Minahasa, Barta1.com – Tim Peneliti Katalisator Kemitraan Berdikari dari Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menjalin kerja sama strategis dengan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMKN PP) Kalasey, Kabupaten Minahasa, dalam rangka diseminasi hasil penelitian yang bertajuk Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Produksi Gula Semut Berkelanjutan dengan Integrasi Photovoltaic System Sebagai Solusi Industri Pertanian Ramah Lingkungan, Rabu (16/07/2025).

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2025 di SMKN PP Kalasey. Rombongan tim peneliti yang diketuai oleh Melky K.E Paendong bersama anggota tim: Arief Kumaat, I Gede Para Atmaja, Stieven Rumokoy, Adelaida Joroh, Dominikus Andreo, dan Misael Walangitan disambut langsung oleh Kepala SMKN PP Kalasey, Hernie Onibala, S.Pi., M.Si.
Dalam sambutannya, Melky Paendong menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya merupakan bentuk penguatan sinergi antara institusi pendidikan tinggi vokasi dan sekolah kejuruan, namun juga bagian penting dari diseminasi hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan dan komunitas masyarakat.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap hasil-hasil penelitian yang telah kami lakukan dapat diadopsi dalam pengembangan kurikulum sekolah, khususnya dalam bidang teknologi pertanian ramah lingkungan,” jelas Paendong.
Penelitian yang dilakukan tim Politeknik Negeri Manado ini merupakan bagian dari program Katalisator Kemitraan Berdikari yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini bertujuan mendorong riset inovatif yang memperkuat jejaring antara Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Vokasi (PTPPPV) dengan mitra seperti Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), pemerintah daerah, LSM, dan komunitas masyarakat.
Dalam riset tersebut, tim peneliti berhasil mengembangkan sejumlah alat teknologi tepat guna yang menunjang proses produksi gula semut, antara lain: mesin pemasak nira, oven, mesin penggiling, dan mesin pengayak. Semua alat ini telah didesain agar dapat terintegrasi dengan sistem photovoltaic (tenaga surya), sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi listrik konvensional.
“Dengan penggunaan tenaga surya, alat-alat ini tidak hanya meningkatkan efisiensi waktu dalam produksi, tetapi juga menekan beban biaya operasional, khususnya bagi petani kecil,” ujar Stieven Rumokoy, anggota tim peneliti.
Kepala SMKN PP Kalasey, Hernie Onibala, menyambut baik kolaborasi ini dan menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan hasil-hasil riset ke dalam pengembangan kurikulum sekolah, khususnya pada bidang energi terbarukan dan teknologi pertanian.
“Ini adalah langkah nyata menghubungkan dunia pendidikan dengan inovasi nyata di lapangan. Kami berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi yang membangun,” tutur Onibala.
Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana riset terapan dari perguruan tinggi vokasi dapat menjangkau dunia pendidikan menengah dan komunitas pertanian, serta memberikan dampak nyata dalam menciptakan solusi pertanian yang berkelanjutan dan berbasis energi bersih. (*)
Editor: Meikel Pontolondo


Discussion about this post