Pelaku dan Karakter:
Narator : Sosok Tua, sutradara dalam pertunjukan ini.
Lazarus : Lelaki (35), seniman dan aktivis.
Elena : Perempuan (29) Pelacur, istri Lazarus.
Perempuan : Ibu Elena (45).
Lelaki Tua : Ayah Elena (55)
Bartolomius : Lelaki (35), seniman dan aktivis.
Amadea : Bayangan perempuan (25).
Paman : Lelaki (50), kakak dari Ibu Elena.
Orang-oran dan Malaikat: Konfigurasi.
Panggung: Pertunjukan berlangsung dalam ruang imajinasi narator.
Narator:
Tuhan tertidur di hari pertemuan pertama Lazarus dan Elena. Malaikat bernyanyi di saat persetubuhan mereka mula-mula di dalam toilet sebuah Pub yang ramai. Sebuah dunia tanpa tawanan saat Slavoj Žižek merenungi cynical reason dan seorang penyair menulis ritus kelahirannya. Dan Elena bukan perempuan yang tahu segalanya, tapi ia mencintai kehidupan, ingin menikmatinya dengan bebas, dan kecantikan membukakan banyak pintu untuknya.
(Begitu pertunjukan megah dan dramatis ini berawal dan mengalir dalam bimbingan sang Narator, sosok yang sudah sangat tua. Ia semacam pengarang, dramaturgi, sekaligus sutradara dalam literatur kehidupan setiap orang. Hal yang paling ingin dilakukan banyak orang adalah melupakan dia. Bahkan seseorang akan datang membunuhnya. Tapi pada menit berikutnya ia hidup kembali, sebab tanpa kehadirannya sebuah pertunjukan tak akan pernah dimulai.)
(Angin berhembus, lonceng mendenting, musik mengalun, dan kisah ini kembali berjalan dari awalnya. Seorang perempuan melahirkan anaknya.)
Narator:
Inilah kisah awal kelahiran Elena.
aku menyaksikannya, menyaksikan belenggubelenggu
berbaring di ujung langkah
lukisan hidup dibangun di atas rangkarangka manusia
dan kita merayakan kebangkitan hati di jalan kesakitannya
begitu hari kesepuluh, bulan kesembilan
waktu memerangkap perempuan dalam ritus melahirkan
aku mendengar raung erang disibak leluhur legam
betapa berharga tangkaitangkai nyawa
saat mulut maut menyanyikan kidungkidung keriangannya
sehelai daun nangka jatuh di simpang penyeberangan
menggegar keributan aneh dan bimbang
malam seperti sepeda begitu lambat
membisukan teriakkan
perempuanlah yang berperahu penampang dingin dari tempahan baja
derit mesin pembaca detak nadi
kain putih dan semua rasa nyeri berhamburan ke tinggi langit
sesekali terbenam
sesekali gaungnya, igauigau liar itu berkejaran di horison buram
Tuhan, ini detak keberapa di jantungnya
kaukah itu
malam begitu bundar tiada ujung pangkal
sekadar menggapai, sekadar melambai
kaukah itu
bulan murung letih memanggil bintang berlarian
ke bilik tertinggi dari semua doa dipanjatkan
Doa mendaki dan perempuan kelelahan
nafasnafas terbang bergelantungan
bayangbayang rapuh berkesiuran
perempuanlah yang hanya mendengar suara enya
musik itu berbagi ruh padanya.
(Setelah ritus kelahiran itu, di suatu tempat, di sebuah kursi tua, duduk seorang lelaki rentah. Ia selalu ada di sana pada setiap petang. Hidup baginya tak lebih dari sebuah ironi. Seperti para seniman yang kurang imajinasi, ia terus mengulang kata-kata basi tentang mendiang istrinya, dan anaknya Elena.)
Lelaki Tua:
Sejak hari pertama, bulan pertama. ia tak ingat lagi
asam pada mangga
manis pada nangka
pohonpohon kuyuh menanti kabar tangisan siapa
pertama akan menyapa. hingga tak percuma daun kesejuta gugur
buat benih buah yang akan kau tenun di akarakar sejarah
di ujung langit teratas, anakku begitu lihai merekatkan bisu
kaukah itu
tungku penempahan gelisah, saat aku memandang awan merambat
langit tampak datar menggambar sebentuk bayang kereta
perempuanlah pada akhirnya akan mendengar tangis pertama anaknya
ritus dongengan tua harus tunai dibayar dengan pekik ceceran lelah
jam 23.24 ia lahir. padanya kegirangan nyaring itu
ada cahaya maha luas segemerlap andromeda pada matanya
berbaris sebegitu rapi bagai prajurit langit
mengantar sang pemberani ke medan laga harus ditunainya sendiri
di matanya tertampung semua rintih kesakitan
riwayat engah nafas perempuanlah
menjelma bujuran cinta tak terbilang angka, tak termakna kata
semua mencintainya dan merasa ada.”
Narator:
Waktu berlalu dan tragika itu datang.
(Perempuan yang melahirkan itu mengejar Elena, anak perempuan yang dilahirkannya ini, dengan kapak. Teriakan amarahnya membuat lelaki tua gemetar.)
Perempuan:
Pergi kau dari rumah ini. Pergi! Kau bukan anakku lagi. Kau mesum dan membuat malu keluarga.
(Perempuan itu memekik dan menangis. Saat lelaki tua jatuh dari kursi dalam keadaan sekarat, ia masih memanggil anaknya.)
Lelaki Tua:
Elena! Elena anakku…
(Dengan perasaan sangat bersalah Elena menatap ayahnya.)
Elena:
(Dalam sedih.)
Ayah, aku harus pergi!
Perempuan:
(Menghardik Lelaki Tua.)
Jangan sebut nama itu lagi. Dia bukan anak kita. Dia bukan anak kita lagi!
Lelaki Tua:
Dia selalu anakku… sampai kapan pun, dia selalu anakku!
(Lelaki Tua begitu pedih. Dengan penuh amarah sang perempuan mengayunkan kapak ke arah Lelaki Tua. Mendadak lampu padam. Terdengar jeritan kematian.)
(Saat lampu menyala kembali. Elena sedang memantik rokoknya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Ia duduk di dekat meja yang masih tersisa di rumah tua itu. Ia baru saja membaca lembaran-lembaran drama yang ditulis Lazarus.)
Elena:
Aku tak suka dengan drama yang kau tulis ini Lazarus. Kendati kau berusaha menampilkan kisah hidupku. Penonton pasti tak suka pula. Siapa yang mau menonton kisah seorang pelacur? Orang-orang masa kini lebih tertarik dengan seksisme yang tak jujur. Mereka mencari pahlawan super yang bertabur ilusi kebahagiaan.
Lazarus:
Kalau manusia tak mau menontonnya, setidaknya Tuhan menontonnya Elena.
Elena:
Kau selalu punya alasan saat menulis. Kau pikir aku menyukai tragedy hidupku? Sejatinya tidak Lazarus. Tak ada seorang pun anak sejak lahir memilih jadi pelacur. Kalau pun bisa memilih, aku akan memilih tidak dilahirkan.
Lazarus:
Tuhan pun punya alasan saat menciptakan tragedy pada makhluk ciptaannya.
Elena:
Apa yang kau sukai dari seorang Wanita?
Lazarus:
Betisnya.
Elena:
Mengapa kau memilih itu?
Lazarus:
Karena yang lainnya akan menjadi awal dari sebuah percakapan pornografi dan berakhir pada ilusi kebahagiaan yang kau sebutkan tadi!
Elena:
Bila engkau memandang tubuhku sebagai sebuah alamat. Imani, itu alamat diamanatkan Tuhan untuk kau berkunjung di hari-hari suram. Karena saat Longinus menusukkan lancea, bukankah pada luka terakhir itu Tuhan tersenyum. Sebab hanya pada airmata segala kebaikan menemukan jalannya.
Lazarus:
Bila usia membawaku ke tempat-tempat sulit diterka, ya… barangkali ini sebuah alamat. Namun bagiku, yang meringkusku bukan tubuh, namun cinta. Di sana aku kembali mengayunkan langka atau tiba-tiba berhenti.
Elena:
Kau mau sebuah kisah yang jujur? Mari kita mulai drama kita sendiri dengan kisah kita yang sebenarnya.
Narator:
Lalu mereka seperti sepasang anjing menautkan dua kelamin berbau pandan. Daunan bergetar. Angin menari. Burung-burung terjaga di malam hari mengakatkan cinta esoteris pelacur dan penyair. Seperti dua orang penjahit yang berjuang merekatkan kain lampin tua dari kelamin tak lagi suci. Lalu menikah di hari yang tak mau mereka ingat lagi.
Setelah itu, waktu berlalu, tapi tak semua orang bisa melupakan masa lalu. Dan narasi semacam ini menjadi akar selisih. Memecah manusia menjadi dua diri. Satunya pribadi yang terus bertanya, lainnya menjalani. Yang bertanya tak menemukan jawab. Yang menjalani tak menggapai bahagia. Begitu kehidupan seakan alur komedi dan tragedi di panggung Tuhan yang tak terpahami.
Saat drama ini ditulis, Lazarus adalah siasat, Elena adalah sebuah alasan. Dan kita semua adalah penonton kekacauan dari balik pagar patokan etik, sekaligus semacam pemeran lain dalam dunia tanpa patokan etik. Setiap kali akan terdengar raung serine disusul bunyi tembakan. Itu petanda kehidupan tak lain kekacauan yang terus terulang sepanjang zaman.
Tokoh kita Lazarus, dengan seluruh kejeniusannya ia memuja cinta. Ia menempatkan cinta sebagai puitika. Dari cintalah ia melihat dunia dan merenunginya. Namun mampukah ia memenangkan pertarungannya? Siapkan airmata dan amarahmu untuk kisah ini.
(Saat bagian ini ditulis, keadaan bangsa dipenuhi kegaduhan. Sebagai singa panggung, Lazarus dan Bartolomius, sahabatnya, tak pernah kehilangan cara untuk menyalakan api perlawanan. Saat orang-orang memilih duduk bermain catur sebagai pengisi waktu sebelum kematian datang, Lazarus dan Bartolomius justru pergi ke jalan-jalan perlawanan. Mereka membaur dengan angkatan revolusioner melawan penggusuran penduduk dari pesisir pantai. Mereka di sana menghadapi moncong bedil penguasa. Mereka ikut menyanyikan lagu-lagu perlawanan bersama rakyat yang marah. Mereka terdepan sebagai jiwa yang siap menyongsong maut.)
Lagu Perlawanan Bartolomius dan orang-orang:
“Wahai kalian yang punya jiwa petarung
Yang mencintai tanah air dengan seluruh nyawa
Maukah kalian menjadi pahlawan
Dalam kisah hebat yang berasal dari kebenaran
Di sebuah dunia penuh kobaran api menghanguskan
Wahai anakanak zaman
Yang mengimpikan pestaraya kebersamaan
Yang turun ke jalanjalan
Yang menulis sejarah kebaikan
Jangan berhenti berjuang
Jangan berhenti berjuang”
Terdengar bunyi serentetan tembakan, dan kekacauan tak terelakan. Asap tebal membumbung, gas air mata dilontarkan. Saat semua orang menyingkir, Lazarus dan Bartolomius, masih berdiri di sana dengan puisi dan lagu mereka.
Puisi Lazarus:
Wahai engkau sang perwujudan keberanian
Yang mengobarkan perang pada sepotong senyuman
Terberkatilah hatimu
Yang memberi aku percakapan dengan Tuhan
Sepasang sayap buat meluncur terbang
Menggapai cahaya dimateraikan bagi nasibku
Cinta dan catatan suram
hingga lagulagu mendeting dari loncengmu
meringkusku ke ladang katakata
Memungut segala retak
Mendoakan yang luput diucap
Dan moga Tuhan menyebut namanama kita
sebagai firman di atas ladang para petani dan nelayan
Menguntum seperti mata fajar yang memanggil
Semangat tumbuh mengolah tanah menjadi berkat
Mengolah harapan menjadi petakpetak kegembiraan
Agar tak ada lagi yang merasa kehilangan waktu
Sebagaimana kekasih yang berharap punya satu pagi lagi
Agar tak ada yang mungkin menyangkal
Bahwa sejarah busuk memang tak memiliki musim semi
Kendati tak sedikit yang memilih menanak kemustahilan
Melanjutkan sesuatu yang tak abadi
Dengan senyuman atau tangisan
(Tak lama kemudian Lazarus tumbang oleh terjangan peluru. Bartolomius menolongnya. Lampu perlahan-lahan padam bersama jeritan kesakitan Lazarus.)
(Di lain hari, di ruang itu nampak hanya ada perabot yang sudah dimakan usia. Ada meja makan dekat pintu dapur yang terisi peralatan serba sederhana untuk makan minum sehari-hari. Di meja lain di sisi kiri ada buku-buku yang tersusun rapi tempat biasa Lazarus menulis.)
(Lazarus dengan tongkat penyanggah melintas ruang tamu sekaligus keluarga rumah tua miliknya bersama Elena itu. Sesaat ia berhenti dekat jendela dan menengok keluar. Elena sedang duduk di meja rias bercermin di sisi kanan ruangan. Ia sedang menyisir rambutnya.)
Lazarus:
Beruntung aku belum mati. Ini pagi yang sangat indah. Matahari bersinar, burung-burung riang bercanda di reranting pohonan.
Elena:
Seperti pagi sebelumnya. Selalu begitu, iya kan! Selain pagi yang masih itu-itu saja, seakan-akan tanpa kita sadari, dunia ini telah kehilangan tukang pos. Di masa lalu, hal yang paling ditunggu adalah surat yang diantar tukang pos. Orang-orang akan membaca surat cinta dengan dada berdegup, atau tertawa riang membaca surat sahabat pena yang penuh canda.
Lazarus:
Jangankan tukang pos. Generasi kini banyak tak tahu lagi cara menulis surat. Segalanya telah digantikan oleh mesin cerdas. Manusia telah kehilangan hal paling intim dan indah pada sisi kemanusiaannya. Ini akan menjadi malapetaka yang sulit dibayangkan di kemudian hari.
Elena:
Sebahaya apa dampaknya?
Lazarus:
Manusia akan mengalami kematian rasa kemanusiaannya, hidupnya akan dijajah dan dikendalikan oleh mesin. Manusia akan jadi makhluk yang tak berpikir.
Elena:
Tapi kau tak perlu turun ke jalan perlawanan lagi. Sudah saatnya kau memikirkan pekerjaan lain.
Lazarus:
Ada orang dilahirkan untuk memperjuangkan kebenaran, itu sebabnya perlawanan tak boleh mati.
Lazarus kemudian beranjak menuju meja buku. Ia duduk di depan meja kerjanya itu lalu menulis. Sesaat kemudian Elena bernyanyi.
Lagu Elena:
Ada burung belibis di pagar jembatan
Dan udara berbau soka
Begitulah cinta
Membersit dari laut kesepian
Di hari saat aku melintas
Pohonan melepas daun basah
ke dalam cuaca
Tuhan, aku tak mau mengubah sejarah
dengan kisah yang ingin kuceritakan.
Lazarus menimpali lagu Elena dengan melafalkan sebuah puisi:
Puisi Lazarus:
Tak semua manusia punya hari tua
Kecuali yang melindungi dirinya
Dan yang menjaga cinta
Sebagai anak tunggal keberanian
Di tengah kobaran api keinginan janggal
Yang memujimuji seperti pelayat
Di arena pesta duka
Dimana katakata ikut mati di pucuk lidah
Aku selalu ingin menulis
Bukankah penulis adalah prajurit
Ia yang berjuang menemukan ruang kesadaran
antara cinta dan sepucuk pestol
pada kisah yang membuat hukum diciptakan
Karena manusia bisa jadi pecinta dan senjata
untuk ciuman sekaligus luka
Hanya pada setiap perubahan cuacalah
aku mendapatkan penghiburan
terpana pada savana
Berlapis bukit dan gunung menjulang
pada matahari dan awanan berarak
Aku harus berpaling ke mana
Di tengah kesusahanku
Selain menempa kata menjadi nyawa
Bagi mereka yang bisu
Karena hanya dengan itu hatiku gembira
Entah ada suara musik dari mana, bisa jadi surga sedang bersenandung bersama mereka. Keduanya kemudian berdansa menikmati hidup mereka dengan mesra.
Elena:
Seperti apa hati penyair bernyanyi, sampai-sampai angin dan bebatu berkabung. Sejernih apa matahatinya hingga bisa menangkap rahasia tersembunyi. Sementara pada jalinan waktu antara hidup dan mati, satu-satunya milikku adalah sunyi.
Lazarus:
Pertanyaan sia-sia itu adalah saat kita memandang hidup tak lebih baik dari pada seorang pemulung yang mendapatkan berkah dari sampah. Dalam kedegilan itulah aku tersenyum. Karena tersenyum menyongsong kematian adalah saat-saat paling masyur dalam persahabatan dengan maut.
(Terdengar bunyi lonceng kematian bertalu begitu lambat. Lazarus dan Elena berhenti berdansa. Keduanya memilih duduk menikmati bunyi lonceng itu dengan perasaan gugup. Saat Lonceng berhenti, Elena bergumam memecah kesunyian.)
Elena:
Kabar kematian lagi.
Lazarus:
Jika orang tua mati sendirian, maka anak-anak akan kehilangan makna hidup. Sungguh, betapa pedih seseorang diambang kehancuran. Dia tak bisa lagi mendengar bintang-bintang bernyanyi. Dan jalan-jalan mengambang ke udara dalam hening menajam. Dia duduk seperti bait puisi tak pernah dibaca, malaikat-malaikat mencekiknya, bahkan saat ia sedang mengucapkan doa. Tersengal-sengal seakan seluruh dirinya robek. Terkulai di bawah langit bernyanyi itu. Dan suara-suara angin mengejek. Tapi bagiku setiap luka adalah lilin. Harus kunyalakan dengan api suci dari kata, dari mata pedang. Bukankah Tuhan pernah mati dan hidup kembali dalam tanda-tanda bahwa setiap eranglah yang membuka pintu surga untuk orang-orang kalah oleh dunia, namun menang oleh karena kebenaran.
Elena:
Mati di hari tua, adalah kematian paling sepi. Hanya kau yang mencoba mati dengan cara yang berbeda. Kau pikir ada yang mengenang penyair, dramawan dan aktor sepertimu?”
Lazarus:
Penyair tidak menulis puisi untuk dikenang, demikian pula dramawan dan aktor. Kehadirannya adalah berjuang menginsipirasi agar yang lainnya hidup. Dan aku selalu ingin menulis kendati menulis berarti bertengkar dengan kebahagiaan. Seorang penulis akan menulis sebagaimana ia bernafas, meski hidup tak adil untuknya. Ia harus mengatakan makna terdalam keheningan dan kebisingan. Seakan biografi air, menguap, menetes dan mengalir, agar seseorang tak sekadar menatap lembaran kosong pada catatan hidupnya. Atau pecinta kembali merasa apa yang diisyaratkan degup jantung dan yang dibisikan oleh bayu pada gerisik daun, sebelum ia layu, sebelum ia retak.
(Suatu hari, Bartolomius berkunjung ke rumah Lazarus dengan wajah muram setelah bertengkar dengan istrinya, Alice. Melihat kemuraman Bartolomius, Lazarus tertawa.)
Lazarus:
Bartolomius mari. Silahkan duduk. Apa yang membuat kau sedih kawanku.
Bartolomius:
Aku bertengkar dengan Alice. Dia tak memandang aku lagi. Ia ingin bercerai?
Lazarus:
Baru saja kita berdua lolos dari kematian. Kini kau terancam kehilangan istri. Begitulah seorang seniman harus hidup dalam kesabaran paling jenius. Karena itulah yang membedakan seniman dengan anjing. Dan kita berdua dilahirkan untuk tidak menjadi anjing. Tapi ditakdirkan berjuang bersama rakyat miskin.
Bartolomius:
Tinggal ada dua pilihan dalam hidupku Lazarus. Pertama, jadi perampok. Kedua, bunuh diri.
Lazarus:
(Tertawa.)
Hidup adalah sebuah partitur raksasa dan manusia tak lain cerminan semesta. Bartolomius, pernahkah engkau melihat seseorang sangat putus asa mengurungkan niat bunuh diri karena ia kasihan pada raut wajah anjing miliknya? Dalam kemungkinan tak terbatas, begitulah alam menyajikan jalinan peristiwa. Tak ada kebetulan dalam buku kehidupan. Maukah kau melihat venus saat matahari tenggelam? Pandanglah… betapa megah rahasia kesepian dipeluknya, tapi selalu ada jalan bagi siapa pun untuk bertemu. Karena kita bisa merangkai kereta atau sebuah payung menuju pengembaraan ke seluruh bentangan benua. Begitu alam mengajarkan kemungkinan tak terbatas itu.
Bartolomius:
Apa kunanti di sebuah kota paling hancur. Pada keluarga yang kacau. Hanya ada pintu dan sepi. Semua orang bertatapan sebagai tamu dan penjaga pintu. Begitu aku dan Alice istriku. Batas diciptakan seakan-akan karma. Dan manusia diperangkap derajat, kelas dan lambang-lambang yang harus direbut atau ditaklukan dengan ganas. Lihatlah rumah-rumah bersisihan tapi dipagari tembok. Itu menegaskan seakan sejak lahir manusia adalah pencuri. Makhluk yang harus diwaspadai, dengan anjing, dengan senjata angin dan tatapan suram kendati itu di pagi hari yang begitu tentram. Aku tak tahan lagi hidup sebagai seniman bahkan sebagai suami, Lazarus.
Lazarus:
Sejak seniman menjadi pewaris kesedihan, kesempatan kedua adalah bertahan di tengah kesepian. Pabila tak ada kelembutan dalam pendidikan, kita harus tangkas berperang, kendati itu sekadar untuk sebutir beras, sekerat daging, bahkan impian untuk menengok matahari rebah.
Bartolomius:
Di kota hancur ini, tak ada lagi benar-benar milik alam dan Tuhan. Segalanya disekat masing-masing kepentingan. Cinta paling tulus pun hanya ada dalam sepi yang teringkus.
Lazarus:
Bartolomius, bukankah cukup bila kita masih bisa bersepeda menyusuri jalan, rindang pohon kenanga di tepi laut tempat matahari mengikhlaskan malam mencecap asinnya. Kita bisa bergandengan tangan, berciuman dengan kekasih atau berkelakar hingga langit mendengar keramaian kita bahwa hidup sesungguhnya sesuatu yang riang. Lalu kita bisa berharap seorang bayi akan lahir dalam sejarah indah, dan engkau membesarkannya dengan senandung, air susu murni, dari penggalan ketela, dari sayur pakis diseduh darahmu dalam perasaan paling halus. O… Betapa nyaman impian itu Batolomius.
Bartolomius:
Kau selalu punya kata-kata untuk kota dan hidup yang hancur ini.
Lazarus:
Kau seniman hebat, seorang dramawan. Kalau Alice istrimu akan menceraikanmu karena alasan kemiskinanmu, jangan sedih. Sekali lagi jangan sedih, karena kau masih punya hal terhebat yaitu menulis. Kau harus menulis dari imajinasi liarlah ilalang pertama tumbuh dan gandum menyerupainya, lalu firman memperumpamakannya, seakan hidup dihuni dua wujud selalu mempertengkarkan dunia. Beribu-ribu tahun kemudian, ketika hakikat api telah dipahami, di sana
(Selesai)


Discussion about this post