SANGIHE, BARTA1.COM – Ketika anak balitanya mengalami demam tinggi selama dua hari tanpa kehadiran satu pun tenaga medis di sekitarnya, Savelia Viane Warouw hanya bisa mengandalkan aplikasi kecerdasan buatan, ChatGPT. Guru yang sudah enam tahun mengabdi di Pulau Matutuang, Kecamatan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe itu mengungkapkan situasi darurat yang dihadapinya di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Savelia menceritakan kondisi panik yang ia alami sebagai ibu baru. Putranya, Dominic, yang baru berusia satu tahun tiga bulan, mengalami demam naik turun. Tidak ada dokter, perawat, atau bahkan akses ke transportasi laut menuju Tahuna.
“Hari kedua Dominic panas, sudah diberi obat tapi naik turun. Bingung mau bagaimana, menangis rewel terus. Mau ke dokter tidak ada, mau ke mantri atau perawat juga tidak ada. Tidak ada kapal untuk ke Tahuna,” tulisnya, Selasa lalu.
Dalam kondisi seperti itu, Savelia mengaku mencoba mencari informasi secara mandiri lewat ChatGPT.
“Saya sebagai new mom cuma mengandalkan ChatGPT, cari tahu bagaimana takaran obat untuk anak baru 1 tahun 3 bulan. Bagaimana cara beri obat ke anak yang belum bisa bilang rasa sakitnya di mana,” tulisnya.
Menurut Savelia, ketika dikonfirmasi, Jumat (25/7/2025) sejak petugas kesehatan sebelumnya ditarik ke Puskesmas induk di Marore, tidak ada lagi petugas medis tetap di Matutuang. Satu-satunya tenaga yang ada saat ini adalah seorang lulusan keperawatan yang ditunjuk oleh kepala desa untuk sementara membantu.
“Sekarang di sini hanya ada perawat yang baru lulus kuliah, ditunjuk oleh Kepala Desa menangani pasca petugas sebelumnya dipindah tugaskan,” ujar dia.
Ia berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap layanan kesehatan di pulau perbatasan ini. “Tolong bagi pihak terkait, apa nyanda ada solusi? Kampung Matutuang setidaknya harus ada nakes di sini,” kata Savelia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, saat dikonfirmasi menyatakan petugas pengganti sudah disiapkan namun ada kendala pada transportasi yang saat ini menunggu jadwal.
“Sudah sementara di-handle. Kepala Puskesmas sudah tindak lanjuti, sisa menunggu jadwal kapal untuk ke sana. Petugas baru akan ke sana dalam waktu dekat,” ujar Handry.
Ia menjelaskan bahwa perpindahan petugas dilakukan sebagai bagian dari rotasi internal. Petugas lama ditarik ke Puskesmas Marore dan pengganti yang baru kini tengah dijadwalkan untuk segera diberangkatkan ke Matutuang.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post