun tak menjamin engkau mati dengan tersenyum.

Lazarus:
Dan sejak itulah burung kecil itu bersiul untuk kematian yang elok. O… kematian yang elok. Tanpa menelpon atau bersenda gurau kau datang dengan pelukan paling airmata. Tapi siapa ragu padamu Bukankah dari mulanya pula kehidupan tanpa ujung pangkal, tanpa waktu luang untuk bersejenak mendengar suara mulut sungai dan keluh kesah kota yang terus berubah menjadi kamar-kamar serigala.

Bartolomius:
Entah apa yang engkau suarakan dalam kekuatan sekaligus ketakutan engkau sembunyikan, aku mencintai saja, bahkan sia-sia membantah. Ketika tubuh tak lebih kuil bagi jiwa belajar dewasa mengartikan kedermawanan malam, melatih sunyi dan kegelapan bagi segala yang fana dan kadangkala aku mendengar suara masa kanak-kanak, barangkali itu sebuah mahakarya, sebuah pengulangan cahaya agar sesungguhnya cinta tak pernah menjadi samar dalam diri setiap manusia.

Lazarus:
Bahkan tanah kau sebut rumah, bagiku adalah kecupan. Apakah kau tahu malam adalah sesuatu yang mudah tersayat?

Bartolomius:
Seorang penyair yang baik harusnya merasakan puisi berjalan dalam hatinya dan mendegar setiap kata mengucapkan maknanya. Seperti arloji yang menipu gerak waktu dengan mengulang angka yang telah berlalu, harusnya segala yang ada dalam hidup ini tak begitu rapuh.

Lazarus:
Dan kita adalah perahu, pelintas yang tak menceritakan apapun hingga retak dan membusuk di kedai, di pinggir kali. Biarlah sejarah yang menulis semua perjalanan. Dan puisi mengungkap makna di balik peluh atau air mata saat tergugu. Tapi semua orang sebaiknya baik-baik saja.

Bartolomius:
Lazarus, kupikir, sudah saatnya aku bunuh diri. Aku pergi!

(Bartolomius Exit.)
(Lazarus kembali ke meja kerjanya, lalu mengitik. Sesaat kemudian terdengar tembakan.)

Lazarus:
Pas di hari jadinya keenam puluh delapan, Bartolomius bunuh diri. Banyak seniman di kota M datang melayat. Alice, kedua orang anak dan dua orang cucu juga ada di sana. Mereka duduk di sisi keranda Bartolomius. Jelang ibadah pemakaman, aku membacakan puisi tanpa judul untuk sahabatku itu.

Melewati jam malam
Sepi adalah perahu
Mengayuh jalur mati nan bisu
Apa yang tersisa selain lenyap
Begitulah saat aku mulai menulis
Tiada yang lebih dari tak nyata
Betapa berbahaya
seakan kobaran rasa sakit
dari pembuluh ditumbuhi api

Di ruasruas udara buas ini
Aku dan Tuhan adalah metafora berdarah
Dari tusukan ketakpedulian
Jiwaku selalu mati di ujung katakata
Karena penulis adalah manusia tak punya selimut kasih sayang
Bahkan untuk sebatang pedihnya
Tak ada yang bernyanyi untuknya
Juga pohonpohon cemara
Membiarkannya layu
Dan burungburung membiarkannya menangis
Seakan bendera seorang pahlawan tertimbun pasir
dilanggar pasang
Disobek karang
Dilupakan zaman

Di sebuah pintu berukuran tinggi menghadap langit
Aku cuma kupukupu dihibakan ulat
Dalam perkawinan bebunga
Siapa sepenuhnya jatuh cinta denganku
Ya sepenuhnya…
Kecuali engkau memilih menjadi abnormal
Semacam angin menyelusupiku di akhir pekan
Kesepian yang mendampinginku ke hari tua
Betapa istimewanya engkau
Memilih menjadi tokoh utama ceritaku
Aku tak mau menuliskan namamu
Apalagi di zaman terang benderang ini
Tapi aku memuji kebaikanmu
Seperti bunga azalea
Tuhan membentukmu dari debu terindah doaku
Namun di belahan dunia ini
Barangkali aku tak mungkin menemukanmu lagi
Karena menemukanmu sesulit menceritakan cara berpikir
Atau cara bernafas
Saat semua orang berharap sesuatu yang baru
Sesuatu yang luar biasa untuk mereka nikmati
Tapi tak mau mengukir inisialmu pada selembar daun
Bahkan sekadar dibaca seorang penyapu jalan

Apakah kita termasuk orang yang terbuat dari banyak kisah?
Dari abu tanah kelahiran
Dari kecupan dan sayap usia
Andai kau memang mati dari segala upaya mengerti
Betapa banyak sampah lenguhan malam hari
untuk perempuan yang semestinya memungutnya
agar ia menjadi ibu punya senandung
dari pada ledakan laras senjata merampas hatinya
dalam kisah tamat seketika
Kalian barangkali percaya sedang menjalani hidup
Namun dimana kau merayakan duniamu
Selain pada keriangan melenyapkan aku
Begitulah saat aku mulai menulis
Aku menjadi seseorang yang tiada
Tak nyata

Sahabatnya satusatunya adalah arca gadis bersayap
Dan dua musim selalu disobek Elnino
Sebuah resital azalea di hutan kecil Jess
Gadis bersayap itu
selalu mengentuk pintu, berbagi lentera
Saat aku atau dia benarbenar telah menjadi kabut
Makhluk kecil dengan bibir dilanda cinta ini
pun hanya boleh sampai di tanah angan
tempat di mana setiap airmata kami dimakamkan
Maafkan untuk waktu ini
Waktu yang percuma kami raut
seakan sebatang pensil ingin menulis
Cinta tanpa alamat
selalu gugur sebelum mencapai pagi
Karena seniman sejati bahkan mati beriburibu kali

Siapa mengatakan seni itu hidup
Mereka adalah pembohong
Hidup semacam apa kau raih di atas bangkai para pencipta
Bukankah hidup sesungguhnya kematian
di atas tiang palang
Tafsirlah dengan beragam pengertian
Ia semata analekta kehilangan demi kehilangan
Lalu kalian berkata; hati adalah rumah para kekasih
Bukankah itu keisengan paling dramatis?
Sebab penulis didefinikan seseorang yang terikat
Tersangka abadi di hadapan mahkamah putus asa
Sejak puisi mengabadikan jejak rasa sakit, kecewa
Kritik dan pemuliaan berpeyorasi menjadi luka

Sebelum dosa, ia menyimpan sebuah wajah familiar
Namun hujan deras turun setelah kemarau panjang
Ia membayangkan gadis bersayap itu
Sosok yang hanyut dalam lengan seseorang
Dan airmata kembali ia makamkan
Kandangkala kami memikirkan beberapa tempat lain
Dengan bebunga menggelantung seperti lonceng
Namun apa dapat diharap dari ciuman palsu mereka
Sebagai pemakan daging babi
Tentu aku punya malaikat
Mereka menjagaku dalam kerangkeng
Sebab penulis adalah manusia terpenjara
Penjara kebebasan
tempat pikiran jernih mengalami kehidupan
Dan katakata menjelma firman
Demikianlah firman adalah ucapan
dari seseorang yang teringkus

Apakah ada lagu lain di kepalamu?
Ikuti aku bertempur
Penyair adalah pejuang
Meski tanpa cinta untuknya
Dan aku tahu kau akan sekadar menengok
Bahkan senyumanmu adalah pisau
Menusuk nadiku
Bungabunga murbei menjadi tua
Dan aku kehilangan segalanya
Terusir dari lembaran puisiku
Sekadar tema dalam sejarah

Apakah kami telah menyia-nyiakan hidup?
Bahkan aku tak mahir dalam seks
Kecuali sebagai pencinta tanah air
Tanah lahir menakdirkan aku manusia banyak kisah
Sang penjaga api dalam upacara penebusan
Agar anakanak selamat mencapai masa depan
Aku Lazarus! Dan dia Bartolomius.
Kami sahabat
Layaknya seekor burung tak takut jatuh
Mengarungi cahaya melahirkan cahaya
Mengarungi cinta melahirkan cinta

Namun kekasih mana akan menangis untuk kami?
Bau melati pun akan usai menjelang dini hari
Karena setiap manusia punya paginya sendiri
Lalu di ranjang dekat jendela
Apa lebih piatu dari penyair berbaring tanpa mimpi
Andai ada hari lebih bahagia
Tapi seni selalu menjadi gelombang
Menghacurkan penciptanya tanpa rasa bersalah
Karena mencintai berarti merelakan

Di hutan hitam
Di sebuah almamater keheningan
Ia membaca beberapa nama
Mereka tak lagi menengok padaku, keluhnya
Tak seperti tahuntahun nan gagah
Ketika burungburung kepondang yang ia sajak
Meminjamkan dia kekuatan malaikat
Tubuh yang memikat
Dan katakata bermata
“Itu sebabnya, sebelum menjadi arca gadis bersayap
Ia memberi aku keningnya yang indah
Kami bercinta di bawah ketapang
Di bawah cemara” ucapnya.

Kini semua itu ilusi dengan bau lembab mencekik
Sebab wanita tak mau tahu lebih dalam
Bahkan tentang makam leluhurnya
Apalagi penyair yang tak pernah nyata
Lelaki ditangisi malam karena kesengsaraannya
Tapi siapa menyangka
Jalan cinta ditempu wanita menuju sang penyair
setara dengan cara bunuh diri
Karena sebagaimana takdir
Tak ada peristiwa paling putus asa
sebanding mencintai penyair
kendati semua percaya
Cinta sejati adalah upaya merangkul
Semua derita yang dipikul sang kekasih
Dan hanya sedikit memilih jalan suram ini
Sebuah jalan menuju yang terindah
Hakikat kehidupan itu sendiri

Di bawah cahaya
perasaannya tercabik
Hatinya terambil
Tak ada yang ingin mengenalnya
Tapi penyair punya tujuan sejati
Dibangkitkan buat mencecap perjamuan paling pahit
Tak saja dengan raga
Tapi seluruh jiwa menjadi derma
Mendenyuti peradaban
Dan wanita paling sedih adalah ibunya
Karena ia saksi utama penyerahan diri tanpa ampun itu
Namun saat sang pejuang ditetapkan
Ibu adalah orang pertama berbagi api ke matanya
Dan arca gadis bersayap itu cinta sejatinya

(Hari sudah menjelang malam saat Alice tiba-tiba muncul di sana. Perempuan itu mengalami stress berat setelah kematian Bartolomius.)

Alice:
(Monolog)
Sehari sebelum kematian Bartolomius, ia masih menulis untukku: “Alice cintaku, lagu dinyanyikan ombak itu puisi dan nafasmu. Sebuah semesta kecil menawan dengan kunang-kunang berkesiur memanggil-manggil pohonan di sebuah hari saat hatiku bagai pantai sepi. Dan makhluk-makhluk menggembirakan ini terasa hukuman kekal. Bukankah kita terancam masing-masing kefanaan. Adakah hal megah di dusun yang kita ciptakan itu selain tawa, kesantunan dan percakapan kecil rahasia dua manusia yang diperdaya keingintahuan atau ciuman, pelukan yang terseduh pada sebuah tulisan.
Tuhan, aku duduk di bawah rambu-rambu waktu sebagai kesedihan, di pinggir jalan menguarkan bau perdu. Aku memindahkan karakter mereka ke dalam dramaku. Itulah saat paling menyentuh hati dan menginspirasi. Lonceng-lonceng mendenting dan suara lembut membangkitkan. Seakan setiap kelopak yang melepaskan embun mengucapkan nama mereka. Harus kudengar dengan sabar. Sebab betapa getas cinta di ruang tak berbatas dan bayang-bayang mereka bangkit sebagai kutum-kuntum api, seperti malaikat nan ganih, menari seumpama daun rambat mengapai tebing tertinggi di sebuah jurang mengangah di ruang hati. Lalu sepi berbisik dengan matanya yang belati, karena penyair selalu menjadi musuh terburuk bagi dirinya sendiri.

Di suatu siang saat sirine menegaskan keseharian, di mana banyak hal darurat di tengah masyarakat saat muslihat disuguhkan seakan berkat. Seberapa indah kemiskinan itu? Tanya seorang ibu yang pedih. Seindah dikau tersenyum untuknya, ucapku. Bukankah setiap orang punya kegelapan dan terangnya sendiri dan kehidupan adalah memilih di ruas mana engkau berdiri menjadi yang mati atau sang lain menghidupkan semangat jangan sampai pergi, karena hidup adalah menjaga yang kau sayangi.

Lazarus:
Lalu malam turun seperti pengantin di perempatan saat kenangan itu datang padamu dan usia mengayungkan Langkah Alice. Kau kembali diseretnya semacam takdir yang tak terhindarkan.

Alice:
Tak ada lagi yang patut dikejar, kata Bartolomius padaku. Sebagaimana harmoni, cinta kadang datang terlambat, dan seseorang seakan merasa ketinggalan kereta. Namun di saat paling usur sekalipun, selalu ada yang mengulurkan sentuhan, mau mendengarkan hal yang ingin engkau ucapkan. Karena setiap orang sepatutnya mencintai apa yang ia cintai, tanah basah dan burung-burung penuh rasa syukur. Ia sering memujiku, “karena di antara bintang engkaulah yang paling bersinar, visual yang memberi pencerahan di bawah arcamu. Dan aku sebuah kamar dihantui lukisan tanpa wajah, kenangan tak lagi ingin menatapku, namun kutata seakan hiasan , biarlah mereka mengantarku mengatupkan mata.”

Lazarus:
Kendati dia terus merasakan gerakan angin, merasakan kesunyian pohon, merasakan getaran inderamu, dia selalu ingin berucap, pabila engkau matahari bawalah aku mendaki chimborazo untuk bertemu api. Pabila engkau jantung dari bumi ringkuslah aku ke kedalaman mariana, biar kudengar gema suaramu dalam mimpimu yang biru. Karena setelah embun, apa yang dapat dilakukan penyair selain menguap begitu saja. Tak ada yang akan datang mengetuk pintu kesepiannya, sebentuk hidup tak pernah menjadi nyata, sosok tak memiliki tanah benar-benar tanah, daratan benar-benar daratan, selain bayangan suram berulang-ulang memberi nyawa pada kata sebagai perjuangan suci ditakdirkan untuknya, bahkan untuk cinta tak pernah memeluknya.

Alice:
Demikianlah aku tak percaya pada hal-hal dirasakan, kendati ia punya tempat yang tepat, bahkan sekadar untuk diingat kata Bartolomius. Lalu ia berucap lagi, karena mengharapkan seseorang yang ada, bagiku tiada. Untuk itu ada banyak hal tak kukatakan kepada orang-orang kucintai. Biarlah semua itu mengikuti kesepianku. Karena segala sesuatu bergerak menurut alasannya. Begitulah aku membiarkan hidup merapikan dirinya sendiri, dan aku saksi hidup yang medefinisikan segala yang ditentukan oleh kosmis adalah pertempuran. Karena tak ada hal yang dapat dicapai tanpa pengorbanan, dan keagungan sejati hanya milik mereka yang gigih.

Lazarus:
Saat kaum durhaka kelas atas memaksakan ketakutan, dan kriminal membuat rakyat gemetar, mesias mana yang menghidupkan nurani terpenjara, selain kata-kata ditempa penyair di tungku kesepiannya, menjelma bedil bagi beribu-ribu martir, menghidupkan senyuman di mata kaum tersingkir, orang-orang yang kehabisan darah di trotoar, namun tak ada orang mempedulikannya. Ketika manusia hanya hidup untuk diri mereka sendiri, bagi penyair bahagia itu bukan hal terpenting. Dan tahukah kamu? Sejarah Tuhan ditempa tidak dengan api, namun dengan kata-kata, dengan kata-kata pula Tuhan menempa penyair, dengan kata-kata penyair menempa dunia, dan ia berdiri mengatasi kekhawatiran hingga kehidupan menemukan jalannya sendiri. Begitulah sejatinya eksistensi Bartolomius, Alice.

Alice:
Namun karena cinta adalah perasaan paling kuat, Penyair logam pun remuk dalam pelukannya, melemparnya ke jurang keagungan, karena untuk kekasih sepertimu, katanya, burung-burung akan berkicau, daun-daun akan bernyanyi. Tapi penyair akan mati di ruas paling gila dari jalan yang ia pilih.
Keesokannya, Bartolomius bunuh diri. Ia menganggap kehidupan selanjutnya tak diperlukan lagi. Aku tak menyangka Bartolomius akan sekejam itu bagi dirinya.

Lazarus:
Bartolomius, ia penulis, aktor dan sutradara teater di kota M ini. Ia hidup dalam semacam tragedy Chekov, lelaki yang hanya berbekal cinta terus melangkah maju menerobos suara paling halus dalam gaung yang disebutnya sebagai panggilan Tuhan. Ia memilih jalan kesenian, sebagaimana klerus mengemban misi kerasulan. Pernikahannya denganmu Alice, awalnya dibayangkannya seperti mantel lembut seorang gadis. Di sanalah ia menelusup sebuah kehidupan suci dan sekuatnya menggenggam bisikan Tuhan itu. Kalian dikaruniai dua orang anak, keduanya perempuan. Tapi siapa menyangka, saat Bartolomius berusia enam puluh tahun, engkau mendadak menceraikannya.

Alice:
O betapa nikmatnya setiap lapisan rasa hancur memuaskanku, katanya, menggambarkan kepedihannya ketika itu. Ia juga begitu terpukul ketika ayahku mengatakan; “Orang tua paling sial adalah ketika anak perempuannya menikah dengan penyair”. Kata-kata itu sudah diucapkan ayahku sejak awal pernikahan mereka dan kembali diulangnya di hari perceraian kami.

Lazarus:
Alice, aku tahu alasanmu menceraikan Bartolomius hanya semata ingin pergi dari rumah kemiskinan. Kau tidak berselingkuh. Bartolomius juga tidak berselingkuh. Tak ada persoalan fundamental selain kemiskinan. Dan kemiskinan itulah yang membuat kalian berpisah. Oh… betapa berbahaya sang kemiskinan.

Alice:
Kupikir Bartolomius bisa bertahan dalam kesendirian tanpa aku.

Lazarus:
Alice, kau perempuan cantik dengan usia masih terbilang muda saat kalian bercerai. Baru empat puluh lima tahun, dan punya karir bagus di sebuah perusahaan swasta. Kau sering bepergian ke luar negeri, ke kota-kota yang sangat diimpikan banyak orang. Bartolomius cemburu. Ia pikir kau telah bepergian dengan lelaki lain ke negeri-negeri indah itu. Lalu ia sadar, kau bukan lagi istrinya.

Alice:
Kedua anak kami sebenarnya tak melupakan ayah mereka. Keduanya sering menelpon ayahnya dan mengirimkan uang. Hanya saja, keduanya telah menikah dan tinggal di kota lain, yang membuat putri-putrinya itu jarang bertemu dengan ayah mereka. Bartolomius pasti menjadi sangat kesepian. Tapi dalam kesepian itulah Bartolomius melahirkan banyak karya unggul. Mengapa dia tak menemuiku lagi. Di mana Bartolomius?

(Alice menangis)

Lazarus:
Sudalah Alice. Sudahlah. Bartolomius tidak akan datang lagi. Ia sudah tiada.

Alice:
Tidak, dia tidak mati. Dia akan duduk di sana dalam membacakan puisinya: Ada tempat beralas savana, berlapis bukit dan gunung menjulang. Ada kata-kata disedekahkan Tuhan menempa mereka yang kehilangan, yang tak bisa mengelak kesedihan, yang menyeduh airmata di belanga kesusahan. Ada tempat dimana Tuhan menaburkan isyaratNya, menguatkan mereka yang mendoakan talas, yang mensyukuri laut tak letih menjamu harapan. Pada semua itu dia selalu datang. Memandang matahari melintas. Menulis awanan berarak, bahwa hidup tak sebanal jarak yang abadi, yang fana, yang mendiami istana atau gubuk beratap daun rumbia. Dengan aster krekeli dan kecombrang, ia menyusun gelombang, meriuhkan hati karam, hingga balam bangau dan elang tak sekadar unggas alam, tapi juga kalam di pucuk-pucuk riang.

(Mendadak Muncul Elena.)

Elena:
Kalau kau mencari Bartolomius, carilah di kuburan sana bukan di sini Alice.

(Mendengar suara Elena, ekspresi Alice langsung marah.)

Alice:
Kau tak pantas menyebut nama Bartolomius, Elena! Kau yang membuat ia mati.

Lazarus:
Sudalah Alice, jangan diteruskan lagi persoalan itu.

Alice:
Lazarus, kau jangan percaya pada Elena. Aku meninggalkan Bartolomius, karena ia berselingkuh dengan Elena. Perempuan ini penyebab Bartolomius bunuh diri.

Elena:
Usir perempuan itu Lazarus, aku muak melihatnya!

Alice:
Perempuan penggoda, kau berani mengusirku. Aku tak takut padamu Elena.

Lazarus:
Tenanglah Alice. Duduklah di kursi.

(Alice beranjak duduk di kursi ruang tamu itu. Elena pergi menyisir rambutnya di meja kaca.)

Alice:
Ada saat ia selalu berkata: Sayang… tak ada yang aneh malam ini. Seperti malam kemaren yang biasa. Tak ada malaikat menari di halaman. Bintang-bintang tetap saja di kota kesepiannya. Tapi aku menyukai percakapan kita, ujarnya. Kita tetap orang yang sama saat bangun pagi, kesepian liat membuat dinding di tepi hari tua. Namun pada hal-hal biasa inilah sesungguhnya aku membaca kemegahan pohonan di matamu. Bukit dan cahaya yang menyertainya, hingga aku percaya: cinta adalah satu-satunya kebenaran di setiap detik kehidupan.

(Alice menangis lagi.)

Lazarus:
Bartolomius sudah tenang kini di alam sana Alice. Kau harus bangga punya suami selembut dia.

Alice:
Andai Elena tak menggodanya, rumah tangga kami mungkin masih utuh hingga kini.

Elena:
Aku tidak berselingkuh dengan Bartolomius, Alice. Suamimu itu manusia baik. Ia bukan tidak menyukaiku, tapi ia menghormatiku, menghormati Lazarus. Kami pernah sekamar, tapi ia tak menyentuhku. Kau saja yang pencemburu.

Alice:
Kau dengar Lazarus, mereka pernah sekamar. Kau percaya mereka tak melakukan apa-apa?

Lazarus:
Aku percaya, karena Elena tak pernah berbohong padaku Alice.

Alice:
Perempuan jahat itu sudah membuat pikiran jernihmu lumpuh.

Lazarus:
Sudalah, tenangkan hatimu. Kau pulanglah hari ini, nanti aku datang mengunjungimu Alice.

Alice:
Setubuhi aku, Lazarus!

Lazarus:
Kita dalam keadaan duka, Alice.

Alice:
Ini satu-satunya caraku merayakan dukaku.

(Sesaat Lazarus tertunduk. Hujan mulai turun. Sesaat kemudian ada bunyi loceng petanda ada yang meninggal. Tiba-tiba Amadea datang. Perempuan itu juga sudah mulai menua seiring waktu. Perempuan yang dulu jatuh cinta pada Lazarus.)

Amadea:
Selamat sore Lazarus, Elena, Alice.

Elena:
(dengan suara datar dan sinis.)
Selalu seperti ini. Ia datang lagi.
Selamat sore, silahkan duduk.
(Kedatangan Amadea tiba-tiba membuat Elena cemburu.)

Lazarus:
Siapa yang meninggal Amadea.

(Amade duduk di sebuah kursi kosong di tengah ruang itu.)

Amadea:
Lelaki yang tinggal di ujang gang. Lelaki yang dulu mencuri jubah pendeta di gereja itu.

Lazarus:
Lonceng tadi?

Amadea:
Ya. Ia bunuh diri terjun dari jembatan.

Alice:
Kasihan…

Lazarus:
Bramokora nama lelaki itu. Aku mengenalnya, karena kami pernah sama-sama berjuang mempertahankan penggusuran penduduk dari pesisir pantai.

(Semuanya mendadak hening sejenak.)

Alice:
Aku ingat cerita lelaki itu dari Bartolomius. Keluarganya korban penggusuran penduduk untuk pembangunan boulevard. Ia terusir bersama dua puluh sembilan ribu orang dari kampung-kampung mereka yang digusur. Kebanyakan korban penggusuran itu hidup dalam keadaan merana hingga kini. Di negara ini pembangunan selalu bermakna pemiskinan bagi yang lain. Tidak ada kesetaraan di mata kekuasaan.

Amadea:
Bramokora mencuri jubah pendeta. Ia pikir jubah itu bisa laku dijual. Ia berkeliling menjualnya ke mana-mana. Tapi siapa yang mau membeli pakaian hitam menakutkan itu, pakaian yang hanya dipakai memimpin misa atau penguburan orang mati. Karena tidak terjual, ia akhirnya mengembalikannya ke pendeta.

Alice:
Coba kita bayangkan, saat kematiannya, akhirnya pakaian itu pula yang akan dipakai pendeta dalam penguburannya.

Amadea:
Sebuah ironi. Ya… sebuah ironi.

Elena:
Ia mencuri untuk bisa hidup, seperti aku dulu melacur untuk bisa hidup.

Amadea:
Tapi kau sudah berhenti tanpa bunuh diri.

Elena:
(Menyindir.)
Pasti kau berharap aku bunuh diri sejak dulu.

Amadea:
Aku tidak mengharapkan itu Elena.

Elena:
Bahkan kau mengharapkan aku mati Amadea.

Amadea:
Tidak!

Elena:
Pasti kau berharap.

Amadea:
Tidak mungkin Elena!

Elena:
(Membentak.)
Berharap!

Amadea:
(Marah.)
Tidak!

Elena:
Kau ingin aku mati agar kau bisa merampas Lazarus dariku!

Amadea:
Sudah setua ini kau masih bicara hal jorok seperti itu.

Elena:
Kau masturbasi di depan Lazarus!

Lazarus:
Sudalah! Sepagi ini kalian telah bertengkar. Kita baru mendengar kabar kematian, kalian malah ribut.

Elena:
Diam kau Lazarus, kau beronani di depan Amadea. Iya kan? Kenapa tak kau habisi keperawanan perempuan ini.

Amadea:
Aku bukan pelacur Elena. Kau yang pelacur!

Elena:
Semua orang di kampung ini tahu aku pelacur. Tapi kau perawan tua yang tak pernah laku. Kasihan kamu, selalu datang ke rumahku, berpura-pura silaturahmi, padahal ingin melihat suamiku. Kau pikir aku tidak tahu.

Alice:
Wajar kalau Amadea menyukai Lazarus, karena mereka berdua orang baik-baik. (Kepada Elena) Tapi kau mau merampas Bartolomius dariku.

Elena:
Itu tidak benar Alice. Aku melacur karena aku tidak ingin lari dari rasa sakit. Karena rasa sakit itulah yang memberi aku tujuan. Aku tidak ingin merampas apa pun milik orang lain. Tapi aku harus melintas jalan penuh rasa sakit itu untuk tetap hidup. Hidupku memang remuk. Tapi pada remuknya itu aku percaya surga menoleh padaku.

Lazarus:
Berhentilah mengungkit masa lalu!

Alice:
Lazarus, dalam puisimu kau meletakan Bartolomius seakan sosok suci. Kau tidak tahu Lazarus, ia pernah tidur dengan Elena istrimu! Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku sakit hati. Itu alasanku menceraikannya. Sampai hari ini aku tidak pernah punya lelaki lain selain Bartolomius. Cintaku murni untuknya. Untuk menghapus rasa cemburuku itulah aku minta tolong padamu untuk menyetubuhiku. Dengan cara itu aku berharap membuatnya impas dan aku bisa tenang, dan bisa hidup dalam kenangan yang paling kucintai. Tapi kau tak mau meladeniku.

Elena:
(Marah)
Oh begitu? Ternyata kalian semua musuh dalam hidupku. Kalian semua berharap aku mati. Aku tidak pernah sekalipun tidur dengan Bartolomius!

Alice:
Kau bohong. Di mana-mana orang menceritakan hubunganmu dengan Bartolomius. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan Elena Lazarus!

Amadea:
Aku juga tidak percaya dengannya!

Elena:
(Sangat marah)
Amadea tutup mulutmu. (Membanting sebuah kursi)
Kalau tidak, aku bisa membunuhmu Amadea!

(Lazarus naik darah melihat pertengkaran itu.)

Lazarus:
Kalau kalian ingin bertengkar mulai dari kapak dan parang. Ayo ambil dan acungkan. Saling bunuh-bunuhlah kalian! Kalian pikir ada masalah yang bisa selesai dengan pertengkaran?

(Suasana menjadi hening sesaat. Elena kembali menyisir rambutnya. Amadea terisak tanpa suara di sebuah kursi tua. Sementara Lazarus berdiri mematung menatap keluar dari sebuah jendela. Tiba-tiba terdengar suara derum mobil pembeli besih tua melitas dengan teriakan toa dari luar.)

Suara:
Besih-besih tua, Kulkas-kulkas bekas, Aki-aki bekas, belanga loyang kipas angis bekas.

(Mendengar suara itu membuat Amadea Jengkel.)

Amadea:
Tidak ada besih tua dan kulkas bekas, yang ada cuma lelaki tua dan perempuan bekas.

(Teriakan Amadea dengan nada menyindir itu membuat Elena sakit hati. Ia menggebrak meja riasnya.)

Elena:
Apa maksudmu Amadea. Kau menyindir aku?

Amadea:
Kau pikir aku tak sakit hati di sebut sebagai perawan tua?

Elena:
Kau memang perawan tua!

Amadea:
Kau memang juga perempuan bekas!

(Elena menjadi sangat marah mendengar hujatan Amadea.)

Elena:
Lazarus! Usir perempuan ini sebelum aku mencekiknya.

Amadea:
Coba kalau berani!

(Elena meraih kapak yang tergantung di sebuah tiang dinding, lalu bergerak hendak mendekati Amadea.)

Elena:
Kau pikir aku tak beranih membunuhmu?

Lazarus:
(Berteriak)
Berhenti! Berhentilah!

(Amadea dan Elena spontan berhenti oleh teriakan amarah Lazarus. Suasana menjadi hening sesaat. Lazarus kemudian mendekati Amadea.)

Lazarus:
Pulanglah Amadea, Alice, pulanglah. Hari sudah sore. Sebentar lagi malam.

(Amadea dan Alice beranjak pergi. Lazarus kembali ke meja tulisnya. Elena duduk lagi di meja riasnya.)

Elena:
Sudah tiga puluh tahun lebih, perempuan itu tak bosan-bosannya mencarimu, seakan-akan hanya kau lelaki di dunia ini.

(Suara Elena terdengar masih jengkel.)

Lazarus:
Sudah tiga puluh tahun lebih kau selalu pergi dengan berbagai lelaki, tapi selalu kembali.

Elena:
Karena aku kasihan padamu. Kasihan pada hidupmu yang dilumuri kemiskinan.

Lazarus:
Aku tidak miskin. Aku hanya memilih hidup dalam kesederhanaan. Karena di sanalah tempat termulia bagi lahirnya sebuah puisi sejati.

Elena:
Apologi naif lagi. Apa yang didapatkan penulis sepanjang hidupnya? Para sutradara menyutradarai lakon yang kau tulis, mereka mendapatkan pujian dan uang, aktor-aktornya dibayar, penulis dapat apa? Puisi-puisimu yang kau tulis dengan penuh ketekunan, dibaca di berbagai panggung, kau dapat apa selain kesunyian dan perut yang lapar.

Lazarus:
Itu hanya karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan sejatinya tujuan seni untuk menginspirasi kehidupan. Itu cukup bagiku, bukan uang.

Elena:
Itu apologi naif lagi dari dunia kesepian penyair tua dan miskin sepertimu.

Lazarus:
(Agak jengkel)
Sejak menikah kau memang tidak mengenalku. Saat mendengar puisiku kau terpukau, tapi kau tak mau hidup dalam puisi itu.

Elena:
(Menyindir)
Aku bukan Amadea, bukan Luciana, bukan Alice yang tergila-gila dengan puisi dan tubuhmu.

Lazarus:
Jangan memulai pertengkaran lagi Elena. Kalau kau mau pergi, pergilah. Sejak dulu sifatmu sulit ditebak. Kau jadikan aku sekadar tempat persinggahan untuk menanti Garin kekasihmu.

Elena:
Kau mengusirku? Ini pertama kali kau menyuruhku pergi! Kau begitu cemburu pada Garin. Itu hanya kisah lama yang sudah kulupakan.

Lazarus:
Kau selalu menyebut nama itu, seperti menyebut nama seorang pahlawan bagi hidupmu. Padahal dia yang membuat kamu mengandung dan jadi perempuan terlantar.

Elena:
Aku tak mau bertengkar lagi. Baiklah, aku akan pergi.

Lazarus:
Aku tak akan menahanmu. Pergilah. Seribu kali kau pergi, seribu kali kau kembali. Kapan aku menahanmu?

(Elena beranjak pergi, Lazarus kembali duduk di meja kerjanya dan mulai mengetik lagi. Tak berapa lama muncul Garin di sana dengan senjata.)

Garin:
Lazarus, aku Garin, lelaki yang membuat kau cemburu!

Lazarus:
Aku tak mau bertemu denganmu. Kau bukan sosok penting dalam lakon yang kutulis ini. Pergilah.

Garin:
Setiap kali kau cemburu, setiap kali itulah kau kubunuh!

Lazarus:
Kau karakter tokoh yang tak diundang dalam lakon karyaku.

Garin:
Tapi kau selalu menempatkan aku sebagai tamu imajinirmu.

Lazarus:
Apa maksud kedatanganmu?

Garin:
Membunuhmu lagi!

(Garin menembak Lazarus. Lazarus terhuyung, lampu perlahan padam)

Manado, 27 Juli 2025
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: iverdixon tinungkinaskah drama
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Anggota DPRD Sulut, Raski Mokodompit. (foto: meikel/barta)

Raski Mokodompit: Terima Kasih untuk Amanah

Discussion about this post

Berita Terkini

  • SIEJ Sulut Soroti Pengakuan Izin Belum Lengkap di Kasus Gunung Tatawiran 28 April 2026
  • Menjalin Kolaborasi Global: Polimdo Ambil Peran Strategis dalam CITIEA 2026 28 April 2026
  • Polisi Ringkus Gembong Sabu Karombasan, Jaringan Dikendalikan dari Lapas Tuminting 27 April 2026
  • Akses Jalan Likupang Dikeluhkan Warga, DPRD Sulut Panggil PT MSM dan BPJN RDP 27 April 2026
  • Bupati Hadiri HUT ke-64 Jemaat GMIST Samaria Bulude, Letakkan Batu Dasar Ruang Serbaguna 27 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In