Manado, Barta1.com – Ada yang unik dan menarik dalam pelaksanaan Jambore Jurnalistik Lingkungan II yang digelar oleh SIEJ Sulawesi Utara di Pantai Karangria, Manado, belum lama ini. Salah satu sorotan acara adalah karya mural bergambar gurita raksasa, hasil kolaborasi dua seniman lokal, Wawan Parasana dan Asrin Manabung.

Mural tersebut menghiasi dinding Daseng Nelayan Karangria dan memikat perhatian peserta jambore. Gurita yang digambarkan bukan sekadar hewan laut biasa, melainkan sosok mitologis yang terinspirasi dari Kraken — monster laut legendaris dari mitos Norwegia.
“Gurita ini saya bayangkan sebagai monster laut yang mampu melawan perusak lingkungan,” ungkap Wawan Parasana kepada Barta1.com, Selasa (22/07/2025).
“Makanya saya gambarkan ia sedang melilit dan mematahkan alat berat. Dua papan bertuliskan ‘Tolak Reklamasi’ menjadi simbol perlawanan.”
Parasana, yang juga merupakan kader dari Ormas Oi Manado, menjelaskan bahwa gurita tersebut mewakili fantasi tentang kekuatan alam yang melindungi laut dari keserakahan manusia. “Kalau saja Kraken benar-benar ada, mungkin laut kita akan lebih aman. Orang pasti berpikir dua kali sebelum merusaknya,” tambahnya.
Tak hanya menggambarkan perlawanan, mural ini juga memuat pesan keberpihakan terhadap masyarakat pesisir. Gambar alat berat yang dipatahkan menjadi simbol penolakan terhadap pihak-pihak yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan merugikan ekosistem laut.
“Ini adalah bentuk dukungan kami dalam menyuarakan penolakan terhadap reklamasi di pesisir Karangria,” kata Parasana.
Selain gurita, mereka juga melukis keindahan biota laut seperti penyu dan lumba-lumba. Di tengah mural, terpampang kalimat tegas: “Suara nelayan lebih penting daripada suara alat.” Kalimat ini menjadi penegasan bahwa keberadaan masyarakat pesisir seharusnya menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan lingkungan.
Proses pengerjaan mural tersebut memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Meski singkat, pesan yang disampaikan sangat kuat.
“Kami sangat berterima kasih telah diberi ruang di Jambore Jurnalistik Lingkungan ini. Semoga kerja sama antara Ormas Oi dan SIEJ Sulut terus terjalin. Kami berharap bisa terus dilibatkan dalam kegiatan lain, terutama yang menyangkut kemanusiaan dan perjuangan menjaga lingkungan,” tutup Parasana. (*)
Peliput; Meikel Pontolondo


Discussion about this post