Manado, Barta1.com — Asap pertama itu terlihat dari kejauhan. Tipis dan semu, mengepul yang perlahan melaju di perairan Talise. “Kami kira cuma asap kenalpot,” ujar Rafli Makikama (35), nelayan asal Desa Airbanua, Likupang Barat, Minahasa Utara.
Minggu siang, (20/7/2025), Rafli dan sejumlah rekannya sedang mencari ikan di sekitar Tanjung Lampu, tak jauh dari Pulau Talise. Saat jam menunjukkan pukul sebelas lebih, mereka mulai menyadari ada yang tidak beres. Asap itu makin pekat. Kapal itu yang belakangan diketahui sebagai KM Barcelona VA, bergerak sejajar dengan Pulau Gangga. Asap mulai menebal melebihi badan kapal.
“Kami langsung bergegas ke sana. Waktu itu belum tahu seberapa parah. Tapi kami sadar itu bukan asap biasa,” kenang Rafli.
Tiba di lokasi, mereka mendapati kenyataan yang mencengangkan. Puluhan penumpang sudah terjun ke laut. Sebagian terombang-ambing tanpa pelampung. “Banyak yang sudah lemas, terutama yang tidak dapat pelampung,” kata Rafli.
Tak ada waktu untuk ragu. Rafli dan para nelayan dari pulau-pulau sekitar segera mengevakuasi korban ke daratan terdekat: Pulau Gangga. Di tengah terik dan ombak, mereka menarik satu per satu penumpang dari laut, ada yang berpegangan pada cool box, kas plastik, bahkan bertahan sambil memeluk rempah-rempah.
Sementara itu, Andre Makikama (33), sepupu Rafli yang tinggal di Desa Airbanua, juga melihat asap sejak pukul satu siang. Dari bibir pantai, ia melihat asap makin pekat, perlahan menyelimuti langit di atas laut. “Kapalnya sudah sejajar dengan Gangga. Kami dan para orang tua langsung ambil keputusan. Semua pemilik perahu bergerak ke lokasi,” katanya.
Andre menyaksikan sendiri betapa penumpang yang tidak kebagian pelampung bertahan dengan berpegangan pada penumpang lain yang mengenakannya. “Kami lihat ada anak-anak juga. Syukur, mereka semua masih hidup waktu kami sampai,” ujar Andre.
Menurut Andre dan Rafli, jika para nelayan telat beberapa menit saja, korban jiwa bisa lebih banyak. Dari pengamatan mereka, ada dugaan empat orang meninggal dunia dalam insiden ini. Namun, angka pastinya masih menunggu konfirmasi resmi.
“Kalau kami dan nelayan-nelayan terdekat tidak cepat bergerak, mungkin ceritanya sudah lain,” ujar Andre dengan suara berat saat dihubungi Barta1.com.
Penulis: Rendy Saselah


Discussion about this post